Tian's posts with tag: buku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag buku
Posted by Tian on Dec 14, '07 11:11 PM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=110321

BAHAGIAKAN DIRI DENGAN SATU ISTRI
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Intermedia, 2007, xxxi + 278 halaman

Sedari awal, Ustad Cahyadi Takariawan menekankan, ia menulis buku ini bukan dalam rangka menolak hukum atau ajaran Islam tentang poligami. Yang ia tolak adalah praktek poligami itu sendiri. Sebab banyak fakta dan kasus poligami yang menghancurkan institusi keluarga, khususnya perempuan dan anak.



Posted by Tian on Dec 10, '07 1:49 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ada tujuh judul buku baru. Salah satunya, membantu Fay belajar juz amma, karena disajikan dengan sangat menarik. Salah duanya, menambah wawasan dan hiburan bagi segenap anggota keluarga. Terima kasih, Tante Mimin dan Kak Ian. :)

*Eh, ada buku dengan tataletak karya Tante Orinkeren juga loh. :) [Repro by Aryo]

Posted by Tian on Jul 2, '07 2:14 AM for everyone

Horee, aku jadi fans pertama yang menandatangankan novel Quardrangle pada sang pengarang, Nadiah Alwi, yang Jum'at malam itu sedang berbahagia, di acara peluncuran novel perdananya itu. Di novel setebal 104 halaman hadiah dari panitia, tergores tanda tangan Nad, dengan pesan "Mas Tian, happy reading... Thank's buat supportnya."

Acara peluncurannya sendiri bertepatan dengan Festival Buku Diskon 2007, di Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 29 Juni 2007. 

Malam itu, aku datang sebagai peliput (dari Gatra.com), ya juga sebagai rekan sesama MPer.

Pada sesi tanya-jawab --yang dimoderatori MPer juga, Rida-- Moch Husni, MPer yang duduk sebelahku, mengajukan pertanyaan seputar cinta --yang jadi tema novel ini, dan upaya penulis dalam melakukan riset tentang hal ini. Lalu, aku melontarkan kekagumanku terhadap penulis novel yang menguasai multi-bahasa ini (Prancis, Italia, dan Inggris).

Betapa tidak, dia menulis novel yang berlatar belakang Kota Paris, Prancis, tanpa sekalipun ia pernah singgah, apalagi bermukim di sana. Tapi lewat imajinasi dan korespondensi dengan teman-temannya (termasuk MPer) yang bermukim di sana, Nad berhasil menghidupkan suasana Kota Paris, seperti dia mengalaminya sendiri.

Kedua, Nad menerbitkan novel perdananya ini secara indie alias independent. Lewat Quadbooks, Nad dan keluarganya mengupayakan sendiri penerbitan novel yang sudah ditulisnya sejak tiga tahun lalu itu. Mulai dari setting (tata-letak), perwajahan (cover), hingga pencetakan dan pendistribusian. Betul-betul "nekad".  

Ah, segini dulu catatan sebagai fans-nya. Soal penilaian atas isi novel yang mengisahkan tentang "cinta segiempat" (diistilahkan quadrangle) ini, silakan teman-teman membacanya sendiri, dan menilainya.

*Ternyata "dunia ini memang sempit". Di acara peluncuran buku yang dihadiri rata-rata kaum muda itu, aku ketemu beberapa MPers. Selain moderatornya, juga salah seorang pembicara pada bedah buku ini, Yoshi, selain moderator Milis Bunga Matahari, juga seorang MPer. Oya, aku juga ketemu Rani (Al-Farani), sohib Nad yang ikut jadi korektor di novel ini.  

image: http://quadbooks.blogspot.com/


Posted by Tian on Feb 23, '07 3:25 AM for everyone

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan

yang kedua dilahirkan tapi mati muda,

dan yang tersial adalah umur tua.

Rasa-rasanya memang begitu.

Berbahagialah mereka yang mati muda

(Soe Hok Gie, 1942-1969)

Itulah puisi kesayangan Soe Hok Gie, aktivis Angkatan 66. Dan cita-cita adik kandung Arief Budiman (Soe Hok Djien) itu ternyata kesampaian. Saat usia 27 tahun kurang sehari, ia tewas terkena gas beracun di Puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.

Ia bahkan pernah mengatakan, "orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur." Dalam beberapa kesempatan, Hok Gie selalu mengaku bingung. Baginya, masa depan adalah sebuah hal yang misterius.

"Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa lalu mencoba meneror dunia? Atau sebagai seseorang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari yang terbit? Saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini."

