Jum'atan pun berbanjir-banjir dulu.
Waktu menunjukkan pukul 11.45 wib. Tapi orang-orang di kantorku, termasuk aku, belum juga berangkat jum'atan ke masjid. Pasalnya, hujan masih deras, dan genangan air (banjir) di jalan depan hingga halaman kantor, belum juga surut.
Akhirnya pendapat terbagi dua. Sebagian mendukung jum'atan diganti shalat dzuhur, sebagian lagi tetap jum'atan, dengan menempuh hujan dan genangan banjir.
Aku ikut yang pergi ke masjid, meski harus menyingsingkan celana panjangku. Ternyata, lumayan, air sampai lutut. Jadi, dengan memegangi lipatan celana panjang hingga di atas lutut, selamatlah celana panjangku dari jilatan air kecoklatan yang dingin itu.
Di masjid, jamaah jauh berkurang dari biasanya. Ditaksir, tinggal sekitar 3/4 dari kapasitas masjid. Maklum, banjir di mana-mana. Mungkin banyak orang yang mengalami halangan di jalan.
* * *
Berbanjir-banjir ini, mengingatkanku ke masa puluhan tahun silam. Waktu itu, aku masih duduk di sebuah SD negeri di Majalaya, Kabupaten Bandung. Meski SD-ku favorit untuk ukuran kotaku, SD-ku itu langganan kebanjiran.
Maklum, lokasinya persis di pinggir sungai selebar 10 meter. Sungai yang terus mengalami pendangkalan oleh lumpur dan sampah-sampah itu pun rajin mengirimkan sebagian debit airnya ke halaman, bahkan kelas-kelas di sekolahku.
Acara rutin jam belajar di waktu banjir pun berganti jadi bersih-bersih. Memindahkan air dari kelas ke luar, dan mengepel lantai.
Nah, banjir tadi siang di kantorku sudah mencapai tangga pertama menuju lobi. Pos Satpam pun sudah terendam lantainya. Syukurlah, menjelang sore ini banjir mulai surut. Jadinya, kalau pulang nanti, kendaraan bisa lewat dengan aman meninggalkan kantor.