"Loh, lampu kamar mandinya kok kamu matikan?" tanya seorang teman kantor, ketika suatu maghrib aku keluar dari kamar mandi mushalla di kantor.
"Sudah kebiasaan di rumah," jawabku spontan.
Mematikan lampu sehabis ruangannya dipake, terbilang pekerjaan sederhana. Istilahnya, anak balita pun bisa melakukannya. Tapi justru yang sederhana itu tidaklah mudah untuk diaplikasikan.
Mematikan lampu yang tak terpakai terbilang pengiritan listrik, betapa pun kecilnya. Di Indonesia, listrik sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil alias minyak bumi. Dan minyak bumi itu tergolong sumberdaya alam tidak bisa diperbarui. Kalau SDA ini lekas habis, bagaimana jadinya anak cucu kita? Think global dong.
* * *
Sekarang ini, orang-orang di kampungku dan kampung-kampung lainnya di seputaran Jabodetabek, sudah akrab dengan gergaji mesin (chain saw) --yang jadi "monster" bagi kelestarian lingkungan, khususnya hutan.
Pasalnya, gergaji bertenaga mesin dua tak ini begitu membantu pekerjaan mereka. Mulai dari menebang pohon di kebun, sampai "menyulap" batangan pohon --khususnya batang pohon nangka-- menjadi potongan-potongan kayu untuk talenan (alas untuk memotong). Dengan gergaji mesin, bikin talenan, bisa dilakukan sendiri, dalam hitungan menit, langsung jadi.
Tapi... di balik kemudahan ada kerusakan. Kebun, dengan gampang "diratakan" menjadi lahan kosong, yang kemudian dijual pada orang-orang kota (Jakarta). Sering terjadi, kebun yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun, dijual (biasanya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pemiliknya), dan pohon-pohonnya "dibantai" dulu.
Meski kebun itu milik sendiri, seandainya mereka menyadari, kalau pohon-pohon itu dibiarkan apa adanya. Karena sebagai penyuplai oksigen (O2), pohon-pohon itu jelas diperlukan mahluk hidup di dunia ini. Kalau setiap pemilik kebun menebangi pohon-pohonnya, apa jadinya dunia? Think global dong.
Mungkin, postingan ini terkesan seperti "anjing menggonggong" (kafilahnya terus berlalu). Tapi paling tidak, dengan terus menerus disosialisasikan, dan memulainya dari lingkungan terkecil kita, secara tidak langsung kita sudah "menyelamatkan dunia". Think globally, act locally.