Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Mungkin peribahasa lama ini cocok untuk menggambarkan Yim Pek Ha, saat menghadapi sidang pengadilan di Kuala Lumpur Malaysia. Majikan Nirmala Bonat berusia 39 tahun ini, sambil terisak-isak curhat pada hakim Akhtar Tahir, bahwa dirinya mendapat perlakuan tak menyenangkan dari polisi yang memeriksanya.
Menurut terdakwa penyiksa Nirmala Bonat (19 tahun), pekerja rumahtangga asal NTT, Indonesia ini, polisi sewaktu pemeriksaan, sempat mengecam dirinya, dengan mengatakan, "You are going to hell!" Selain itu, di hari pertama ia ditahan di kantor polisi, katanya, ia tak diberi makan. Namun di hari berikutnya, masih menurutnya, seorang polwan berbaik hati kepadanya, dan mengizinkannya bertemu dengan suami, anak-anak, dan keluarganya.
Kepada hakim, Yim beralasan, tindak penyiksaan (yang luar biasa) itu dilakukan, karena Nirmala seorang yang nakal, sering mencuri barang-barang majikan, dan pernah ketika disuruh membersihkan ruang tamu, malah tidur dalam keadaan telanjang bulat di tengah hari. Nirmala juga, masih versi Yim, suka berjanji akan minum air kotor dan air kencingnya sendiri jika dia berbohong. Namun, ketika ditanya hakim apakah ia pernah melihat Nirmala melakukan itu, Yim mengelak, dengan mengatakan, "tidak tahu dan tidak ingin tahu apakah pembantunya melakukan itu."
Oo... ternyata peribahasa "sesal" itu tampaknya tidak cocok untuk menggambarkan sikap Yim. Karena tak tampak bahwa ia menyesal telah melakukan tindakan pelanggaran HAM itu.
Kini lihat akibat dari penyiksaan yang tidak terperi itu:

Artikel terkait:
Majikan Nirmala Bonat Disuruh Go to Hell
An example of how Domestic Helpers are abused