Tian's posts with tag: lingkungan
Posted by Tian on May 13, '08 2:19 AM for everyone "Loh, lampu kamar mandinya kok kamu matikan?" tanya seorang teman kantor, ketika suatu maghrib aku keluar dari kamar mandi mushalla di kantor. "Sudah kebiasaan di rumah," jawabku spontan. Mematikan lampu sehabis ruangannya dipake, terbilang pekerjaan sederhana. Istilahnya, anak balita pun bisa melakukannya. Tapi justru yang sederhana itu tidaklah mudah untuk diaplikasikan. Mematikan lampu yang tak terpakai terbilang pengiritan listrik, betapa pun kecilnya. Di Indonesia, listrik sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil alias minyak bumi. Dan minyak bumi itu tergolong sumberdaya alam tidak bisa diperbarui. Kalau SDA ini lekas habis, bagaimana jadinya anak cucu kita? Think global dong. * * * Sekarang ini, orang-orang di kampungku dan kampung-kampung lainnya di seputaran Jabodetabek, sudah akrab dengan gergaji mesin (chain saw) --yang jadi "monster" bagi kelestarian lingkungan, khususnya hutan. Pasalnya, gergaji bertenaga mesin dua tak ini begitu membantu pekerjaan mereka. Mulai dari menebang pohon di kebun, sampai "menyulap" batangan pohon --khususnya batang pohon nangka-- menjadi potongan-potongan kayu untuk talenan (alas untuk memotong). Dengan gergaji mesin, bikin talenan, bisa dilakukan sendiri, dalam hitungan menit, langsung jadi. Tapi... di balik kemudahan ada kerusakan. Kebun, dengan gampang "diratakan" menjadi lahan kosong, yang kemudian dijual pada orang-orang kota (Jakarta). Sering terjadi, kebun yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun, dijual (biasanya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pemiliknya), dan pohon-pohonnya "dibantai" dulu. Meski kebun itu milik sendiri, seandainya mereka menyadari, kalau pohon-pohon itu dibiarkan apa adanya. Karena sebagai penyuplai oksigen (O2), pohon-pohon itu jelas diperlukan mahluk hidup di dunia ini. Kalau setiap pemilik kebun menebangi pohon-pohonnya, apa jadinya dunia? Think global dong. Mungkin, postingan ini terkesan seperti "anjing menggonggong" (kafilahnya terus berlalu). Tapi paling tidak, dengan terus menerus disosialisasikan, dan memulainya dari lingkungan terkecil kita, secara tidak langsung kita sudah "menyelamatkan dunia". Think globally, act locally.
Posted by Tian on Apr 26, '08 9:40 PM for everyone Semalam aku iseng "menyusuri" Sungai Citarum hingga ke hulunya di Gunung Wayang, Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan mencermati foto satelit DAS (daerah aliran sungai) itu. Ternyata, hulu sungai terpanjang di Jawa Barat ini tak lebih dari sebuah bukit yang tampak gersang, yang didominasi lahan perkebunan. (Lihat foto ini). Pantas saja Citarum sering longsor dan banjir bandang, hulunya saja tidak didominasi pepohonan --apalagi hutan, sebagaimana sungai pada umumnya. Bahkan rumah-rumah penduduk tersebar hingga jauh ke hulu sungai. Yah, pantas saja kalau alam "murka". Misalnya mengirim air bah secara rutin ke wilayah Bandung Selatan. Wong, manusianya aja tak menghargai alam. Karena itu, obsesiku adalah, "menghijaukan kembali hulu sungai kebanggan warga Jawa Barat itu." Tapi, anda warga Jakarta, jangan dikira tak berhubungan sama Citarum sama sekali. Air kali buatan Kalimalang kan berasal dari Citarum (Karawang) juga. Tahukah anda, air minum dari PT Thames PAM Jaya (TPJ) airnya dari Kalimalang (Citarum) juga?  Foto: Bendungan Saguling memanfaatkan aliran sungai Citarum (iselantang.files.wordpress.com)
Posted by Tian on Apr 26, '08 12:59 AM for everyone DKI Jakarta tampaknya tengah melakukan pembenahan administrasi kependudukan. Artinya, Kartu Keluarga (KK)-ku yang lama bakal diperbarui. "Juga KTP-nya," kata mertuaku. Wah, kebetulan kalau gitu, karena KTP-ku dan KTP-istriku di bulan-bulan depan habis masa berlakunya. Tadi pagi, setelah melengkapi segala persyaratan (KK plus fotokopinya, fotokopi KTP, dan pas foto 2x3), aku berangkat ke rumah Pak RT, sekalian berkenalan. "Bakal memakan waktu lama. Sekitar sebulan lah," kata Pak RT, soal pengurusan KK yang baru itu. Pasalnya, pemohon satu kelurahan, dalam waktu bersamaan menyerahkan berkasnya. Batas akhir penyerahan berkas, akhir bulan ini. Ya, gpp lah. KK baru, KTP-pun baru, tanpa harus dua kali repot. (jarak Sasakpanjang-Penggilingan, jauh bo!) 
