Aku mencoba membandingkan kondisi transportasi di Bandung --kota asalku-- dan Jakarta --kotaku mencari nafkah sekarang.
Setelah sekian bulan (mungkin setahun) tak mencoba transportasi umum di Kota Bandung, aku kembali berhadapan dengan awak angkutan umum di Kota Kembang yang tampak sopan (maklum, orang Sunda, bahasanya "halus"), namun "mencekik".
Mulai dari tuslah (peningkatan tarif yang diizinkan pemerintah, khusus hari raya). Setahuku, tuslah hanya diberlakukan pada angkutan antar-kota yang melayani para pemudik (misalnya bus AKAP --antar-kota antar-provinsi).
Setahuku, di Jakarta angkutan kota, termasuk metro mini tak menaikkan tarif di hari Lebaran. Tapi di Bandung, angkot-angkot menaikkan tarifnya, ceritanya "tuslah". Bahkan ada angkutan AKDP --antar-kota dalam provinsi-- yang bukan di jalur mudik Lebaran, tak seragam dalam menerapkan tarif. Seperti minibus (biasa disebut "elf") trayek Bandung-Majalaya. Perginya Rp 4.000, pulangnya kena Rp 5.000. Ajaib!
Lebih ajaib lagi, angkot Kebon Kalapa-Cibaduyut --yang motong trayek hanya sampai Terminal Leuwipanjang. Jarak Leuwipanjang-Tegallega yang jaraknya sekitar dua kilometeran, harus bayar Rp 3.000, tanpa kecuali! (mana angkotnya dijejal, formasi penumpang 5-7, bukan 4-6 seperti umumnya di Jakarta). Sebagai perbandingan, mikrolet M-16 Pasar Minggu-Kampung Melayu yang jaraknya 10 kilometeran tarifnya hanya Rp 2.500 (kalau dekat, "tarif nego" alias lebih murah lagi).
Ada cerita lebih aneh bin ajaib lagi. Waktu aku naik angkot 05 (merah-putih) dari perempatan Moh Toha-By Pass - Term Leuwipanjang di Bandung, aku dapat info dari penumpang lain bahwa ongkosnya Rp 1.500.
Sesampainya di depan Term Leuwipanjang, aku pun membayar uang pas untuk tiga orang; Rp 4.500. Uang pun diterimanya. Ternyata, sopir yang fasih berbahasa Sunda itu minta Rp 6.000 (tuslah ni ye!). Aku pun mengeluarkan Rp 6.000, dengan harapan, Rp 4.500 dikembalikan lagi.
Ternyata... si sopir 05 itu pandai "bermain sulap". Hanya dalam tempo beberapa detik, Rp 4.500 itu dikembalikan jadi Rp 3.500 (untung dihitung dulu). Ya tentu saja, aku tagih lagi. Si sopir mulanya enggan mengembalikan yang Rp 1.000 kekurangannya. Lalu dia menyodorkan satu koin Rp 500. Aku tetap ngotot menagih Rp 500 lagi (maaf, untuk urusan ini aku ngotot). Dia pun dengan berat hati menyerahkannya. Padahal uang itu kan uangku juga.
Huh, Bandung, Bandung. Jangan tanya urusan taksi. Hanya satu kata untuk taksi Bandung; Brengsek! (kecuali, katanya sekarang ada taksi yang mau bermain cantik --oke aku sebut perusahaannya; Blue Bird dan GR/Gemah Ripah).
Ups. Mumpung masih dalam suasana Lebaran. Maaf lahir batin atas segala keluh kesahku yang kurang berkenan. Semoga kita semua diberi petunjuk. 