(Dikutip dari buku Zaman Peralihan, kumpulan tulisan Hok Gie di media massa dan dokumen pribadi, Bentang, Yogyakarta, 1995).

Kesan pribadi setelah membaca kumpulan tulisan Hok Gie, aku menganggap tokoh muda ini masih "cling", idealismenya masih kencang, dan belum tercemari oleh kotornya dunia politik saat itu.

Dia turut menumbangkan rezim Soekarno dan mengganyang PKI dan antek-anteknya, namun dia juga mengkritik pemerintahan baru Soeharto yang membantai siapa saja yang dicurigai anggota PKI atau terlibat G30S.

Dia juga mengkritik rekan-rekan seperjuangannya di KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), yang di awal Orde Baru, menjadi anggota DPR GR (Gotong Royong), lalu ikut meributkan fasilitas mobil Holden --mobil mewah saat itu.

Hok Gie lebih suka para aktivis mahasiswa tetap menjaga jarak. Setelah perjuangannya selesai, ia tak ingin terlibat dalam pesta pora kemenangan. Ia siap dengan tantangan lainnya. Entahlah, seandainya Hok Gie berusia panjang, apakah dia tetap dengan idealismenya, atau sama dengan yang lainnya? (Merujuk pada tokoh-tokoh Angkatan 66 yang pernah atau kini  masih jadi pejabat).

*Kesan singkat setelah membaca Zaman Peralihan  

Foto: Soe Hok Gie di antara kawan-kawannya (Wikipedia).

 


Posted by Tian on Feb 7, '07 6:31 AM for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:John Steinbeck [peraih Nobel Sastra]
Tentang impian "anak kecil dalam badan seorang pria dewasa". Menunjukkan pada kita, bagaimana jadi sahabat sejati.

George, pria bertubuh kecil, tak pernah jauh dari Lennie, temannya yang bertubuh besar, bahkan "raksasa". Lennie, meski memiliki tenaga "sekuat banteng", otaknya sederhana. Ibaratnya, anak kecil dalam balutan tubuh pria dewasa.

Mereka berkelana dari satu peternakan ke peternakan lainnya, di Lembah Salinas, California, Amerika Serikat, pada 1930-an, untuk bekerja sebagai buruh. Mereka tak punya apa-apa selain impian memiliki rumah kecil, sebidang tanah pertanian, dan ternak kelinci.

Namun, di mana pun mereka berada, Lennie, yang terlalu baik hati dan berpikiran polos seperti anak-anak, selalu membikin masalah. Ia tak mampu mengendalikan diri, baik emosi maupun kekuatannya yang luar biasa, sehingga tak jarang menjadi korban kekejaman orang lain.

Satu kebiasaan Lennie yang susah dihilangkan; mengelus-elus sesuatu yang lembut, seperti bulu tikus, bulu kelinci, bahkan rambut wanita. Hanya mengelus-elus. Tidak lebih. (Seperti saat George memergoki Lennie mengantongi seekor tikus mati. Lennie beralasan, ingin terus mengelus-elus bulu tikus yang lembut itu --tanpa mengenal jijik atau penyakit yang mungkin ditimbulkannya).

Kebiasaan aneh inilah yang membuatnya sering terjebak masalah. Seperti saat Lennie memegang erat-erat gaun merah lembut yang dikenakan seorang gadis, hingga baju itu koyak, dan si gadis berontak, lalu mengadukannya dengan tuduhan percobaan perkosaan.

Tapi George bisa membawa kabur Lennie, sekaligus mencari tempat peternakan baru untuk mencari uang dengan menjual tenaga.

Tiba di sebuah peternakan di Lembah Salinas, mereka pun bekerja di sana, dengan harapan, bisa mengumpulkan uang untuk mewujudkan cita-citanya itu. (Cita-cita Lennie sederhana saja: memiliki kelinci peliharaan untuk dielus-elusnya).

Tapi apa daya, masalah demi masalah menghadang mereka. Mulai dari Curley, anak bosnya yang sok jagoan, sampai istri Curley yang genit, dan minta perhatian dari pria mana pun di peternakan itu. Hingga terjadilah insiden tewasnya istri Curley di tangan Lennie...

Dapatkan George menyelamatkan Lennie dari kemelut ini?

Salah satu buku karya John Steinbeck, peraih hadiah Nobel Kesusastraan, yang terkenal dan paling populer.

