Tian's posts with tag: anak

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag anak
Posted by Tian on Apr 17, '08 6:37 AM for everyone

Beberapa hari lalu, istriku, dan ibu-ibu lain yang ada di warung belakang rumahku, sempat terheran-heran melihat menu makanan yang diberikan seorang pengasuh pada anak tetanggaku lain RT. Ternyata, anak berusia dua tahun itu disuapinya nasi campur kecap doang, plus krupuk warung!

"Dia mah gampang makannya. Pake kecap aja mau," ujar pengasuh, seorang ibu setengah baya itu, dengan nada bangga.

"Ibu (maksudnya, majikannya) sudah tau makan dengan kecap?" tanya istriku.

"Sudah," jawabnya, singkat. Ibu dan bapak anak tak ada di rumah seharian, karena sama-sama bekerja sebagai PNS di sebuah departemen. Kedua anak mereka dipercayakan sama pembantunya.

Duh, tampaknya ibu-ibu yang memiliki pembantu, musti berhati-hati dengan menu makanan yang diberikan pada anaknya. Apakah sudah cukup memenuhi standar makanan bergizi.

 


Posted by Tian on Feb 20, '08 3:56 AM for everyone

Bagi warga Depok dan sekitarnya, ikuti

 

Lomba Menggambar & mewarnai

 

Mewarnai kategori TK-SD Kelas 1-2

Menggambar kategori SD Kelas 3-4

Menggambar kategori SD Kelas 5-6

 

Tema: Aku Suka Membaca

 

Pemenang akan mendapatkan trophy, sertifikat, dan paket bingkisan hadiah.

 

Talkshow untuk ortu:

“Menumbuhkan Minat Baca Keluarga”

 

Bersama psikolog Reynawati Syachliana, S.Psi

 

 Minggu, 2 Maret 2008

 Pukul 11.00 WIB

Di Depok Town Square (Detos), Depok

 

  • Peserta diharapkan mendaftar di awal
  • Peserta diharapkan membawa alat gambar sendiri
  • Peserta diperbolehkan mengikuti kategori lomba yang lebih tinggi

 

Pendaftaran

Telp/ sms: Mimin 021.68190799

atau moderator@wrm-indonesia.org

atau di hari-H, pukul 10.00 – 11.00

 

Pendaftaran Rp 5000,-

Doorprize + snack

 

Salam,

We Are Mommies


 http://lombahutwrm.multiply.com/journal/item/13/LOMBA_MENGGAMBAR_MEWARNAI_TALKSHOW

Posted by Tian on Feb 16, '08 7:23 AM for everyone

Oleh-oleh seminar yang diikuti Ibunya Fay, tadi pagi di Depok... *)

Seorang siswa terlambat masuk sekolah. Lalu, guru memberinya hukuman, disuruh berdiri di depan kelas, sementara teman-temannya mengikuti pelajaran. Itu lazim kita temui, bahkan alami, sewaktu kita sekolah.

Hukuman lainnya yang lazim dilakukan, ditolak masuk kelas, dijemur di lapangan, disuruh lari keliling lapangan, melakukan push-up, bahkan ditempeleng atau dipukul.

Efektifkah jenis hukuman seperti itu?

Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist UNICEF, yang menjadi salah seorang pembicara seminar menilai, semua contoh di atas tidak akan menyelesaikan masalah. Malah sebaliknya, akan menambah masalah, karena hukuman itu tergolong bentuk kekerasan (fisik dan psikis).

Astrid, perempuan asal Filipina yang fasih berbahasa Indonesia itu menyebutkan, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kekerasan adalah "semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional ... yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, dan seterusnya."

"Kalau seorang siswa terlambat masuk kelas, kenapa tidak ditanya dulu, apa penyebabnya? Apakah ada hambatan di jalan? Apakah ada masalah?" ujar Astrid, yang lebih menekankan dialog antara guru dengan anak (termasuk orangtuanya), ketimbang memberinya hukuman.

