Tian's posts with tag: lalulintas

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lalulintas
Posted by Tian on May 2, '08 12:13 AM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?id=114372

Anda yang bawa mobil, hati-hati saja. :)

Jakarta, 2 Mei 2008 11:02
Mulai Jumat (2/5), Dishub DKI dan Polda Metro Jaya, akan menindak pelanggar parkir, dengan mengunci roda (mobil), bila ditunggu 15 menit pemiliknya tak muncul.

Selengkapnya

image: immobilize.com


Posted by Tian on Apr 25, '08 9:29 AM for everyone

Suatu petang di bilangan Semanggi, arah Cawang. Lalulintas sedang "lucu-lucunya". Situasi padat merayap, sekitar 5 km/jam. Tapi itu hanya berlaku buat si roda dua, yang selap-selip di sela-sela barisan rapi si roda empat.

Mobil-mobil praktis berhenti total. Tak terlalu lama untuk memastikan biang dari kemacetan itu. Pertama mobil Mercedes Benz S600 yang mati mesin di jalur paling kanan. Lalu, Pak Pul yang membuka-tutup arus lalulintas, bergiliran dengan arus kendaraan yang baru masuk lewat putaran dari Sudirman.

Ahh, betapa merdekanya meluncur dengan si Tornie, sambil mencari-cari celah untuk meloloskan diri, seolah sedang berselancar di pantai, dengan mencari ombak yang bagus. Sementara mobil-mobil (pengemudinya) tampak stres, meski dibuai oleh sejuknya hembusan angin AC di dalam sana.

Tapi bukan itu loh, alasanku menunda membeli mobil.   

Foto: Jakarta seperti itu, tinggal kenangan. (jakartakotague.files.wordpress.com) 


Posted by Tian on Apr 3, '08 11:46 PM for everyone
BMW dan motor kok berantem? Tentu saja yang dimaksud masing-masing pengendaranya. Menurutku, selaku pengamat di tempat kejadian, kejadiannya (dan solusinya, seharusnya) simpel saja.

Waktu itu, di perempatan Pancoran, kendaraan sedang mengantri karena lampu lalulintas menyala merah. Sebuah Avanza keluar dari sebuah pusat perbenjaan di pojokan jalan Saharjo, dan berhasil keluar separuh badannya, karena di depannya tertahan antrian mobil.

Di belakang Avanza itu ada sedan BMW silver, yang roda depannya masih di atas trotoar, sehabis pos karcis parkir pusat perbelanjaan itu. Lalu, muncullah sebuah motor bebek berpenumpang dua orang yang nyelip di antara Avanza dan BMW itu. Motor itu tertahan, karena celah antara kedua mobil itu tidak cukup baginya untuk lewat.

Tiba-tiba pengemudi BMW itu --seorang lelaki tua-- membunyikan klakson berkali-kali ke arah motor itu. Bunyinya memekakkan telinga. Rupanya si pak tua tak rela motor menyela di depan mobilnya, padahal mobil itu jelas-jelas belum memasuki badan jalan. Seorang perempuan setengah baya, yang diduga istrinya, turut marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah motor.

Mendapat sambutan meriah seperti ini, orang yang dibonceng motor menyambut balik tak kalah sengitnya. Pengendaranya juga turut mengamini.

"Apa lo? Hah, mau apa lo?" hanya itu potongan kalimat dari pengendara motor yang sempat aku dengar, karena makian dari pengendara BMW tak terdengar sama sekali, kecuali gerak tubuhnya.

Duh, pak tua, pak tua, segitu aja diributin. Wong sabar dikit, prioritaskan pengguna jalan di jalan utama, ketimbang kendaraan yang mau masuk ke jalan. Gitu aja kok marah!  



Posted by Tian on Jan 29, '08 3:45 AM for everyone
Link: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.29.11543873&channel=1&...

Masukan yang bagus nih! Sumber: Kompas.com



Memelihara kemarahan diamini banyak orang hanya akan mendatangkan dampak buruk dalam segala hal. Sayangnya, saat amarah itu datang, banyak orang pula tak kuasa membendungnya, dan menumpahkannnya dalam banyak cara juga. Lantas bagaimana jika rasa marah itu datang saat tengah berkendaraan. Apalagi kondisi lalulitas, baik kemacetan maupun cara mengemudi pengguna jalan di kota besar seperti Jakarta memang "ampuh" untuk mengundang "si marah".