Posted by Tian on Apr 10, '08 6:17 AM for everyone Masih seputar kerja bakti di lingkungan RW, Minggu (3/4). Namanya juga kerja bakti, selain tidak dibayar, juga bidang pekerjaannya bersih-bersih. Yang paling utama dibersihkan di komplekku, adalah membersihkan rumput liar yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan. Nah, rumput liar, identik dengan, kalau bukan arit, ya cangkul. Kalau arit, selain kurang ahli mengarit, juga arit yang kupunya, tak cukup tajam untuk memotong rumput. Sedangkan cangkul, selain berat (maklum, gini-gini juga pekerja kantoran), juga gagang cangkulku patah, dan belum dibenerin sampe sekarang. Alternatif yang kupilih adalah pakai cangkul kecil (kored --Bhs Sunda). Cangkul kecil yang kupunya, modifikasi dari bekas sekop kecil (ujungnya tajam) yang dilas pada bekas gagang cangkul kecil. Hasilnya, tajam! Apalagi kalau rajin diasah pake batu asahan.  Bermodalkan kored tajam yang super enteng itu, kerjaku cukup efektif. Dengan tenaga minimal (dari tangan yang dilindungi sarung tangan untuk bersepeda motor), hasilnya maksimal. Rumput di jalanan --yang penuh bebatuan itu-- jadi lebih bersih dibanding dengan cangkul biasa. Apalagi cangkul yang gagang kayunya sering copot. Cape deh!  Oya, aku milih tempat kerja yang teduh, dan deket tempat makanan & minuman. Biar gampang minum kalo haus! (curang.com) 
Posted by Tian on Mar 5, '08 12:25 AM for everyone Beberapa hari lalu, aku memenuhi undangan Bang Latief untuk mampir di "rumah surganya". Rumah asri yang sudah 100 persen selesai itu berada di lingkungan yang asri pula, sebab lingkungannya masih didominasi pepohonan dan tanaman yang menghijau. Begitu memasuki gang menuju rumah Bang Latief dan Ari, yang berada di Kukusan, Kota Depok, Jawa Barat itu, udara segar khas pagi hari segera meresap ke paru-paru ini. Padahal, waktu itu hari sudah agak siangan. "Bang, di sini serasa pagi terus!" komentarku, begitu sang tuan rumah membukakan pintu untukku. Di Kukusan ini, katanya, waktu seolah tak beranjak --saking betahnya. "Tau-tau udah siang aja," kata Bang Latief. Kami ngobrol-ngobrol di halaman dalam, berupa taman yang ditumbuhi rumput, kolam kecil, dan air terjun buatan, yang di atas sebelah luarnya dinaungi pohon rambutan besar milik tetangga. Obrolan kami ditingkahi suara gemerecik air terjun mini itu. Obrolan tambah seru setelah aku disuguhi satu mug teh manis hangat plus satu cangkir susu murni fresh from the cow! Oya, tak jauh dari rumah Bang Latief, ada peternakan sapi perah. Jadi, protein hewani yang satu ini terus melimpah. Sayang sekali, aku nggak bisa berlama-lama berada di rumah yang bikin betah itu, karena tugas mengapdet berita sudah menungguku. Terima kasih Bang Latief atas undangannya. Terima kasih pula suguhan teh manis dan susu murninya.  Foto: Bang Latief di depan rumah barunya [dok Latief]
