Tian's posts with tag: iseng

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag iseng
Posted by Tian on Jul 4, '08 2:30 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
"Ini ada oleh-oleh dari Vietnam," kata temanku, yang menghubungiku, saat aku terbengong-bengong di pinggiran Waduk Saguling. Temanku itu baru pulang dari Ho Chi Minh City, ibukota negeri Paman Ho itu. "Baju kaos. Habis, mau bawa pulang Viet Kong, susah visanya," katanya, tanpa aku tanya. Baju kaos berlatar putih yang sederhana, bertuliskan kata-kata yang aku sendiri nggak ngerti. Di bagian mereknya (belakang kerah), ada tulisan www.saigon-moon.com. Kemungkinan buatan Saigon alias Ho Chi Minh. Atau, jangan-jangan, buatan Bandung juga, yang diekspor ke sana.

Makasih, Jat! ;)

"Trau oi, ta bao trau nay, trau ra ngoai ruong trau cay voi ta. Cay cay giu nghiep nong gia, ta day, trau day, ai ma guan cong?
Bao gio cay lua co bong, thoi con ngon co ngoai dong trau an..."


*Ada yang ngerti? Kalau ada yang bisa mengartikan kalimat di atas, baru jagoan. ;))

Posted by Tian on Jun 24, '08 10:56 PM for everyone

Logika terbalik adalah salah satu teknik memancing tawa dalam humor/lawak. Tapi di iklan Kecap Sedap, meski yang membawakannya Ruben Onsu --yang biasa memancing tawa di acara yang dibawakannya-- logika terbalik ini, aku yakin, karena kesalahan skenario belaka.

Pada iklan berdurasi sekitar 30 detik itu, Ruben mewawancara seorang ibu rumahtangga yang masakannya mendadak jadi enak gara-gara diberi Kecap Sedap.

Di adegan itu, Ruben memuji ibu tsb, sambil berbasa-basi bahwa dia bakalan betah (berada di rumah si ibu itu) kalau masakannya enak begini. Apa jawaban si ibu?

"Jangankan Mas Ruben, anak dan suami saya aja betah di rumah."

Aku jadi bingung, saat mencerna kalimat si ibu tadi. Pengertian frasa "jangankan Mas Ruben", bisa berarti: Ruben adalah tuan rumah, sedangkan anak dan suami si ibu tadi hanyalah bertamu.

Coba kalau dibalik: "Jangankan anak dan suami saya, Mas Ruben aja betah di rumah (saya)." Nah, ini lebih enakan. Bagaimana menurut anda?

image: billboard iklan kecap di pinggir jalan (budarsa.com)


Posted by Tian on May 27, '08 1:40 AM for everyone

Mogok makan, biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sedang dirampas kemerdekaannya (seperti narapidana dan tahanan). Dengan mogok makan, hingga kondisi badannya lemah, bahkan setengah mati, simpati publik pun bisa diraih --yang ujung-ujungnya tekanan publik, untuk memenuhi tuntutan para napi/tahanan yang mogok makan itu. Lembaga yang bertanggung jawab pun akan kelabakan.

Tapi kalau mahasiswa --seperti aku lihat di tepi jalan Jalan Lenteng Agung, Jaksel-- yang melakukan mogok makan, aku malah bertanya, kenapa harus mogok makan?

Kalau ingin menuntut penurunan harga BBM (yang baru saja dinaikkan), kenapa harus melakukan tindakan nekad itu? (mending makan di warteg, wareg!

Mahasiswa kan masih banyak opsi, yang bisa mereka lakukan. Sementara tuntutan, lewat unjuk rasa, belum (atau tidak) dipenuhi pemerintah, mereka bisa melakukan tindakan mulia: membantu memberdayakan orang-orang yang paling menderita, akibat dampak langsung kenaikan harga BBM itu.

Lebih baik mereka diberi "pancing/kail", bukan "ikan", macam bantuan langsung tunai (BLT) Rp 100.000 per bulan versi pemerintah. Pemerintah pun, aku kira, selayaknya memberikan mereka pekerjaan, lewat program padat karya, ketimbang diberi duit begitu saja. Jumlahnya pun tak terlalu signifikan untuk hidup sebulan.