Begitu emosi terpancing, selain membunyikan klakson panjang, umumnya pengendara mobil menggeber-geber pedal gas. Baik untuk tujuan menambah akselerasi agar bisa mengejar pengendara lain yang telah membuatnya marah. Atau hanya sekadar menunjukkan pada orang di sekelilingnya bahwa ia tidak nyaman dengan situasi tertentu.

Sikap agresif di jalan raya tak bisa dibantah, berpotensi mengakibatkan dampak buruk. Baik bagi pengemudi maupun pengguna jalan yang lain. Tapi, kalau pun selamat dan tak terjadi apa-apa, ada kerugian lain yang tak disadari. Bensin boros!

Akselerasi yang fluktuatif dan agresif menyebabkan suplai bahan bakar di mobil kita menjadi tidak konstan dan terbuang tidak sesuai dengan takaran sebenarnya. Saat pedal gas diinjak dalam-dalam, maka saat itu pula aliran bahan bakar akan memancar dengan keras. Lantas, belum sempat berjalan konstan, mobil mengurangi kecepatan dengan cara yang tidak halus pula. Akselerasi tak konstan macam inilah yang menjadi penyebab bakan bakar terbuang percuma.

Bagaimana dengan sekadar menggeber tanpa berakselerasi? Tak beda. Sebab, saat gas naik turun dengan ekstrim saat itu pula suplai bahan bakar mengalir "sesuai irama". Malah sesungguhnya 'gaya' macam ini jauh lebih boros, karena bensin terbakar percuma tanpa menambah jarak tempuh toh?

Sebaliknya, ada banyak cara untuk mengefisienkan konsumsi bahan bakar di tengah harga yang terus melambung, tanpa harus melakukan modifikasi mesin. Cukup cara mengemudi yang disempurnakan, maka mobil akan lebih irit. Misalnya, peningkatan akselerasi kendaraan yang dilakukan secara gradual dan halus sehingga mesin bisa mengoptimalkan bahan bakar yang diterima, untuk dikonversi menjadi tenaga. Kemudian, upayakan laju kendaraan meluncur dengan stabil pada kecepatan yang konstan. Ingat, alasan inilah yang menyebabkan perjalanan ke luar kota terasa lebih hemat bahan bakar, dari pada perjalanan di dalam kota. Di luar kota mobil dapat melaju konstan. Sementara di perkotaan, pengemudi dipaksa melakukan "stop n drive" yang menyebabkan mesin "minum" lebih banyak.

Pemanasan mesin pun memiliki sumbangan berarti untuk berhemat. Disarankan mobil tidak digeber sebelum mencapai panas yang optimal. Hal ini bisa dilakukan dengan mengendari kendaraan pelan, sebelum indikator panas mesin mencapai level normal. Saat panas mesin sudah mencapai titik normal, perpindahan persneling pun harus dilakukan dengan teratur. Biasakan memakai putaran mesin sesuai dengan kebutuhan, terlebih bagi kendaraan dengan transmisi manual. Perpindahan persneling pun akan membantu penghematan jika dilakukan dengan cepat, tanpa memberi kesempatan pada mesin untuk menahan putaran.

Hal lain yang juga pantas diperhatikan adalah, tekanan angin pada ban. Ban yang kekurangan angin akan menambah beban kendaraan saat melaju yang akhirnya membebani kerja mesin. Hasilnya bahan bakar akan terpakai lebih banyak. Disarankan, pemeriksaan tekanan angin dilakukan setiap bulan, dan melakukan rotasi ban pada saat perawatan berkala. Berbicara tentang perawatan berkala, maka boleh jadi hal ini merupakan poin paling utama dari penghematan tersebut. Mobil yang dirawat dengan baik tentu akan mengonsumsi bensin lebih efisien. (GLO)

Foto: kompas/getty images

Posted by Tian on Jan 24, '08 9:19 PM for everyone

Lalulintas dari arah Depok menuju Jakarta, di pagi hari sering macet, itu sudah biasa. Motor-motor yang menaiki trotoar, untuk mencari peluang terbebas dari kemacetan, itu juga biasa. Tapi ada yang luar biasa pagi itu, saat aku melewati jalan baru Lenteng Agung (dekat Petronas).

Ada sekitar 20 motor di atas trotoar yang sempit (hanya cukup satu motor) mengantri. Macet total! Aku, yang berjalan di pinggir jalan dekat trotoar, dengan gampang melewati mereka. Ada apa gerangan?

