Posted by Tian on Sep 16, '04 12:15 AM for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Imam Samudera
MENGAPA begitu banyak peristiwa pengeboman? Mengapa pula muncul kelompok militan yang nekat mengusung peledak high explosive? Dalam bukunya, Aku Melawan Teroris, Imam Samudera, 34 tahun, mencoba menjawab. Meski tulisan dalam buku ini merupakan catatan pribadi Imam, toh alasan yang diungkapkan paling tidak bisa mengisahkan ihwal kenekatan kelompok ini.

Pria asal Serang, Banten ini memulai penjelasannya dari paham keislamannya yang merujuk pada manhaj salafush-shalih. Paham ini --atau yang biasa disebut ahlussunnah wal jamaah- menurut Imam, berlandaskan langkah Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ajaran ini, dalam kehidupan sehari-hari, disesuaikan Imam dengan fatwa para ulama masa kini.

Misalnya, soal mengenakan cadar atau jilbab, Imam mengaku lebih pas dengan fatwa para ulama Saudi Arabia, seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Shalih Utsaimin, dan Syaikh Hamud At-Tuwaijiri. Untuk melindungi keluarga dari musik dan alat hiburan, selain berpegang pada Syaikh Muhaddits Nashiruddin Al-Albani, Imam juga tunduk pada fatwa ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia.

Sedangkan untuk urusan jihad, Imam Samudera menganut fatwa ulama mujahid yang pernah terlibat dalam medan pertempuran. Para ulama itu adalah Aiman Azh-Zhawari, Sulaiman Abu Ghaits, Usamah Bin Ladin, Dr. Abdullah Azzam, Maulani Mullah Omar, dan guru besar ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia, Hamud Uqola Asy-Syu'aby.

Meski begitu, Imam masih membuat perbandingan di antara fatwa jihad versi para ulama itu. "Aku mencari titik-titik persamaan selagi mungkin," tulis Imam Samudera. Jika tidak mungkin, Imam menilik dalil yang dipakai sang ulama. "Fatwa yang kuyakini lebih kuat, atau lebih mendekati kebenaran yang kupegang dan kuamalkan," tutur terpidana mati kasus bom Bali ini.

Teori ini, tutur Imam, sama dengan jika orang membutuhkan dokter. Kalau penyakitnya makin serius, dokter umum tak akan mumpuni. Perlu mendatangi dokter spesialis. Bagi Imam, "dokter spesialis" jihadnya adalah ulama mujahid tadi. "Mereka lebih mengerti, lebih menghayati, dan lebih pantas menjawab permasalahan umat Islam khususnya berkenaan dengan jihad," tutur Imam.

Dari sini, Imam memperoleh pengertian bahwa jihad, dalam sudut pandang syar'i berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan muslimin. Definisi ini, menurut Imam dikenal dengan sebutan jihad fi sabilillah. Musuh Islam itu, menurut Imam, sudah muncul sejak peristiwa pengkhianatan Mustafa Kamal Attaturk yang mengakibatkan runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah.

"Detik itu juga kemenangan dan kegembiraan Yahudi bersama salibis internasional membahana, karena memang itulah yang mereka harapkan," tulis Imam Samudera. Kemenangan musuh itu, berlanjut terus hingga sekarang dengan negara Amerika sebagai panglimanya, diikuti Israel, dan para sekutunya. Peristiwa berdarah --di mana kaum muslim menjadi korban-- seperti di Palestina, Perang Gurun, Serbia-Bosnia, Afghanistan, hingga kasus Irak, membuat semangat jihad Imam berkobar.

Menurut Imam, seperti yang diutarakan para ulama mujahid, kemuliaan akhirat hanya diberikan Allah kepada umatnya yang rela berkorban nyawa, mengangkat senjata, bertempur di jalan Allah. Surga tak akan terbuka bagi umat yang berpangku tangan melihat saudara sesama mukmin dibantai. "Runutan dari semua itu lalu berubah menjadi panggilan-panggilan, lalu berubah lagi menjadi panggilan suci," tulis Imam Samudera.

Lalu mengapa Bali? Mengapa pula sipil ikut menjadi korban. Dalam Aku Melawan Teroris, Imam Samudera memberikan penjelasannya mulai halaman 97 hingga 170. Intinya, untuk melakukan pengeboman di Amerika, Imam sadar posisinya sebagai buronan menyulitkan ia masuk ke negara itu. Maka dicarilah lokasi terdekat di mana para warga Amerika serta sekutunya, termasuk Australia, sering berkumpul.

Riset Imam dan kelompoknya mengerucut ke Bali, dan fokus lagi ke Sari Club dan Paddy's Cafe di Legian. Menurut Imam, warga dari belahan Barat dan Australia yang datang ke Bali bukanlah warga sipil biasa. Mereka adalah militer yang menyamar sebagai turis. Kesimpulan itu diambil Imam, lantaran meski ada travel warning, mereka berani datang. Hal ini musykil dilakukan sipil biasa, apalagi Indonesia ketika itu sedang digunjang berbagai pengeboman.

Kalaupun korban itu adalah bule warga sipil, Imam tak menyesali perbuatannya. Sebab, menurutnya, memerangi warga sipil dari bangsa penjajah merupakan tindakan wajar demi keadilan. "Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, dan sipil dibalas sipil," begitu tulisnya.

Sigit Indra
[Imam Samudera, Gatra Edisi Spesial beredar Selasa 14 September 2004]

Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help