Setahuku, guru itu tempat bertanya para muridnya. Tapi di sekolah anakku, gurulah yang sering bertanya, murid-murid menjawabnya. 
Setidaknya, itulah yang nampak waktu perjalanan dan selama berada di Kebun Wisata Pasir Mukti.
Misalnya saat dalam perjalanan dengan bus, melewati pasar. Pak Guru bertanya pada murid-muridnya yang masih kelas 1 SD itu:
"Apa beda pasar tradisional dengan pasar swalayan?" tanya Pak Guru.
"Pasar tradisional becek, pasar swalayan tidak," jawab seorang murid.
"Di pasar tradisional banyak lalatnya, di pasar swalayan nggak ada," jawab murid lainnya.
"Di pasar swalayan boleh nawar nggak?" tanya Pak Guru.
"Tidak boleh!" jawab murid serempak.
"Di pasar tradisional?" tanya Pak Guru lagi.
"Boleh!" jawab murid lagi.
Begitulah komunikasi yang terjalin antara guru-murid di sekolah anakku, dan pembelajaran lewat tanya-jawab. Akrab dan egaliter. Malah, panggilan murid sendiri tidak disebut "murid", melainkan "teman-teman kecil". Jadi, guru berperan sebagai teman.
Contoh lainnya. Seorang "teman kecil" (maklum, bagaimanapun anak-anak), berbicara keras-keras, bahkan berteriak-teriak.
"Kalau K (inisial nama "teman kecil" itu) berbicara keras, kedengaran nggak suara yang Pak Guru lagi bicara?" tanya Pak Guru.
"Tidaaak!" jawab "teman-teman kecil".
"Jadi, seharusnya, bicara pelan apa keras-keras?" tanya Pak Guru lagi.
"Pelan-pelaaaan!" jawab "teman-teman kecil" dengan kerasnya. 
Yah, begitulah kira-kira suasananya.