AKU dan istriku harus senantiasa dalam keadaan waspada, siap siaga (alertness). Betapa tidak, kami berdua harus menjaga Fay, titipan Allah yang tidak bisa berhenti bergerak (kecuali saat tidur), sehingga harus dalam pengawasan ortu (atau salah satunya), selama 24 jam per harinya.
Saat tidur pun aku secara refleks sering terbangun di tengah malam atau dinihari, begitu mendengar tanda-tanda Fay terbangun -misalnya terbatuk-batuk (kalau sedang flu dan batuk), atau tanda-tanda lainnya, lalu datang menengoknya di kamar depan, barangkali perlu bantuan. Memang, Fay tengah belajar mandiri, tidur sendiri, karena sejak dilahirkan terbiasa tidur didampingi ortu.
Saat berada di tempat umum, keramaian (seperti pasar, pinggir jalan raya, dan mal), kami tak boleh sedetik pun lengah menjaga Fay. Caranya, kalau tidak memegang tangannya, ya mengawasinya dari jarak yang mememungkinkan untuk menjangkaunya, barangkali terjadi sesuatu yang tak terduga.
* * *
Dalam perjalanan ke tempat kerja, aku pun harus selalu waspada, tak boleh lengah sedetik pun. Betapa tidak, mengendarai kendaraan bermotor roda dua di jalanan Jakarta dan sekitarnya, sungguh besar resikonya. Jadi aku dituntut untuk selalu dalam kesadaran penuh di mana pun berada (kecuali di tempat kerja, sekali-kali ketiduran di depan komputer boleh lah
).
* * *
Kondisi waspada dan siap siaga ini dialami saudara-saudara kita di Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang mengalami musibah gempa bumi. Setiap saat, gempa susulan bisa mengguncang hunian mereka. Mereka harus siaga menghadapi kemungkinan rubuhnya bangunan yang mereka tempati, di samping harus melawan trauma gempa 5,9 SR, Sabtu 27 Mei 2006.
Doaku dan rasa simpatiku yang mendalam buat mereka. Semoga mereka tetap dalam ketabahan dan lindungan-Nya, serta senantiasa mengingat Sang Pencipta di mana pun berada. 