Ternyata di ujung sana ada seorang pejalan kaki, seorang ibu yang berbadan cukup subur, berbaju dan berjilbab putih, dengan santai berjalan di atas trotoar --jalur yang menjadi hak pejalan kaki.

Barisan motor yang menguntit ibu itu dan sebagian membunyikan klakson tanda tak sabar, tak dihiraukannya. Ibu itu asik berjalan dengan lambat-lambat, dan sesekali merentangkan tangannya, tanda menolak mengalah pada motor-motor tak tahu diri itu.

"Rasain, sekarang kena batunya," pikirku. Tadinya aku mau ngasih dua jempol buat ibu itu, saat berada sejajar dengannya. Tapi, kedua tangan kan sedang memegang setang Si Tornie. Jadi, dua jempolnya cukup dalam hati, diiringi senyuman. Hitung-hitung hiburan di tengah kemacetan.

Catatan: Tapi kalau anda sebagai pejalan kaki, dan mengambil sikap seperti ibu itu, jangan coba-coba kalau sekiranya di belakang anda itu "aparat" --yang bisa saja menggebuki pejalan kaki, meski tak salah. Seperti kejadian yang dialami Priyantono, temanku yang jadi wartawan Republika. Dia mengalami amnesia akibat digebuki dua "aparat" berseragam loreng, gara-gara nggak mau menyingkir dari trotoar, guna memberi jalan motor "aparat" itu lewat.  

 


Posted by Tian on Dec 13, '07 10:47 PM for everyone

Saat angkot biru yang berjalan pelan itu hendak berbelok ke kanan secara tiba-tiba, dan aku hendak menyalipnya dengan sedikit membetot grip gas, tumbukan pun terjadi. Badan dan motorku merapat ke bodi angkot dengan kekuatan yang lumayan besar, hingga nyungsep di aspal!

Seperti biasa dalam kasus lalulintas, masing-masing punya argumentasinya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan kami, saat kejadian di daerah Srengseng Sawah (dekat Yon Zikon), Jumat pagi ini. Dia yakin sudah ngasih lampu sein, aku yakin dia belok tiba-tiba saat kendaraan kami sudah sama-sama sejajar.

Tapi aku cepat memotongnya (dengan suara sedikit meninggi). "Jangan dulu bilang ini-itu, tanya dulu dong, apa saya baik-baik saja! Yang jatuh kan saya!!!"

Sopir angkot: "Bapak nggak kenapa-kenapa? Nggak luka?"

Aku: "Alhamdulillah, nggak apa-apa. Tapi lihat motorku, spion dan tuas rem depannya patah."

Sopir angkot: "Saya kan tadi sudah ngasih lampu sein."

Seorang lelaki yang sedang menunggu angkot, yang menyaksikan kejadian itu mencoba menengahi. Sudah, damai saja Pak.

Aku (yang mulai merasakan pedih karena lecet di bagian tungkai kiri dan paha bagian atas): "Begini saja. Tolong belikan aku..."

Sopir angkot: "Spion?"

Aku: "Bukan. Betadine (obat antiseptik)."

Sopir angkot (yang mengaku baru keluar dari garasi --artinya, gak punya duit): "Oh, di sana Pak, ada warung."

Kami pun sama-sama ke warung. Dia beli Betadine dan plester Hansaplas. Aku pun mengoleskan Betadine yang memedihkan itu ke luka lecet kecil di kaki, dan menutupinya dengan Hansaplas.

Aku: "Ini Betadine dan Hansaplas-nya buat Abang di mobil."

Sopir angkot: "Terima kasih, Pak. Selamat jalan. Hati-hati di jalan."

Aku: "Maaf juga mobilnya (yang mengalami lecet di bagian kanannya).

 


Posted by Tian on Nov 19, '07 9:17 PM for everyone

Istilah "setan budeg", "setan keder", atau sebutan lainnya, muncul dari warga setempat, untuk menyebut lokasi perlintasan kereta api yang sering memakan korban. Karena katanya, si korban seolah tak menghiraukan kereta yang bakal lewat dalam hitungan detik. Ia tetap melangkah (atau menjalankan kendaraannya), kendati sudah diperingatkan klakson lokomotif yang bersuara keras itu, atau orang-orang sekitar tempat kejadian.

Fenomena macam apakah ini?