 

Pendidikan Seks

Soal pendidikan seks usia dini, Astrid mencontohkan dirinya yang membekali anaknya yang akan berangkat camping bersama teman-teman sekolahnya. "Tubuhmu adalah sesuatu yang pribadi, yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun," ujarnya.

Menurutnya, saat camping, sangat rentang terjadi penyalahgunaan seksual oleh teman-teman sebaya, kakak kerasnya --satu jenis kelamin sekali pun-- misalnya dengan meraba-raba bagian tubuh yang sensitif, karena akan menyebabkan kecenderungan homoseksual. Dialog antara ibu dan anak yang dilakukan Astrid adalah bagian dari pendidikan seks usia dini.

Sedini apa?

Sejak umur dua tahun atau begitu anak bisa diajak bicara, si anak diajari fungsi-fungsi organ tubuh. Dimulai dari yang paling gampang, seperti "ini hidung, gunanya untuk mencium", "ini mulut, gunanya untuk makan", dan seterusnya.

Seiring dengan perkembangan usia dan pemahaman anak, pendidikan seks pun berkembang, dengan mengajari fungsi-fungsi organ seks. Namun Astrid menekankan, penamaan untuk organ seks itu harus benar, apa adanya. Misalnya, menyebut alat kelamin anak laki-laki sebagai "burung". Sebut saja penis. Karena penyebutan dengan istilah lain ini bakal menyebabkan kebingungan bagi si anak.

Jadi inget adegan film "Kindergarten Cop" yang dibintangi "governator California" Arnold Schwarzenegger. Seorang guru TK, mengajari murid-muridnya tentang pendidikan seks secara lugas (tapi terkesan tidak vulgar). Ia berseru, "Boys have penis, girls have vagina!" ---yang diikuti murid-muridnya.

Berbeda dengan "pendidikan seks" waktu Fay masih TK. Gurunya mengajari perbedaan anak laki-laki dan perempuan, hanya dari tampilan luarnya. Anak laki-laki berambut pendek, memakai celana. Sedangkan anak perempuan berambut panjang, mengenakan anting, dan memakai rok.

Sebuah tipikal yang di masa kini bakal membingungkan si anak. Ya, karena di zaman sekarang, perempuan bisa berambut pendek, mengenakan celana panjang. Sebaliknya, laki-laki mengenakan anting dan berambut panjang.

*) Seminar "Kiat Orangtua dan Guru Mencegah dan Mengatasi Kekerasan dan Pelecehan Seksual Terhadap Anak di Sekolah dan di Rumah" --kerja sama orangtua siswa (Komite Sekolah) dengan guru SDIT Ruhama, Sabtu, 16 Februari 2008, di Restoran Simpang Raya, Jl Margonda, Kota Depok. 

Foto: priangantimur.com


Posted by Tian on Jul 5, '07 3:47 AM for everyone
Link: http://gatra.com/artikel.php?id=105865

Seandainya ini terjadi di Indonesia... negeri kita bakal lebih makmur rakyatnya. Tapi, di Indonesia terjadi sebaliknya, siapa yang membatasi angka kelahiran, diberi penghargaan.

Mendongkrak Angka Kelahiran
Bonus 2.500 Euro bagi Setiap Bayi Lahir di Spanyol

Madrid, 5 Juli 2007 13:04
Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rondriguez Zapatero mengumumkan bahwa pemerintah akan memberikan bonus 2.500 Euro atau 3.980 dolar AS, bagi setiap bayi yang baru lahir. Demikian laporan media, Rabu (4/7).

"Spanyol, untuk mempertahankan kemajuan, memerlukan lebih banyak keluarga dengan lebih banyak anak," kata Zapatero kepada parlemen negaranya.

Bonus itu akan diberikan bagi semua bayi, termasuk yang lahir dari para imigran legal. Tujuan utamanya, meningkatkan angka kelahiran menjadi 1,37 anak per wanita.

Kebijakan keuangan untuk mendorong wanita melahirkan ini diberlakukan di beberapa negara di Eropa.

image: www.ferrum.edu


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help