Tian's posts with tag: bensin

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bensin
Posted by Tian on May 6, '08 3:16 AM for everyone

Presiden SBY menyatakan, harga bensin (premium) --bahan bakar minyak yang disubsidi pemerintah-- dipastikan bakal naik. Hanya saja, kapan mulai dinaikkan, belum ditentukan.

Menurut perhitungan yang ditayangkan sebuah televisi swasta, premium, yang harga per liternya Rp 4.500, bakal dinaikkan jadi Rp 6.000 (plus kompensasi kenaikan BBM buat orang miskin).

Di tingkat SPBU, hingga hari ini premium masih dijual Rp 4.500 per liter. Tapi tengok pedagang-pedagang bensin eceran. Mereka, yang biasanya menjual Rp 5.000/liter (mengambil keuntungan Rp 500/per liter), kini dijual Rp 5.500 sampai Rp 6.000 per liter.

Seperti kemarin sore, waktu aku beli bensin di Kampung Baru, Ragajaya, Kab. Bogor, bensin per liternya sudah Rp 6.000.

Menurut keterangan orang kampung, para penjual bensin eceran menaikkan harganya, sebagai kompensasi sulitnya mendapatkan bensin di pom bensin.

"Sekarang ketat, Pak. Beli bensin pake jeriken sudah dilarang," kata salah seorang tetangga kampung. Tapi bukan Indonesia namanya, kalau tak bisa diakali.

Para penjual bensin eceran sekarang harus "bergerilya" kalau mau berbelanja. Subuh-subuh mereka sudah memacu sepeda motornya ke pom bensin terdekat, dan tentu saja, plus uang tip bagi petugas pom bensin, agar meloloskan bensin jerikenan.

"Belum lagi razia polisi. Kalau polisi melihat ada motor bawa jeriken, langsung dihentikan," kata tetangga tadi.

Jadi, untuk menanggung resiko sulitnya mendapatkan pasokan bensin, dan resiko kena razia polisi, pedagang bensin eceran menaikkan harga dagangannya.

Kalau nanti bensin sudah resmi naik jadi Rp 6.000? Entah jadi berapa ribu rupiah bensin eceran bakal mereka jual. Yang jelas, rakyat jelata, termasuk saya, istri saya, bakal terkena imbasnya --langsung maupun tidak langsung. Perekonomian rasanya jadi makin "besar pasak daripada tiang."
 


Posted by Tian on Apr 9, '08 1:17 AM for everyone

Sepulang dari rumah Om Hanif di Kedung Halang, mengantar abon-dendeng pesanannya, dari Jalan Pemda Cibinong, aku belok ke akses jalan Cilodong. Pas di ujung Perumahan Grand Depok City (d/h Kota Kembang), ada satu pom bensin (SPBU -stasiun pengisian bahan bakar umum) baru, bernomor 34-16414.

Begitu mematikan mesin motor di salah satu pompa yang saat itu sedang sepi, petugas pompa --seorang lelaki muda berbaju warpack merah-- dengan ramah membantu mendorongkan motor sampai tepat berada di depan pompa bensinnya.

"Premiumnya mau ngisi berapa liter, Pak?" tanyanya ramah.

"Sebentar, saya lihat dulu," jawabku, seraya membuka jok dan tutup bensin. (Maklum, petunjuk pengisi motorku sering ngawur. Jadi aku lebih percaya mengeceknya langsung di tangkinya). Setelah mengintip posisi bensin, aku bilang, "7.000 saja."

"Bensin 7.000, dimulai dari angka nol ya?" kata petugas itu.

"Enak ya, angin sejuk gini," kata pemuda itu, seraya tak lepas dari senyumnya.

Aku yang tadinya tak begitu menghiraukan kata-kata pembuka petugas itu, akhirnya merespon juga, "iya, ya."

Ternyata, meski langka, masih ada petugas SPBU Pertamina yang berusaha melayani konsumennya dengan sepenuh hati. Aku pun jadi percaya, nggak usah lagi melihat angka yang tertera di monitor digital, apakah benar-benar menunjukkan 7.000 atau tidak.

*Kebalikan dari pelayanan SPBU Pertamina di Kebon Nanas (dari arah Cawang, sebelum pertigaan Jl Kol Sugiono/Casabanca) yang kumuh dan kuno, kemarin. Selain itu, petugasnya mencurangiku, dengan menarik nozzle selang bensin, sebelum bensin di dalamnya benar-benar kosong.


Posted by Tian on May 9, '07 1:13 AM for everyone

Tadi pagi, aku ngisi bensin di SPBU Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebelah kantor PDIP --di bagian sepeda motor.

