Di halaman rumah kami, sejak bertahun-tahun lalu, tumbuh tanaman sirih dekat jendela kamar depan, yang tumbuh merambat, menaungi jendela kamar depan. Di tempat sama, tumbuh lebat tanaman brotowali (bratawali).
Daun sirih yang berguna sebagai antiseptik alami itu banyak dibutuhkan tetangga. Maka, para tetangga pun dipersilakan memetik sendiri daun sirih yang mereka butuhkan. Salah satunya, Ibu M, yang anaknya menderita penyakit kulit di kakinya.
Atas saran seorang tetangga, Ibu M memanfaatkan air rebusan daun sirih plus batang brotowali, untuk mengobati penyakit kulit anaknya. Caranya, menggosok bagian yang sakit setiap mandi. "Dengan salep dari dokter di Puskesmas, udah harganya Rp 10 ribu, penyakit anak saya tak kunjung sembuh," ujar Ibu M.
Lebih sebulan kemudian, Ibu M datang melapor; penyakit kulit anaknya sudah sembuh total. Kini kaki anaknya yang masih balita itu, mulus kembali. Alhamdulillah. 
Ide sederhana ini mendorong kami (yang ironisnya, jarang sekali memanfaatkan daun sirih ini), untuk kembali merasakan khasiat obat warisan nenek moyang itu. Selain memakai air rebusan daun sirih + brotowali sebagai obat luar, kami juga meminumnya satu gelas (kecil) tiap hari.
Hasilnya, alhamdulillah, jerawatku --yang anehnya hingga usia jelang 40 ini masih marak seperti remaja ini-- mulai berkurang.
Oya, hampir seminggu sekali, mbak tukang jamu suka mampir untuk membeli (ya membeli, Rp 1.000, karena dia menolak kalau diberi gratis, berhubung untuk dijual kembali) satu plastik besar daun sirih. Ternyata, bisa jadi "ladang bisnis" juga. 
image