Pekerjaan apa yang bisa dilakukan dengan cara kroyokan dalam kondisi seperti sekarang ini? Menurutku, ada banyak pekerjaan yang berkaitan dengan kepentingan umum. Misalnya, menambali jalanan yang berlubang. Yah, namanya juga usul iseng, daripada ngantuk siang-siang gini.   


Posted by Tian on May 22, '08 1:05 AM for everyone

Selama 40 tahun, baru kali ini aku memasuki sebuah komplek perumahan, ditanya mau ke mana ---sudah janji apa belum-- sambil KTP-ku ditahan.

Kalau KTP ditahan di tempat lain sih, sudah nggak aneh. Seperti di gedung-gedung perkantoran, markas militer, atau percetakan/pabrik, dan kawasan strategis lainnya.

Tapi ini sebuah perumahan mewah. Namanya Graha Hijau 2, Kampung Utan, Ciputat. Bukan sekali-dua kali ini aku masuk ke perumahan mewah, seperti Pesona Khayangan, Margonda, Depok, aku bebas-bebas saja. Apalagi Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ditanyai satpam pun nggak.

Nggak, bukan sirik pada mobil-mobil mewah yang bergeletakan di sepanjang jalan perumahan itu, atau rumah-rumah bagus tak berpagar, tapi aneh aja.

Untung tuan rumahnya ramah.


Posted by Tian on May 21, '08 10:46 PM for everyone
Randy Jackson, salah seorang juri American Idol, sering menggunakan kata "anjing" (dog) sebagai pujian bagi kontestan yang bagus nyanyinya. Tampaknya, sebutan anjing, bagi orang Amerika adalah sebutan membanggakan. Mungkin karena anjing identik dengan hewan yang setia dan pemberani.

Sedangkan di Indonesia, anjing juga lazim digunakan untuk menjuluki seseorang. Bedanya, orang yang dijuluki, minimal marah, kalau tak menggamparnya. Yah maklum saja. Anjing di (sebagian besar orang) Indonesia diidentikkan dengan hewan najis, menjijikkan, dan hina. Bisa dibayangkan, adegan seorang kontestan Indonesia Idol yang berpenampilan bagus --misalnya-- dipuji seorang juri. "Wah kamu anjing bener!" Bisa dibayangkan, kalau juri itu tak didamprat saat itu juga, ya ditimpuk, atau minimal dicemberuti sambil nangis.

Di sini, hewan yang sering dijadikan simbol, karena membanggakan, justru ayam (jago). Ada istilah Ayam Kinantan, ada merek kopi cap "Ayam Merak", ada cokelat cap "Ayam". Mungkin karena ayam diidentikkan dengan hewan yang rajin, pagi-pagi sudah bangun (dan membangunkan manusia). Sampe muncul istilah, "jangan sampe rezeki dipatok ayam." (Karena bagun telat).

Tapi di Amerika sana (setidaknya melihat di film-film), sebutan ayam (chicken) itu justru sebuah penistaan. Mungkin karena --memang-- sifat ayam yang penakut, panikan, dan tak terkontrol (kalau sudah ketakutan). Ah, tapi orang Amrik juga justru bisa berbisnis dari hewan penakut itu. Buktinya, kita mengenal restoran waralaba asal Amrik, seperti Kentucky Fried Chicken dan California Fried Chicken.

Memang, lain ladang lain belalang, lain anjing, lain ayamnya. 


image: sybilsden.com





Posted by Tian on Apr 9, '08 1:33 AM for everyone

Kucing yang sering mampir ke rumahku (bukan piaraan, tapi sering dikasih makan), salah satunya, berbulu tiga warna (kuning-abu-putih/candramawat). Kucing itu beranak tiga ekor, dan sekarang aman berada di rumah kosong seberang rumahku.

Kucing itu sebenarnya punya satu anak (entah dari "suami" sama, atau "suami" yang beda), yang usianya --kalau manusia-- sudah ABG. Nah, si ABG betina itu ternyata masih manja, meski punya adik tiga ekor. Dia ternyata masih menyusu, bareng sama ketiga adiknya itu. Si Bulu Tiga pasrah saja. Bahkan dia masih mau mengurusi si ABG dengan menjilatinya, pada saat-saat tertentu.

