.JPG?et=QSH4gH047CXVVUl23J9ZFQ&nmid=102307744)
Mirip pocong beneran kan? (apalagi matanya merem) [foto: bundaelly]
Bukan pocong seperti yang ada di film sih. Tapi pocong yang ini tidak seram sama sekali. Masih bisa ketawa, masih bisa melet, dan mejeng, kala difoto. Tapi tetep, dia nggak bisa bergerak. Maklum saja, tubuhnya kan dibalut kain kafan dan diberi lima ikatan.
Hebat euy, Ery bersedia jadi volunteer sebagai "camat" (calon mati). Karena bu guru dari Sekolah Juara ini bersedia jadi pocong --dikafani (tapi nggak dishalatkan, apalagi dikuburkan)-- kami jadi bisa belajar cara-cara mengurus jenazah. Penjelasan Ustadzah Anis, yang sudah berbagi ilmu dengan para multiplyers dan ibu-ibu pengajian, jadi makin membukakan wawasan bahwa kematian itu pasti, hanya soal waktu.
Buat Mbak Elly dan teman-teman, terima kasih atas undangan kopdar dan sharing ilmunya. 
Foto-foto selengkapnya.
Para "pelayat" [foto-foto: bundaelly]

Siap "dimakamkan". "Jenazah", pake senyum segala. 
