Tian's posts with tag: bahasa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bahasa
Posted by Tian on Jul 24, '07 10:42 PM for everyone

Di tiga kaset terbaru, masing-masing kelompok musik GIGI, Dewi Dewi, dan penyanyi remaja Sherina, aku menemukan kata "merubah" pada salah satu syair lagu mereka. Kedengarannya sekilas sih tak ada yang keliru dengan kata itu.

Sebenarnya, kata merubah ini bisa membingungkan. Coba saja kita bedah. me sebagai awalan, dan rubah sebagai kata dasarnya. Tapi ini bisa diartikan, "menjadi rubah".  

Padahal yang dimaksud kan bukan itu. Yang benar adalah mengubah (dengan me sebagai awalan, dan ubah sebagai kata dasar). Nah, kalau kata "berubah" memang tidak rancu, karena kata dasarnya ubah, ditambah awalan ber.  

Soal penggunaan bahasa rancu "merubah" ini, terus terang, belum lama ini saya lakukan. Sekitar tahun 2000, redaktur saya, waktu saya masih bekerja di sebuah harian, Arief Tritura (halo Arief, di manakah kau berada sekarang?) mengingatkanku akan kesalahan penggunaan kata "merubah" ini. Dan teringatlah sampai sekarang.

Juga soal penggunaan sisipan untuk kata satu suku kata, seperti bom, pel, bor, terus terang juga, aku diingatkan oleh Ira Koesno --mantan anchor alias presenter SCTV yang beken. Di sebuah forum diskusi bahasa, ia mengatakan bahwa kata "bom" kalau dijadikan kata kerja menjadi "pengeboman", bukan "pemboman". Demikian pula dengan pel (pengepelan), dan bor (pengeboran) --diberi sisipan nge.

Ah, sebenarnya sih, belajar bisa dari siapa saja. Termasuk dari anda semua.  


Posted by Tian on Feb 27, '07 4:25 AM for everyone
Link: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/27/0201.htm

Ini baru top markotop. Bandung akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS). Namun pembangunannya masih terkendala akses jalan, yang diusahakan tak melewati permukiman penduduk (akan mendatangkan penolakan).

Karena itu, pemerintah setempat sedang menunggu izin Departemen Pekerjaan Umum untuk membuka akses dari jalan tol (Padaleunyi) menuju lokasi.

Alternatif akses ke lokasi pabrik sampah yakni di KM 151 dan KM 149,4 ruas tol Padaleunyi.

“Kita harus bisa meyakinkan bahwa memang PLTS satu-satunya cara untuk menanggulangi masalah sampah dan lokasi itulah yang tepat,” ujar Sugiarto, Staf Ahli Wakil Rektor Bidang Komunikasi Internal ITB .

April rampung
Menurut Sugiarto, perjanjian kerja sama projek studi kelayakan PLTS antara ITB dengan PT BRIL dijadwalkan selesai 4 April 2007.

Studi itu mencakup dua aspek, yaitu studi kelayakan teknologi dan studi kelayakan ekonomi.


Berita terkait: Sampah Kembali Menumpuk

Foto: PR/Feby Syarifah

Posted by Tian on Nov 8, '06 9:39 PM for everyone

Pada suatu hari, menjelang Pilkada di sebuah daerah, seorang kandidat pimpinan daerah, dengan berbusa-busa berpidato di hadapan konstituennya.

"Pokoknya, nanti di sini kita bikin pabrik tektil, sodara-sodara." Massa pun bertepuk riuh.

Setelah lima kali menyebut-nyebut kata "tektil", pembisik pejabat itu mengingatkannya dengan sedikit berteriak, "kurang S, Pak..."

Sang tokoh pun sigap tanggap, "Ya, sodara, bukan cuma tektil, nanti pabrik es juga bakal kita bikin...  

Itu sekadar ilustrasi betapa korupsi sudah membudaya di negeri kita, termasuk "korupsi berbahasa".

* * *

Ed Zoelverdi (jurnalis senior, penulis buku Mat Kodak Melihat untuk Sejuta Mata, 1985), pada "Kolom" di  Gatra No. 51, mencatat beberapa kekeliruan dalam penggunaan bahasa sehari-hari (creole/kreol);

  • Sekarang ini istilah "konsumerisme" (consumerism) sering disebut untuk mengecam sikap hidup boros. Padahal, dari sono-nya, konsumerisme adalah gerakan untuk melindungi konsumen.
  • Juga istilah "konsumtif", untuk menunjukkan perilaku hidup boros. Padahal, kalau kita buka kamus, consumptive secara harfiah berarti "penderita sakit paru-paru alias TBC".
  • Di gardu tukang parkir biasanya tertulis kata: "retribusi parkir". Padahal, ketika dibuka kamus, yang ada adalah istilah restitusi, bukan retribusi.
  • Sering pula istilah "semena-mena" digunakan sebagai padanan kata "sewenang-wenang". Padahal, padanan kata sewenang-wenang adalah tak semena-mena.
  • Sama seperti ungkapan "acuh tak acuh", sinonim dari tak peduli. Kini dengan enteng disebut acuh (maksudnya, tak peduli). Padahal, di kamus bahasa Indonesia, acuh berarti peduli.
  • Lebih gawat lagi, kalau orang melafalkan baby sitter (perawat bayi) sebagai baby sister (saudara cewek bayi).  

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help