Teman-teman kampusku memanggilnya Bu Tunduh. Nama sebenarnya kami tak tahu. Julukan "tunduh" (artinya ngantuk, Bhs Sunda) itu kami berikan karena matanya yang seperti ngantuk (inget aktor Herman Ngantuk?).
Meski beliau bukan termasuk jajaran civitas academica kampusku, tapi Bu Tunduh sungguh besar jasanya bagi kami, para mahasiswa yang berkantung cekak ini.
Betapa tidak, Bu Tunduh sehari-hari berjualan nasi gule (gulai) di depan Perpustakaan Unpad Dipatiukur. Sepiring (waktu itu, awal 1990-an) Rp 450. Kalau nasi plus tempe saja hanya Rp 300.
Nah, dasar bener-bener tongpes, kami biasanya membeli tempe, lalu minta ditambahin kuah gule. Entah disengaja atau tidak, Bu Tunduh biasanya menyendok kuah gule plus sedikit dagingnya. Lumayan! 
*Bu Tunduh pernah juga aku dengar suaranya di Radio Mara, Bandung, saat profilnya disiarkan radio itu. Maklum, reporter yang mewawancarainya juga temenku juga, si Al, yang juga pelanggan setia Bu Tunduh.
Gimana, Hagi, Item (teman-teman seperjuangan lainnya nggak ikutan MP), masih ingatkan kalian?