Pengalaman buruk (di pom bensin Pertamina) kembali terulang: dengan tangannya si operator menghentikan "lever" (contoh lever, lihat foto), begitu monitor menunjukkan angka yang diminta. Padahal, seharusnya bensin di "nozzle" dibiarkan sampai tetes terakhir, barulah "lever" ditutup, bersamaan dengan ditaruhnya "nozzle" di tempatnya.    

Begitu dicek, tangki motor masih belum penuh. Padahal menurut perkiraan, tangki seharusnya penuh.

Itu baru yang nampak di depan mata. Belum lagi kecurangan lainnya, seperti mengakali takaran/meteran bensin, juga pengoplosan (mencampur premium dengan bahan lain yang lebih murah, seperti kerosin/minyak tanah).

Aku sudah mem-blacklist beberapa SPBU, yang menurut pengalamanku, melakukan hal serupa, seperti SPBU di Sawangan, dekat komplek Arco Sawangan (lihat postingan ini), dan SPBU baru di Pancoran (kalau dari arah Ps Minggu, SPBU terakhir sebelum perempatan Tugu Pancoran).

Juga ada blacklist SPBU curang versi Tim Terpadu, yang melakukan razia di sejumlah SPBU di Jabodetabek, seperti dimuat di jurnalnya Uthe, yang sumbernya dari Liputan 6 SCTV.

Top!

Tunggu dulu. Tak semua pom bensin Pertamina melakukan tindakan tercela. Berdasarkan pengalaman, SPBU baru di Beji, Depok, justru melakukan tindakan terpuji --kira-kira pelayanannya setara dengan pelayanan pom bensin Shell.

Misalnya, mengatakan, "dimulai dari angka nol ya Pak?", dan ucapan "terima kasih" --yang kedengaran sepele namun penting dalam pelayanan publik. Selain itu, pom bensinnya pun baru.

Tentu saja, masih banyak SPBU-SPBU Top lainnya di Jabodetabek ini (dan kota-kota lainnya).

Selamat berburu SPBU Top!

 


Posted by Tian on Mar 8, '07 7:57 AM for everyone

Menurut pengalamanku sih, iritan Pertamax. Loh, kok bisa? Padahal harga Pertamax (berfluktuasi, tapi sekitar Rp 4.750-4.900/liter), jelas lebih mahal dari Premium (Rp 4.500/liter). --> masih lebih murah Pertamax dibanding bensin kampung (Rp 5.000/liter).

Itu karena Pertamax oktannya tinggi. Jadi tanpa bukaan gas terlalu besar, kendaraan sudah ngacir. Hasilnya, efisiensi. Efisiensi yang lumayan, selain dapat manfaat tenaga mesin yang enteng.

Bagaimana pengalaman Anda?

* Baca pula ujicoba komparasi keiritan Premium dan Pertamax di Tabloid Otomotif terbaru (diujicobakan pada Kijang Innova).

image: hawaii.gov


Posted by Tian on Jun 15, '06 12:35 AM for everyone

Sekadar berbagi pengalaman...

Rabu malam, aku kesal pada petugas SPBU Pertamina Sawangan, Depok (dekat pertigaan Arco Sawangan-Parung Bingung) khusus motor, yang coba-coba mengorupsi bensin untuk motorku. Saat angka digital pompa bensin menunjukkan angka sesuai yang diminta, petugas itu (laki-laki) langsung menutup lever (cantelan nozzle -lihat gambar) dengan tangannya, sementara ujung nozzle masih di tangki motor. Akibatnya, pasokan (sisa) bensin yang melewati selang dan nozzle terhenti seketika.

Kejadian kedua, siang ini di SPBU Pertamina Buaran, Jakarta Timur (di Jalan Radin Intan) -juga khusus motor. Modusnya sama. Petugas (juga laki-laki) menyetop aliran bensin, begitu angka menunjukkan angka akhir. Padahal, seharusnya nozzle dibiarkan mengucurkan bensin hingga tetes terakhir.

Bensin yang tekor tampaknya nggak seberapa (cuma beberapa cc). Tapi coba bayangkan, seandainya praktek mengurangi takaran itu dilakukannya berulang-ulang pada ratusan motor (atau mobil), setiap hari?

Mudah-mudahan kita semua terhindar dari laknatullah akibat mengurangi takaran. Naudzubillahi min dzalik!   

*Catatan:

- berdasarkan pengamatan, belum pernah petugas SPBU perempuan melakukan praktik kotor seperti ini.

- kalau begini caranya, bagaimana SPBU Pertamina bisa bersaing dengan kompetitornya (Shell dan Petronas)?  

Foto: contoh nozzle dan lever



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help