Posted by Tian on Mar 1, '08 8:05 PM for everyone Pagi ini, seorang perempuan bertamu. Ia berseru dari luar pagar, "Assalamu'alaikum! Bu?" "Waalaikum salam!" jawabku. Aku melongok keluar, karena istriku sedang di kamar mandi. Ternyata Mbak penjual jamu yang bersepeda. Bukan langganan beli jamu sih, karena kami (sudah lama) tak minum jamu, tapi langganan sirih. Ya, Mbak Jamu itu mau membeli daun sirih yang tumbuh di halaman rumah kami, buat bahan pembuat jamunya. Membeli? Benar, karena dia menyodorkan uang --meski daun sirih itu tak pernah kami nilai dengan rupiah. Selama ini, para tetangga hampir setiap hari berdatangan, untuk meminta daun sirih --untuk berbagai keperluan. Sirih kan mengandung antiseptik alami. Para tetangga yang minta daun sirih itu kami persilakan memetik sendiri. Demikian juga dengan Mbak Jamu itu. Ia sudah sering datang dan memetik sendiri daun sirih yang dia perlukan. Selesai memetik sejumput daun sirih yang dipilihnya sendiri, ia berucap terima kasih sambil menyodorkan Rp 1.000. Aku sambut dan berucap terimakasih juga. Ia memang biasa membeli, dan tetap bersikeras agar kami tak menolak uangnya. Mungkin ini dianggapnya sebagai bagian dari modal usaha. Aku hargai itu. Alhamdulillah. Lumayan rezeki di pagi hari, buat jajan Fay. image: bio-asli.com
Posted by Tian on Jan 25, '08 6:18 AM for everyone Kepengurusan baru, kebijakan baru. Biasanya, di mana-mana juga gitu. Demikian pula di lingkunganku. Saat kepengurusan RT baru (hasil pemekaran) terbentuk, muncul lagi kewajiban baru --yang sebenarnya tidak asing lagi: melakukan ronda malam! Biasanya, di kepengurusan RT lama (yang kini ketuanya jadi Pak RW), ronda itu wajib dilakukan hanya saat Ramadhan tiba. Setiap kepala keluarga kebagian tugas melek semalam suntuk di pos kamling dan berkeliling kampung itu, sekali dalam satu minggu. Sekarang, di luar bulan Ramadhan, kewajiban yang sebenarnya tidak sehat bagi tubuh (ingat lagu "Begadang"-nya Rhoma Irama) itu kembali ditetapkan. Mana namaku urutan pertama, dan ditunjuk jadi kepala regu pula!Dan giliran pertama ronda itu dimulai.... hari ini! Ya, malam ini, sepulang dari kantor (entah jam berapa pulangnya nih), aku langsung nyambung meronda, yang dimulai dari jam 12 malam sampe jam 4 pagi. Wah, musti siap-siap doping, ups, maksudnya vitamin deh. 