Of Mice and Men (entah kenapa, ejaannya begitu :P), yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ini, adalah buku yang asik untuk anda baca. :)

Foto cover: repro Aryo Budhi Utomo


Posted by Tian on Feb 1, '07 7:10 AM for everyone

Ditodong Kang Denny (http://dbaonk.multiply.com). Ternyata, setelah diingat-ingat, ada juga buku yang kubaca.  

 

 

Book that change your life

Al-Qur'an. Buku lainnya, kayaknya nggak ada deh sampe sebegitunya. Tapi yang ini spesial, namanya juga Kitab Suci. :D  

 

Book you've read more than once

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Inggris-Indonesia (WJS Poerwadarminta, dkk), Kuantar ke Gerbang, Biografi Bung Karno (Ramadhan KH). Nggak bosan-bosan biar dibaca terus. Mangan Ora Mangan Ngumpul (Umar Kayam).  

 

One book you'd want on a desert island

Jurassic Park: The Lost World  (Michael Crichton). *Halah, Catatan Harian Seorang Demonstran, Biografi Soe Hok Gie.

 

One book that made you laugh

Gelenyu (R Ijeng Wiraputra), buku kumpulan humor dalam Basa Sunda. Cerita Si Kabayan misalnya, siapa sih yang nggak ketawa saat membacanya? (asal ngerti bahasa Sunda aja). Dan banyak lagi cerita humor lainnya –yang bikin saya ngakak sendirian. Hus! 

 

One book that made you cry

Snow Flower (Lisa See, Qanita 2006). Betapa tidak, saat membaca dan mengetahui, bagaimana perempuan muda bangsa Cina di masa lalu ditindas oleh aturan yang berlaku saat itu: pengikatan kaki. Untuk mencapai bentuk kaki –yang dikatakan sempurna—seperti bentuk bunga lotus/teratai, kaki itu harus diikat sampai patah tulang-tulangnya, menghasilkan bentuk kaki yang sangat mungil, yang tak jarang merenggut nyawa pelakunya.

 

One book you wish you'd written

The Lord of The Rings (Tolkien). Khayalan yang spektakuler (karena detail dan tampak nyata) dari seorang Tolkien. Buku epik peperangan manusia dengan ras lainnya, yang dimenangkan berkat persatuan dari semua ras yang cinta kebenaran.

 

One book you're currently reading

Sri Sumarah (Umar Kayam, Pustaka Jaya), Warisan (Chairul Harun, PJ), Perang dan Kembang (Asahan Alham, PJ), Hulubalang Raja (Nur St. Iskandar, Balai Pustaka), Royan Revolusi (Ramadhan KH, Gunung Agung), Gadis Garut (Abdullah Assegaff), dan banyak lagi. Hehehe. Ternyata, belakangan ini aja doyan baca. :P   

 

One book you've been meaning to read

The Little Pot of Gold: 100 Kunci Rahasia Meraih Kesuksesan dan Kekayaan (Peter Spann, Erlangga)

 

Now tag five people

Nggak ah. Sukarela aja, siapa yang mau meneruskan book baton ini? ;)  

 

Foto: binadesa.com


Posted by Tian on Sep 23, '06 11:21 AM for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Ahmad Rofi' Usmani
Penerbit : Mizan, 2006
Jumlah halaman : 217


Suatu malam di bulan Ramadhan, Umar bin Al-Khathab, yang saat itu memegang tampuk pemerintahan, mendapati orang-orang sedang melaksanakan shalat dalam pelbagai kelompok. Ada yang melaksanakan shalat sunnah sendirian, ada pula kelompok yang melaksanakannya secara berjamaah.

Melihat hal tersebut, Khalifah yang juga mertua Rasulullah Saw itu berkata kepada Abdurrahman Al-Qari. "Wahai Abdurrahman! Menurutku, lebih baik orang-orang itu disuruh berkumpul dan bershalat bersama dengan seorang imam." Maka, mereka pun shalat berjamaah.

Beberapa malam kemudian, Umar bin Al-Khathab datang kembali ke Masjid Nabawi bersama beberapa sahabat. Melihat orang-orang sedang melaksanakan shalat tarawih berjamaah, Khalifah pun berkata, "Inilah bid'ah yang terbaik. Tapi, shalat yang belum mereka lakukan selepas tidur, tetap lebih baik ketimbang shalat yang sedang mereka laksanakan itu.