Nah, ada kucing lainnya (abu-abu) yang beranak lima. Anaknya lebih kecil (beda sekitar semingguan) dari si Bulu Tiga. Semalam, si Abu-abu memindahkan satu anaknya entah ke mana. Sementara yang empat lagi mengeong-ngeong di teras rumahku, mencari induknya.

Tadi pagi, istriku memindahkan keempat anak si Abu-abu ke rumah kosong seberang, bersama dusnya ditaruh di sebelah si Bulu Tiga plus anak-anaknya --dengan sepengetahuan induknya (si Abu-abu).

Ternyata apa yang terjadi?

Tiga dari empat kucing anaknya si Abu-abu ternyata numpang menyusu sama si Bulu Tiga --yang juga pasrah menerima mereka. Sementara induknya, si Abu-abu, sering males menyusui mereka. Jadi, si Bulu Tiga sekarang punya tanggungan, menyusui si ABG, tiga anaknya, dan empat anak "tetangganya".


Posted by Tian on Apr 3, '08 8:33 AM for everyone

Landie (panggilan mesra buat jip Land Rover) ajaib ini tampaknya cocok untuk menjelajahi jalan-jalan di pinggiran Jakarta, yang kondisinya kian parah ini. Selain lubang-lubang jalan menganga, banjir juga sepanjang musim hujan mengancam. Juga... anti-ngebut!

image: tntlr.com


Posted by Tian on Apr 2, '08 3:00 AM for everyone

Kemarin, waktu menjemput Fay ke sekolahnya --karena pak ojeknya berhalangan, sakit-- aku mendapat laporan dari istriku, bahwa Umi (nama "beken" pengurus bagian dapur sekaligus koperasi sekolah), mengira kami orang "proyek". Maksudnya mungkin, proyek bangunan.

"Bunda ikut ayahnya di proyek ya?" tanya Umi, ketika istriku menemuinya untuk membayar uang katering makan siang.

"Bukan, Umi. Suami saya wartawan," jawab istriku.

Kenapa Umi sampe mengira aku orang "proyek"? Aku menduga kuat, karena beberapa kali aku suka memakai sepatu boots kulit jenis safety shoes (atau biasa disebut sepatu proyek), saat mengantar Fay sekolah.

Sepatu berusia 20 tahun itu --pemberian kakakku, waktu aku masih kuliah dulu-- sampai sekarang masih tetap terawat. Padahal sudah dipake untuk berkebun, nyangkul, kerja berat, bahkan masuk ke kolam segala. Maklum, sepatu tahan banting nyang gak ade matinye!  Waktu maling masuk rumah di Bandung dulu, sepatu itu luput dari "tangan panjangnya", karena mungkin terlalu berat untuk dibawa.

Melihat banyaknya bikers yang marak menggunakan sepatu boots proyek itu, aku pun jadi pede untuk menggunakannya, bukan hanya untuk naik motor, melainkan ke kantor! Tentu saja setelah disemir mengilap, dan "disembunyikan" di balik celana jeans-ku.

Jadi Umi, aku bukan orang proyek (tukang ingsinyur, maksudnya? padahal aku lebih pantas sebagai kulinya), melainkan jurnalis --tukang nulis jurnal di MP!  

image: fajarteknik.com


Posted by Tian on Apr 1, '08 12:20 AM for everyone

Ya iya lah! Soalnya ngebutnya bukan di arena balap (sirkuit), melainkan jalan raya.

Pembalap Formula 1 Lewis Hamilton kena denda 578 euro (914 dolar AS) oleh Pengadilan Prancis, Senin (31/3), setelah tertangkap basah ngebut dengan Mercedes-nya dengan kecepatan 196km/jam, di jalan raya utara Laon, Prancis.

Sedangkan batas kecepatan maksimal di Prancis adalah 130km/jam. Pembalap McLaren-Mercedes itu telah membayar denda sebesar 600 euro pada Januari 2008.

"Hamilton menyadari telah membuat kesalahan, yang dilakukan di sela-sela Grand Prix, karena ia menyadari tanggung jawabnya kepada generasi muda," ujar pengacaranya.

Pihak kepolisian juga mengungkapkan, saat ditangkap, Hamilton beralasan, jalanan sangat lengang pada saat itu.