Fisikawan Johannes Surya punya jawaban lain. Menurutnya berdasarkan teori fisika, ketika KA melintas maka tekanan udara di sisi KA atau di depan kendaraan yang berhenti menunggu KA lewat akan mengecil. Sebaliknya, tekanan udara di belakang kendaraan itu membesar, yang mendorong orang ke depan. Wallahualam.

Yang jelas, aku saat menunggu kereta api lewat, posisiku tetap berada sebelum pintu kereta. Menunggu dengan sabar. Jangan sampai kita melewatinya, karena kita bisa tergoda untuk menerobos, karena merasa, kereta masih jauh. Padahal...
Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

"Perhatian, perhatian. Kepada pengguna jalan raya, perlu diberitahukan, bahwa..."

Kutipan Harian Poskota
Mitos Setan Budeg


JAKARTA (Pos Kota) – Mitos “setan budeg” pasca kecelakaan maut di Cipinang, Jakarta Timur, kembali muncul ke permukaan. Seringnya terjadi kecelakaan maut di pintu lintasan KA tersebut, konon akibat penyeberang dibuat “budeg” sehingga terus menyeberang meski lokomotif sudah membunyikan klakson.

Hal ini dikemukakan beberapa penduduk di sekitar lokasi kejadian. Pengalaman mengerikan pernah dialami Way, 27, tukang ojek, saat akan mengantar penumpang ke daerah Pisangan Lama. Meskipun palang pintu telah tertutup, namun di bawah alam sadar ia tetap melintasinya. Beruntung penumpang yang diantarnya langsung menegur. “Setelah kejadian itu saya gak ngojek seminggu karena sakit,” kata Way, Kamis (15/11).

Sepanjang perlintasan kereta api dari Stasiun Jatinegara hingga Pasar Induk Cipinang, terdapat tiga pintu perlintasan KA di antaranya; pintu Pisangan Lama, Kebon Sereh, dan Cipinang Lontar. Menurut warga, di ketiga tempat itulah sering terjadinya kecelakaan. “Penyebrang dibuat tidak mendengar dan tetap menyeberang, padahal klakson kereta udah bunyi,” ujar Taufik, tukang ojek yang biasa mangkal di Cipinang Latihan.

Terlepas dari keberadaan setan budeg, setan keder, kesalahan manusia atau peralatan mekanis, Johannes Surya, fisikawan dari Universitas Multi Media Nusantara, melihatnya dari sisi lain. Menurutnya berdasarkan teori fisika, ketika KA melintas maka tekanan udara di sisi KA atau di depan kendaraan yang berhenti menunggu KA lewat akan mengecil. Sebaliknya, tekanan udara di belakang kendaraan itu membesar.

Nah, besarnya tekanan di belakang mobil bisa mendorong kendaraan itu maju hingga mobil tertabrak KA. Apalagi jika jarak mobil dengan KA yang melintas sangat dekat. “Namun demikian diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan teori itu.” jelas pakar fisika yang telah mengantar sejumlah pelajar Indonesia memenangkan medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional ini.

Penumpang minta berhenti

Iswati Sarifah, 45, seorang penumpang yang selamat mengatakan, naik mikrolet tersebut dari depan kantornya di LP Cipinang Kelas I Jl. Raya Bekasi Timur. Ia duduk menghadap pintu angkutan. Di sebelah kirinya duduk wanita penumpang lain. Mendekati pintu lintasan KA Cipinang Lontar, ibu dua anak itu mendengar sirine tanda kereta akan lewat. Mikrolet berhenti di sebelah kanan truk. Palang perlintasan kereta mulai turun. “Mobil agak maju melebihi palang itu,” ungkapnya.

Saat bersamaan Iswati melihat sopir memainkan persneling. Perasaan tak enak menyergapnya. Ia tak tahu sopir akan memajukan atau memundurkan mobilnya. Iswati pun langsung membereskan tas dan bersiap turun. Namun, belum lagi ia keluar mobil, kereta langsung lewat. Iswati pun terlempar dari mikrolet. “Saya merasa gelap lalu terang..saya pikir saya mati..” ungkap warga RT 07/03 Cipinang ini.

Sementara itu, suasana duka meyelimuti rumah keluarga Helen Hanu di Asrama Polri Cipinang Atas, Jaktim. Sebelumnya, jenazahnya tak diketahui identitasnya. Stevanus Santa, rekan kerja Helen, mengatakan wanita satu anak itu pulang dari tempat kerjanya di GBI Kenari. “Kami mengenali jenazah itu sebagai Ibu Helen dari mata kanannya yang menggunakan mata palsu dan celana panjang hitam yang dikenakannya,” ujarnya.