Demikian cuplikan salah satu kisah berdasar hadis Rasulullah Saw, pada buku Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah yang disusun Ahmad Rofi' Usmani. Di bagian lain, alumnus program Pascasarjana Bidang Sejarah dan Kebudayaan University of Cairo, Mesir, ini juga mengisahkan dialog Rasulullah Saw --sebagaimana disampaikan istri beliau, 'Aisyah R.A.-- dengan seseorang yang gelisah karena berpuasa dalam keadaan junub (belum mandi besar sehabis bersetubuh dengan istrinya).

"Wahai sahabatku, engkau tak usah gelisah. Aku pun pernah mengalami kejadian serupa. Engkau tak usah ragu, puasamu tidak batal. Aku saat itu tetap berpuasa meski dalam keadaan junub," jawab Rasulullah Saw, sambil tersenyum.

Selain kisah seputar bulan Ramadhan, buku ini juga memuat hampir 100 kisah peribadatan Muhammad Rasulullah Saw, yang ditulis secara indah, terbagi dalam empat kelompok, masing-masing Kisah-kisah seputar Shalat, Kisah-kisah seputar Puasa, Kisah-kisah seputar Zakat, Infak, dan Sedekah, dan Kisah-kisah seputar Haji dan Umrah.

Mulanya Ahmad Rofi', sebagaimana disampaikannya dalam Prakata buku ini, sama sekali tak memiliki ide menyusun buku yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Namun, saat ia menyunting sebuah biografi Nabi Muhammad Saw yang disusun penulis Monako Jean Prieur, dengan judul Muhammad: Prophete d'Orient et d'Occident, Ahmad Rofi', yang menulis dan menerjemahkan berbagai karya, antara lain Tokoh-tokoh Muslim yang Mengukir Zaman, Muhammad Nabi Barat dan Timur, dan Membedah Pemikiran Islam ini baru tergerak untuk menyusun sebuah buku yang berkaitan dengan Rasulullah Saw.

Pria yang fasih berbahas Prancis ini beralasan, teladan-teladan indah Rasulullah Saw --melalui Sunnahnya-- tak jarang dilewatkan tanpa perenungan dan pemaknaan yang dalam. Ribuan hadis yang mengajarkan teladan-teladan indah Rasulullah Saw, masih tertimbun dalam tumpukan kitab hadis yang jarang dijamah.

Melalui penelaahan mendalam atas pelbagai kitab kumpulan hadis, Ahmad Rofi' menyajikan kisah-kisah teladan ibadah Rasulullah, utamanya Rukun Islam. Kisah-kisah ini ditampilkan secara komprehensif; dengan menyebutkan konteks sosial historisnya, sehingga layak dijadikan rujukan dalam amaliah ibadah kita, karena sumbernya jelas: hadis-hadis Rasulullah Saw.

Alumnus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang pernah melanglang buana ini mengemas kisah-kisah Nabi sedemikian rupa, seolah sedang membaca sebuah cerita ringan --namun sarat makna-- tanpa harus direpotkan dengan kutipan hadis Nabi dan catatan kaki, sebagaimana lazimnya buku-buku agama. Mereka yang ingin melihat rujukan aslinya, bisa melihatnya pada daftar rujukan di akhir buku ini.

Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah, bacaan yang bermanfaat untuk mengisi saat ngabuburit (menunggu waktu buka) Anda di bulan Ramadhan ini. Tian Arief

Posted by Tian on Sep 6, '06 6:25 AM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?id=97658


Judul : Snow Flower
Penulis : Lisa See
Penerjemah : A. Rahartati Bambang Haryo
Jumlah halaman : 551 hal + x
Penerbit : Qanita, 2006


Lily dan Bunga Salju adalah sepasang laotong. Kedua gadis itu dilahirkan pada tahun kuda, pada bulan yang sama, pada hari dan jam yang sama pula. Jumlah saudara laki-laki dan perempuan keduanya pun sama. Dan keduanya merupakan anak ketiga. Karena mereka laotong, sang kembaran hati. Hubungan emosional yang terjalin di antara keduanya tak akan terpisahkan, bahkan lebih dalam dibanding ikatan suami-istri sekali pun.

Kedua anak gadis Cina itu bersama-sama melalui masa-masa sebagai gadis kecil, remaja, dewasa, hingga usia senja. Mereka bersama-sama pula melewati masa-masa menderita saat kakinya diikat, agar mendapatkan bentuk kaki yang sempurna; bunga lili emas. Saat berusia 11 tahun, kaki kedua gadis yang sudah mulai sembuh dari lukanya itu, panjangnya tak lebih dari tujuh sentimeter! Sungguh mungil!