* * *

Lain di Prancis lain di Indonesia. Pembalap Ananda Mikola, kepada sebuah tabloid otomotif mengaku, saat berada di jalan raya, ia lebih memilih nyantai. Menurutnya, ia malah lebih suka disopiri, karena jalanan di jakarta sedemikian macetnya, yang bisa memicu stres.

Soal tunggangan di jalan raya, pilihan Ananda, "mobil apa saja, yang penting ada AC-nya." :D

Foto: Lewis Hamilton (Associated Press)


Posted by Tian on Mar 30, '08 12:41 AM for everyone

Itu pertanyaanku waktu itu. Nama runner-up Indonesian Idol ke-3 yang dimenangi Ikhsan itu memang tampak seperti nama perempuan. Parahnya, salah persepsi itu sempat tertulis, saat aku mengedit tulisan temanku yang mewawancarai pemuda yang sempat diisukan "dekat" dengan penyanyi Agnes Monica itu.

Waktu itu aku menulis, "Kegiatan off-air sebenarnya padat. Tapi karena ada waktu kosong, kenapa nggak diambil kesempatan itu? Kenapa nggak dicoba aja?" ujar gadis itu. (tapi sekarang jangan harap bisa melihatnya di link ini, karena sudah diedit, setelah mendapat komplen dari Freemantle Media --pihak penyelenggara Indonesian Idol) ! Tentu saja, yang dikomplen, temanku yang menulis, bukan aku yang mengeditnya.  

Konyol, konyol!

Kenapa bisa terjadi?

Pertama, aku nggak nonton tipi, terutama Indonesian Idol musim ketiga yang mengangkat nama dirly (yang pertama, aku malah sempat kenalan langsung sama para finalisnya, termasuk Delon dan Joy).

Kedua, aku nggak konfirmasi dengan temanku yang menulis profil Dirly itu. Sekarang, sedikit-sedikit SMS, sedikit-sedikit SMS.   

Foto: Gatra.com/Edo


Posted by Tian on Mar 19, '08 1:52 AM for everyone

Ini cerita dulu, waktu di Bandung. Memotong arus lalulintas yang lagi ramai-ramainya, dengan kendaraan, bukan perkara mudah. Apalagi saat tak ada Polantas yang berjaga. “Pak Ogah” pun belum ramai seperti sekarang.

Jadilah kami menyeberang dengan perjuangan. Kalau tak sedikit nekad (asal tahan “dihujani” klakson), alamat bakal “berjam-jam” menunggu lalulintas sepi.

Tapi ada yang unik di Bandung (di Jakarta jelas sudah dilarang): beca (tanpa k). Kalau tukang beca sudah memberi kode tangan ke atas, kendaraan bermotor mending pilih mengalah. Kalau sampe kesrempet itu beca, alamat apes bagi si sopir. Emang enak dikeroyok tukang beca!

Nah, aku masih inget. Saat itu aku naik minibus antar-kota. Saat mobil yang aku tumpangi hendak memotong arus di pertigaan, di sebelah kanan sopir ada beca hendak menyeberang juga.

Mang, Mang, sok maju heula! (Bang, Bang, maju duluan!)” ujar Pak Sopir, mengompori Abang Beca. Beca pun maju, dan mobil mengikuti. Ide sopir “mengumpankan” beca itu ternyata sebuah ide cemerlang.

* * *

Sekarang di Jakarta (yang sudah tak ada becak lagi) dan di Depok (yang becaknya dilarang keras masuk jalan protokol), apa yang bisa diumpankan?

Ya benar, motor!

Kalau gerombolan motor Jabodetabek sudah menyerbu, polisi pun dibikin pusing tujuh keliling.

image: pop.blogsome.com


Posted by Tian on Mar 15, '08 1:27 PM for everyone

Benarkah perusahaan paket alias jasa kurir selalu "berbohong"? Mengatakan kiriman reguler bakal tiba di tujuan dalam dua sampai tiga hari, tapi kenyataannya malah semalam. Karena beberapa kali selalu begitu dan begitu, aku lebih memilih reguler saja. Toh sampainya sama dengan paket "one night".

