RUTINITAS pagi hari: mengantar anak ke sekolah, lalu ke kantor. Tampaknya sederhana, tapi penuh perjuangan. Betapa tidak, jarak rumah di kampung "In The Middle of Nowhere" ke sekolah anak di Jatijajar, Cimanggis Depok, sekitar 20 km, ditambah jarak ke kantor (Kalibata) juga sekitar 20 km.

Kemacetan di pagi hari terjadi di mana-mana. Tak ada jalan lain, kecuali mengakrabi suasana tak mengenakkan tersebut. Tapi aku sangat bersyukur, karena menumpang motor. Jadi, bisa lincah dan merdeka bergerak, mengikuti arus, melebur jadi satu dengan kemacetan itu sendiri. Setiap jengkal ruang kosong di tempat macet itu, langsung kuisi. Macam sifat air yang mengalir mengisi setiap ruang kosong.
Apalagi sampai di Pasar Minggu, yang pada saat normal saja sudah macet, apalagi saat proyek underpass tengah berlangsung. Kuncinya, sabar, sabar, dan sabar (jangan harap dengan lengkingan klakson bisa menyingkapkan kemacetan, yang ada, jantung tambah berdebar, ujung-ujungnya stres).
Dampak lainnya, setelah acara rutin mengantar ke sekolah: waktu kedatangan ke kantor jadi tambah pagi, tapi pulang tetap saja malam, karena berita yang perlu diedit mengalir macam air di musim hujan. 
Tercatat, beberapa hari terakhir ini, aku bisa berada di kantor 12 jam sehari (08.30-20.30), atau kurang-kurang dikit. Jenis pekerjaanku yang bersifat flexi time, membebaskanku dari kewajiban absen tepat waktu (pukul 08.00 pagi), sebagaimana orang-orang kantoran. Tapi, tuntutan pekerjaan justru sering memasungku duduk di kantor lebih lama (dari standar kerja 8 jam sehari). Bahkan di hari libur, seperti Sabtu dan Minggu, berita tak kenal libur. Artinya, aku tetap mengapdet, meski dengan datang ke warnet.
Makanya, saat benar-benar libur, tidur siang jadi barang mewah bagiku (biasanya, kalau ngantuk siang-siang, ya tinggal pejamkan mata aja barang beberapa menit di depan komputer --seperti dilakukan siang tadi). Begitu pula berakrab-akrab dengan keluarga, menjadi momen paling berharga. Jadi, diusahakan, kalau berlibur aku ajak seluruh keluarga, seperti rencana ke Baduy akhir pekan kemarin (yang akhirnya tidak jadi), bersama Mas Mbong, Ibu Ari, dkk.
Image: expat.or.id