Tradisi pengikatan kaki itu menuntut pengorbanan dan penderitaan luar biasa dari anak perempuan usia 6-7 tahun (bahkan nyawa, karena satu dari 10 anak perempuan yang diikat, tewas akibat infeksi). Betapa tidak, kaki anak gadis diikat hingga kedelapan jarinya remuk (lalu dibuang), menyisakan ibu jari dan tumit, untuk mencapai bentuk lotus yang sempurna. Penderitaan itu terbayar dengan meningkatnya status sosial si gadis, kala dijodohkan dengan pria dari keluarga terpandang. Berbeda dengan gadis yang tak diikat kakinya (diistilahkan dengan sebutan kaki besar), yang hanya layak jadi pelayan, atau paling tidak, diangkat sebagai "menantu kecil" (satu tingkat di bawah gundik).

Meski terpisah jarak, Lily dan Bunga Salju disatukan dalam ikatan kipas sutra indah berhiaskan tulisan nu shu, tulisan rahasia kaum wanita. Tulisan kanji yang bentuknya lentik, menyerupai kaki seekor nyamuk itu, diajarkan secara turun temurun, agar para wanita dalam ketertindasannya, bisa saling berkomunikasi, tanpa diketahui kaum lelaki.

Kehidupan Lily, yang berasal dari keluarga petani miskin, terangkat setelah dijodohkan dengan seorang pemuda terpandang, putra kepala desa kaya dan berpengaruh. Berbeda dengan Bunga Salju yang mengalami nasib buruk, setelah disunting seorang tukang jagal babi. Meski begitu, ikatan sebagai laotong yang sifatnya seumur hidup, tetap terjalin.

Namun justru nu shu yang jadi sumber kesalahpahaman di antara mereka, yang kemudian melahirkan penghianatan, sekaligus menceraiberaikan kedua kembaran hati itu. Akankah ikatan suci itu bisa diperbaiki?

Snow Flower, yang diterjemahkan dari novel berbahasa Inggris, Snow Flower and The Secret Fan yang ditulis novelis Amerika Lisa See ini, mengisahkan kehidupan wanita Cina pada abad ke-19 yang serba-terkungkung dan terbelakang.

Melalui penuturan secara kilas balik (flash back) oleh tokoh sentral Lily, pembaca seolah diajak mengembara pada suatu masa, di mana tradisi begitu menjunjung tinggi kehadiran anak laki-laki. Anak perempuan dipandang sebagai beban bagi orangtua (bahkan mereka lebih memilih memelihara anjing ketimbang punya anak perempuan), yang harus segera dilepaskan begitu ritual pengikatan kaki selesai. Setelah menikah, anak perempuan ikut suami, dan tak kembali lagi.

Lisa See, yang juga menulis novel Liu Hulan: Jaring-jaring Bunga (Qanita, 2006), menuturkan kisah hidup Lily, dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut ini secara memesona. Ini adalah buah dari kerja keras See, peraih nominasi Edgar Award, The Interior, dan Dragon Bones, yang selama enam bulan menjelajahi pelosok daratan Cina, untuk mempelajari nu shu, adat istiadat, sekaligus cerita klasik Cina. [Tian Arief ]

image
*maaf, cover bukan versi Indonesia, tapi versi Inggris. Versi Indonesianya, nunggu situs www.mizan.com bisa diakses lagi. :D

Posted by Tian on Jul 28, '06 10:18 AM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?id=96638

Bagaimana jadinya kalau seorang novelis menulis biografi? Sebuah buku biografi yang "tidak lurus-lurus saja" sebagaimana umumnya biografi, namun bergaya ngepop, hingga membuat mereka yang membacanya lebih rileks. Itulah karya Fira Basuki, biografi Wimar Witoelar: "Hell Yeah!"* (diambil dari judul lagu karya Neil Diamond kesukaan Wimar), yang diluncurkan pertengahan pekan ini di Jakarta. Membaca buku setebal 282 halaman + xviii itu serasa membaca novel pop --khas karya-karya Fira. Ringan dan "gampang dibaca", mengalir dari awal sampai akhir, jauh dari kesan formal. Padahal, tokoh yang ditulis berasal dari latar belakang serius: seorang politisi yang menggeluti dunia talkshow televisi. Saat membaca biografi yang sepintas tampilannya mirip buku fiksi dengan komentar sejumlah tokoh ini, Anda tak perlu mengerutkan kening, tapi juga tak harus ketawa ngakak, cukup senyum simpul saja. [TMA]

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help