Posted by Tian on Jan 19, '08 10:52 PM for everyone Tadi pagi di lingkungan RT-ku digelar kerja bakti membersihkan salah satu jalan yang ditutupi rumput dan gotnya ditutupi tanah. Di pinggir jalan ada bak bekas adukan semen --di depan sebuah rumah yang sedang dibangun-- terisi air hujan, yang dikhawatirkan jadi sarang nyamuk. Aku pun mengusulkan pada Pak RT untuk membongkarnya. Setelah minta izin pada teman pemilik rumah dan di-iya-kan, pembongkaran pun dimulai. Ternyata, meski digempur pake palu godam segede gaban, dinding bak itu begitu kokoh. Padahal, yang melakukannya seorang "profesional". Maksudnya, pekerjaannya memang tukang batu. Satu dinding bak pun hancur luluh. Tinggal tiga sisi lagi. Namun sang "profesional" rupanya kelelahan, dan beristirahat sambil merokok. Warga non "profesional" mencoba mengambilalih pekerjaan berat itu. Pertama seorang PNS di Depdiknas. Dalam hitungan detik, lelaki yang sehari-hari bekerja di belakang meja itu pun langsung tumbang dengan napas kembang-kempis. Lalu seorang lagi mengambilalih. Tak tanggung-tanggung, orang itu tak lain adalah 'pejabat' di salah satu departemen. Dibilang 'pejabat' karena jabatannya cukup tinggi. "Sekali-kali, boleh nih pejabat merasakan jadi kuli," pikirku sambil tersenyum. Kali ini, pejabat yang juga seorang insinyur itu bekerja, selain memakai otot, juga pakai otak. Menurutnya, menggempur benda keras semacam ini perlu strategi. "Harus dicari 'uratnya'," ujarnya, berteori. "Urat" yang dimaksud seperti "urat batu", yakni alur belahan batu gunung jika dipukul palu. Tapi ini kan adukan beton? Akhirnya, setelah beberapa kali ayunan, 'pejabat' itu pun menyerah. Menurutnya, tak perlu mencari urat untuk menggempur beton ini, melainkan harus memakai tenaga penuh. Aku hanya ketawa mendengar ucapannya, dan tak coba meneruskan pekerjaan menggempur beton itu, meski awalnya aku yang mengusulkan. Aku memilih pekerjaan yang lebih ringan: memindahkan pecahan beton yang berserakan. Pembongkaran beton yang menghalangi jalan itu pun akhirnya selesai setelah dua tukang turun tangan. Dengan godam, linggis, dan cangkul, bak beton itu pun dibikin hancur berkeping-keping. Memang, baiknya serahkan pada ahlinya; the right man in the right place. Kali ini, para pemikir, intelektual, bahkan pengambil keputusan, harus tunduk pada tukang, yang memang bertenaga besar.
Posted by Tian on Dec 2, '07 11:40 AM for everyone Tak ada sorak kegembiraan atau ucapan syukur, saat sang suami mendapat jabatan. Bahkan sang istri seolah enggan menerima kenyataan itu dan ngambek. Pesta potong kambing yang dijanjikannya (seandainya terpilih ketua RW baru) sontak dibatalkannya saat itu juga. Mungkin dalam hati sang istri terucap, innalillahi wainnailaihi roji'un, saat sang suami terpilih menjadi ketua RW. Begitu drastisnya reaksi dari orang-orang yang terpilih menjadi pemimpin lingkungan. Yang tadinya riang gembira (karena yakin tak terpilih), spontan menjadi murung, saat kenyataan memilihnya menjadi ketua RT. Apakah orang-orang di lingkunganku mencontoh perilaku Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang mengganggap jabatan itu bukan anugerah, melainkan musibah, karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban?Wallahualam! Hanya mereka dan Allah yang mengetahuinya. Lingkungan tempat tinggalku memang tengah melakukan reformasi. Komplek perumahan yang tadinya dihimpun dalam satu rukun tetangga (RT), sekarang dikembangkan menjadi sebuah rukun warga (RW). Dan komplek perumahan yang kini