Hal serupa terlihat di kediaman Asmi Nawami di Jl. Sodong Utara, Cipinang. Erlinda, anak semata wayang korban, kini harus hidup sendiri. Ia tak berhenti menangis, teringat ibunya yang tetap gesit sekalipun sudah berusia 65 tahun. “Sekarang saya hanya sendiri membuat kue. Biasanya selalu bersama ibu karena ia pandai membuat kue dan masakan lainnya,” ungkap Erlinda tentang ibunya yang sering menerima pesanan kue tetangga.

Ketika kecelakaan terjadi, sang ibu ketika itu bermaksud pulang setelah membesuk kerabatnya yang dirawat di RS Polri Kramatjati. Erlinda tak bisa mengantar karena kondisinya sedang tak sehat menunggu operasi rahim.

(c7/harto/yuli)

Foto: salah satu perlintasan KA tanpa pintu (Pikiran Rakyat)


Posted by Tian on Jul 16, '07 12:10 AM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Mungkin itu pertanyaan yang terlontar dari para pembaca atau pemirsa televisi, setelah melihat foto atau tayangan gambar mobil maut yang ditumpangi Taufik Savalas, yang bertabrakan dengan truk gandengan bermuatan semen, Rabu (11/7). Terus terang, Gatra.com juga menulis Innova. Kenapa? Karena kantor berita Antara pun menulisnya begitu, sementara saya sendiri belum lihat foto kendaraannya. Jadi, ini sekalian ralat (termasuk pelat nomornya. Juga buat jurnal saya di Multiply).
Foto: © 2007 Bagus Kurniawan (kiriman dari seorang teman)

Posted by Tian on Jul 12, '07 1:41 AM for everyone
Link: http://gatra.com/artikel.php?id=106036

Komedian Taufik Savalas tewas seketika dalam tabrakan antara Kijang LGX metalic gold B 2089 OH yang ditumpanginya bersama kru iklan sabun Lifebuoy, dengan truk gandengan Fuso D 9832 AA, di Purworejo Jawa Tengah, Rabu (11/7), sekitar pukul 21.15 WIB.



Sumanto, 25 tahun, sopir truk gandengan itu, menyerahkan diri ke Markas Polsek Bagelan, Purworejo, Jateng.

"Saya sempat menolong seorang yang duduk di kiri sopir mobil. Tetapi karena begitu banyak orang datang, saya lari ke kepolisian setempat," katanya, di sela pemeriksaan polisi di Kantor Satlantas Polres Purworejo, di Purworejo, Kamis (12/7).

Kronologis Kejadiannya
Menurut Sumanto, truk gandengan yang bermuatan semen yang dibawanya, saat melaju di kilometer 12-13, Desa Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menghindari truk gandengan lainnya di depannya yang mengerem mendadak.

Ia lalu membanting kemudi ke kanan secara mendadak sambil mengerem. Namun, dari arah berlawanan, muncul Kijang Innova yang ditumpangi Taufik. Tabrakan pun tak terhindarkan.

Sumanto mengaku, saat membawa truk --yang akan mengantarkan semen dari Cilacap ke Madiun itu-- dirinya tidak sedang mengantuk.

Berita selengkapnya, klik di sini.

image truk fuso: hiu.co.id

Posted by Tian on Jun 5, '07 10:55 PM for everyone

Kemarin aku ke Bandung untuk menunggui ayahku yang dioperasi di RSHS (Rancabadak), Bandung. Dari Terminal Leuwipanjang, aku naik angkot ke Kebon Kalapa. Dari sana, aku naik angkot Kb. Kalapa-Ledeng.

Nah, pengalaman naik angkot Ledeng (Mitsubishi T-120 SS) inilah yang sensasinya serasa naik jet coaster plus mangkel pada si sopir ontohod.

Mulai dari jalan Karapitan, angkot itu sudah berjalan susuruduk, alias seenak perutnya sendiri. Idem dengan para pengendara motor. Misalnya, memotong mobil yang sedang berjalan kencang secara frontal.