 

image: fbi.gov


Posted by Tian on Feb 27, '08 12:11 AM for everyone

Beberapa minggu belakangan ini, seiring dengan musim penghujan, udara di lingkungan rumahku semakin dingin saja. Sebelumnya, udaranya sejuk (Bogor gitu loh). Tidur tanpa selimut, rasanya tak bisa nyenyak. Apalagi menjelang dinihari, hujan pula, badan rasanya ingin ditekuk sedalam-dalamnya. Mandi di pagi hari pun, pake acara menggigil segala. Jadi teringat sewaktu masa kecil di Bandung dulu.

Bukan hanya di rumah, tapi juga di kantor. Nah, yang ini bukan karena dingin alami, karena kantorku di Jakarta. Penyebabnya, corong AC sentral yang baru dipasang, dua meter di samping atas mejaku. Saking besarnya hembusan angin dingin artifisial (buatan) itu, sampe kantong kresek yang ditaruh di atas meja, bisa bergerak tertiup angin. Jadinya, sekarang aku bekerja sambil jaketan.

Temanku satu tim kerja (yang pernah 11 tahun di Amrik) sampe berkomentar. Ini sih bukan dingin musim salju, tapi dinginnya make me sick!  [Aku tambahkan, make me mad! 

Tapi ini awal dari kabar baik loh.  Sebentar lagi kantorku bakal dibagi dua, diberi penyekat "tembok berlin". Satu bagian buat perokok, bagian lainnya buat non-perokok. Ternyata, temanku yang perokok (tapi masih ringan), memilih bakal bergabung di ruangan non-perokok. Katanya, tidak nyaman bekerja dengan asap rokok. Loh, baru tau ya, kalau asap rokok itu bikin tak nyaman? 

Kembali ke udara dingin alami tadi. Apa ini karena pemanasan global (di bagian kutub), dan pendinginan lokal di kota Bogor dan sekitarnya? Entahlah!

image: gwinnettforum.com
 


Posted by Tian on Feb 25, '08 3:48 AM for everyone

Cerita "di balik layar" kopdaran CAB plus plus.

Acara kopdar atas undangan Uni Wirda, berakhir rada malam (Jumat, 22 Februari 2008), hingga RM Pondok Laras Kelapa Dua, Depok, tempat para CABers ++ berkumpul, hampir tutup. Semua tamu sudah kosong (kecuali kami, tentunya), dan pintu utama disisakan sedikit --cukup untuk satu orang lewat.

Waktu kami (Mbak Elly, Yudi, dan aku) berjalan bareng keluar dari restoran tersebut, di pintu yang sempit itu, aku sempat tertegun, memberi jalan pada Mbak Elly terlebih dulu. Ternyata Yudi lewat duluan. Aku masih terdiam. Dan Mbak Elly pun terdiam. Kami diam-diaman.

Akhirnya, Mbak Elly angkat bicara. "Ayo, Pak Tian duluan." Aku pun lewat duluan, diikuti Mbak Elly.

Di tempat parkir, barulah ia cerita, kalau di Arab Saudi (oya, Mbak Elly ini langganan pergi ke Tanah Suci), kalau perempuan mendahului laki-laki, misalnya saat memasuki atau keluar dari lift, suka dihardik laki-laki yang ada di sana.

"Mar'ah wara', hunaak!" ujar Mbak Elly, menirukan seruan lelaki Arab itu. Mau tau artinya? Kira-kira, "Perempuan di belakang, sana!"

Aku manggut-manggut saja, karena di Indonesia tak ada ketentuan khusus soal prioritas lewat ini, apakah laki-laki dulu, atau perempuan dulu. Sedangkan budaya Barat, biasa mendahulukan perempuan (lady's first).

Atau anda ada pendapat lain?

Foto: by Herry (koleksi Uni Wirda)


Posted by Tian on Feb 20, '08 9:14 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Anda pengin ngintip mereka? Auuuuummmm!!! :))

Posted by Tian on Feb 10, '08 11:12 PM for everyone
Link: http://rokok.komunikasi.org/

Lagi searching iseng-iseng, nemu link ini. :)


Posted by Tian on Jan 20, '08 12:58 PM for everyone

Selagi bekerja bakti, Minggu pagi (20/1), empat lelaki membicarakan keluhan dan penyakit usia paruh baya. Pak A (41), salah seorang lelaki itu, mengeluhkan kaki kanannya, yang setiap mau diluruskan sehabis ditekuk, selalu sakit. 