dihuni sekitar 200-an kepala keluarga itu dipecah-pecah menjadi empat RT. Nah, Pilkaling (pemilihan kepala lingkungan) yang demokratis itu berlangsung Ahad, 25 November lalu, dengan cara, warga menuliskan langsung nama calon ketua RW/RT yang diinginkan di atas secarik kertas yang disediakan panitia. Calonnya bisa siapa saja. Bahkan bisa menuliskan namanya sendiri! * * * Pemilihan kepala lingkungan secara "besar-besaran" yang pertama kali dilakukan sejak perumahan ini berdiri sekitar 10 tahun lalu, diwarnai berbagai kelucuan. Setidaknya ini bisa jadi hiburan bagi warga, namun "musibah" bagi yang mengalaminya. Seperti diceritakan istriku (aku sendiri tengah berada di Papua, saat pemilihan itu berlangsung), ada tingkah polah warga yang bikin kita ketawa. Seperti Pak Gn, yang tinggal di Blok Belakang (kini jadi RT 1), sempat sesumbar, agar ketua RT yang nanti terpilih, wajib "mentraktir" sewa kolam ikan pemancingan, untuk digunakan warganya "berpesta" mancing ikan. "Kalau di kampung (maksudnya, di luar komplek, Pen), orang akan membedah kolam. Tapi kalau di sini, cukup menyewa satu kolam pemancingan," kata Pak Gn, sebelum pemilihan ketua RT dilakukan. Tapi apa yang terjadi sodara-sodara??? Polling menunjukkan, Pak Gn sendirilah yang terpilih sebagai Ketua RT 1 !!! Begitu hasil pemilihan dibacakan dan menunjuk namanya sebagai "pemenang", sontak wajah cerianya berubah murung. Namun apa daya, warga sudah bulat memilih aktivis olahraga di komplek itu sebagai pemimpin mereka. Sesuai janjinya, ia harus "merayakan" kemenangan yang sama sekali tak diinginkannya itu, dengan menyewa kolam pemancingan. Ada pula kisah lainnya. Di Blok Depan (yang kemudian menjadi wilayah RT 3), Pak Wd bersorak gembira, mengepalkan tangan sambil berseru "Yess!", setiap "kartu suara" menyebutkan nama Pak Tj, sebagai calon ketua RT, tapi terdiam manakala "kartu suara" menyebutkan nama dirinya. Rupanya Pak Wd dan Pak Tj adalah dua nama favorit pilihan warga di wilayahnya. Dan pemilihan itu berakhir dengan "kemenangan" tipis Pak Tj (beda satu suara), yang tentu saja disikapi riang gembira oleh Pak Wd. Bahkan, saking gembiranya, Pak Wd sampai berlari keliling lapangan sambil menebar puluhan lembar uang seribuan rupiah! (yang disambut gembira oleh anak-anak). Benar-benar politik uang yang aneh! Kenapa warga komplek kami enggan terpilih menjadi ketua lingkungan? Aku --yang tinggal di wilayah RT 2-- cuma bisa menduga kuat: karena menjadi ketua lingkungan itu berarti menyumbangkan tenaga, pikiran, sekaligus dana! Selama ini, waktu komplek masih digabung dalam satu RT, Pak RT adalah pemberi solusi, bukan saja dalam masalah sosial-kemasyarakatan, tapi juga masalah ekonomi. Ada kerja bakti, yang paling besar menyumbangkan dana dan peralatan... Pak RT. Ada pesta 17-an, yang paling banyak menyumbang (bahkan menyediakan secara gratis, panggung, grup organ tunggal, plus artisnya)... ya Pak RT. Ada peringatan hari besar keagamaan, yang meminjamkan sound system (tata-suara)... Pak RT juga. Ada kasus penggelapan dana pembayaran rekening listrik kolektif senilai satu jutaan milik warga, yang dilakukan petugas penarikan pembayaran, dananya diganti oleh.... Pak RT! Mudah-mudahan mulai hari ini, salah kaprah bahwa kepala lingkungan itu identik dengan sumber dana (karena secara kebetulan, ekonomi Pak RT paling baik di antara warga komplek), menjadi berubah. Sudah selayaknya dana operasional RT sepenuhnya berasal dari kas RT yang dihimpun dari dana bersama, bukan dana perorangan. 