Memasuki jalan Sunda, angkot yang penumpangnya sedikit itu terus membunyikan klakson, sambil berslalom ke kiri dan kanan, menyalipi mobil-mobil dan motor. Pas lihat motor yang nyaris ketabrak --hanya beberapa senti dari moncong angkot-- jantungku serasa berhenti berdetak. Juga saat ada pengendara motor asik ber-HP ria sembari berjalan pelan, di tengah-tengah pula! Angkot tampak tak sabar untuk mendahuluinya, dengan menyodok-nyodokkan mobilnya, seolah mau menabraknya.

Kombinasi angkot polontong plus motor sangeunahna, klop sudah. Jadilah sebuah horor di jalan raya, terutama bagi para penumpang. Bukan apa-apa. Saya mengkhawatirkan pengguna jalan lain yang jadi korban kebrutalan sopir di jalan raya (selain juga diri sendiri, karena kemungkinan celakanya lebih besar).

Aksi horor di petang hari itu langsung kuakhiri, bersamaan dengan sampainya di tujuan; perempatan Cipaganti-Pasteur. Aku pun teriak: Kiri! *sambil menyodok taktak si supir*

Supir angkot Bandung, nu baleg euy ari nyupir teh! Can ngarasaan diteunggeulan tentara, nya? 

(Di Jakarta, sepanjang jalur yang biasa kulalui --Citayam-Kalibata PP-- belum pernah nemu angkot sebrutal itu. Sudah seagresif itukah sekarang Bandung???)

Keterangan:  

ontohod: susah diartikan. tapi kira-kira, "panggilan sayang" bagi orang yang kita marahi.

susuruduk: seradak-seruduk

polontong: sombong

sangeunahna: seenaknya

taktak: pundak

nu baleg euy ari nyupir teh! Can ngarasaan diteunggeulan tentara, nya?: yang bener kalau menyopir! Belum ngerasain dipukuli tentara, ya?


Posted by Tian on Apr 23, '07 7:55 AM for everyone

Presiden Yudhoyono, saat membuka Pekan Keselamatan Transportasi Darat, mengungkapkan, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalulintas jauh lebih tinggi dibanding prajurit saat melakukan operasi militer.

korban kecelakaan lalu lintas juga didominasi oleh warga usia produktif yang tentunya merupakan bagian dari kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga.

"Dengan demikian, secara tidak langsung kecelakaan lalu lintas bisa mempengaruhi kegiatan ekonomi," kata presiden.

Berdasarkan data PBB, angka kecelakaan lalu lintas di dunia pada 2004 mencapai sekitar 1 juta korban tewas, dan 50 juta orang luka berat dan ringan.

Sedangkan di Indonesia pada periode yang sama, dari 20 ribu kasus kecelakaan sekitar 11 ribu di antaranya mengakibatkan korban tewas.

Selengkapnya cek di: http://gatra.com/artikel.php?id=104054

* * *

Fakta:

Jumlah korban kecelakaan lalulintas (yang sebagian besar disebabkan human error), jauh lebih besar dibanding angka korban operasi militer (perang) dan korban tewas akibat wabah flu burung.

Kalau flu burung saja disikapi sedemikian waspada dan penuh perhitungan, seharusnya dalam berlalulintas, jauh lebih waspada dan penuh perhitungan. Ingat, nyawa kita cuma atu-atunya!  


Posted by Tian on Mar 14, '07 12:51 AM for everyone

Sore itu, aku, Fay dan ibunya, dalam perjalanan pulang dari Depok. Di daerah Cipayung, Pancoranmas-Depok, ada mobil Daihatsu Feroza mau mundur dari pekarangan. Karena motor sedang berjalan cukup laju, aku minta prioritas, agar mobil itu jangan dulu mundur.

Ternyata, motorku semakin dekat, mobil itu terus mundur. Langsung aku "seru" dengan klakson plus geberan gas (motor 2 tak gitu loh, garang geberan gasnya).  

Mobil pun berhenti mundur. Tapi sopirnya berseru dengan nada galak, "Hooiii sabar!"

(Bahkan menurut istriku, yang sempat liat muka si sopir, mukanya sampai memerah seperti kepiting rebus).

"Loh, siapa yang nggak sabar?" pikirku, sambil berlalu.

Dia rupanya nggak inget soal prioritas. Yang diprioritaskan, kendaraan yang sedang berjalan di jalan raya, bukan dari pekarangan.   

Foto: Feroza merah-silver seperti inilah yang pengemudinya "sabar" itu (balicarrentals.com)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help