"Mungkin asam urat. Coba periksakan," ujar Pak K (45), lelaki lainnya.

"Ah, nggak mau. Kalau harus general check-up, nanti ketahuan mengidap penyakit apa saja," tukas Pak A.

"Jangan makan emping," timpal Pak G (53), lelaki paling senior, yang mengidap asam urat.

"Justru itu, saya tak mau ada pantangan. Bapak saya saja yang usianya sudah 80, tak ada pantangan," Pak A beralasan. 

"Jadi, biar sakit, tapi nanti 'begitu waktunya', 'selesai'. Tak sampai menyusahkan orang lain, ya?" timpalku.

Pak A cuma nyengir. Tapi mengiyakan.   

"Ibarat kendaraan, mesin kita ini sudah tua. Musti lebih rajin lagi pemeliharaannya," tambah Pak K.  

Aku, yang  jelang 40 ini, serasa menjadi orang paling muda di dunia, di hadapan bapak-bapak yang sudah tua-tua itu. Aku lebih banyak mendengarkan, ketimbang melontarkan keluhan. 


Posted by Tian on Jan 20, '08 7:29 AM for everyone

Jum, staf sekred di kantorku, ban depan-belakang motornya -Yamaha Nouvo- sudah gundul, dul, segundul-gundulnya. Aku yang nggak tahan melihatnya, tergerak untuk bertanya, dan sekadar menyarankan, karena ban dengan kondisi seperti itu sangat berbahaya bagi pengendaranya.

"Jum, itu ban sudah gundul banget, nggak segera diganti?"

"Langka, Ian," jawabnya. 

"Loh, ban ukuran 16 (inci -ban Nouvo) kan nggak langka? Banyak kok di pasaran."

"Bukan langka bannya, tapi langka duitnya!"

"Oh, kalau itu mah, gue juga langka!"  

Akhirnya, beberapa hari setelah itu, ban motor Jum sudah berganti baru, kedua-duanya. Mereknya IRC, pula.

"Baru, Jum?"

"Iya, duitnya boleh BS dari kantor."

*BS = bon sementara, alias minjem untuk jangka waktu tertentu.

image: macloo.com


Posted by Tian on Jan 17, '08 7:41 AM for everyone

Lapor, sore ini aku bisa juga makan makanan mewah, yang sejak beberapa terakhir ini jadi primadona, jadi bahasan secara nasional, sampai Presiden Yudhoyono turun tangan, mengurusi komoditas yang satu ini.

Ternyata, enak juga makan makanan yang tadinya nyaris terlupakan, atau disepelekan, karena kalah pamor oleh makanan yang dianggap mewah. Terasa enak setelah banyak dicari orang, karena harganya meroket, mengakibatkan kelangkaan produksi.

Meski cuma satu potong, aku nikmati makanan mewah ini dengan khidmat, bersama menu lainnya yang biasa aku pesan di warung tegal yang masakannya terkenal nikmat (setidaknya bagi warga kantor kami).

Katanya, harganya sedikit naik, dari Rp 500 menjadi Rp 750 per potongnya. Lho kok makanan mewah harganya murah banget? Ya, karena ini makanan rakyat yang sederhana, namun kaya akan protein nabati.

Biar katanya harganya sudah naik, tapi kok sepiring nasi plus lauk-pauknya itu harganya tetep saja Rp 4.500! 

O ya, nama makanan mewah itu, tempe.


Posted by Tian on Jan 15, '08 4:51 AM for everyone

Tadi pagi, setelah mengantar Fay ke kelasnya, di halaman sekolah, beberapa anak laki-laki sedang menggapai-gapai daun pohon ketapang, tapi tak sampai.

Begitu aku mendekat, salah seorang di antaranya meminta tolong. "Bang, tolong dong ambilin daun."

"Bang?" Wah, adek-adek kecil ini tau aja. Aku dipanggil "abang", berarti tampak muda, kan? 

Tapi... dengan pakaian seperti ini dan jaket lusuh, belum mandi pula?

Jangan-jangan... Oh no! Aku dikira abang ojek sama anak-anak itu!   


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help