Posted by Tian on Nov 14, '07 9:48 PM for everyone Link: http://peduli.multiply.com/journal/item/114Kaitkan dua jari telunjuk Anda, dan serukan; “Together We Can Stop Disaster”. Inilah kampanye bersama yang ditelurkan dari hasil pra rapat kerja Aksi Cepat Tanggap (ACT), 13-14 November 2007 di Cipanas, Jawa Barat. Seruan ini merupakan hasil pemikiran para peserta raker selama kurang lebih dua hari dua malam, dan menjelang akhir raker kampanye ini diperkenalkan oleh tim komunikasi ACT. Stop Disaster, tidak bermakna menghentikan bencana seperti bencana alam yang termasuk act of God, semata karena kehendak Allah, antara lain gempa bumi, tsunami, angin puting beliung dan gunung meletus. Stop Disaster dimaknai untuk semua bentuk bencana, baik bencana alam maupun sosial. Stop Disaster lebih diartikan mencegah, baik mencegah bencana itu sendiri maupun mencegah dampak resiko yang lebih besar. Banjir bisa dicegah, kemiskinan, kelaparan, busung lapar, gizi buruk, konflik sosial pun bisa dihindari. Sementara gempa bumi, tsunami, angin puting beliung memang tidak bisa dicegah atau kejadiannya, namun dampak dan resiko bencananya bisa dikurangi dengan berbagai bentuk kegiatan mitigasi bencana seperti pelatihan kesiapsiagaan gempa, penyebaran brosur, flyer berisi himbauan siaga bencana, penyadaran kesiapsiagaan banjir, edukasi langsung ke masyarakat akan potensi bencana di berbagai daerah yang kesemuanya bermuara pada satu target mewujudkan masyarakat sadar bencana (MSB). Anak-anak misalnya, sejak dini sudah harus diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Bahkan jika perlu, mereka sudah diajarkan bagaimana memilah sampah organik dan non organik, sehingga sebagian sampah tersebut bisa bermanfaat sebagai kompos. Memang terdengarnya mudah membudayakan buang sampah, namun ternyata ini menjadi salah satu persoalan terbesar negeri ini. Tentu kita masih ingat kasus keributan yang terjadi ketika tempat pembuangan akhir (TPA) warga Jakarta hendak dipindah dari Bantar Gebang, Bekasi ke Bogor. Contoh lain terjadi di Bandung yang beberapa waktu lalu tiba-tiba menjelma menjadi kota sampah yang bau dan jorok lantaran kota Paris Van Java itu tidak memiliki tempat pembuangan akhir. Membuang sampah pada tempat yang sebenarnya, hanyalah salah satu bagian penting dari pencegahan banjir. Begitu juga dengan bencana lainnya, kelaparan, gizi buruk dan busung lapar, kemiskinan, konflik sosial, juga pemanasan global ( global warming), bisa dicegah dan dihindari sebelum benar-benar terjadi. Jika hari ini masih terjadi berbagai bencana di sekitar kita, masih terlihat anak-anak yang putus sekolah, anak-anak gizi buruk dan busung lapar di banyak tempat, keributan, kerusuhan dan pertikaian antar daerah, suku dan agama, serta fenomena kemiskinan yang tak kunjung reda bahkan makin meluas. Atau saat masyarakat Jakarta terus menerus dihantui bencana banjir setiap kali musim penghujan tiba. Bahkan bagi warga Jakarta, kemacetan pun menjadi bencana yang setiap hari harus dihadapi. Sungguh, semua bencana itu akan terus terjadi menimpa kita, keluarga kita, hingga anak cucu kita di masa datang, hanya karena kita belum bersama-sama menangani, mengantisipasi, bahkan mencegah terjadinya bencana. ACT, MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), DMII (Disaster Management Institute of Indonesia), serta berbagai masyarakat dan elemen peduli bencana mengajak Anda semua untuk, mengaitkan dua jari telunjuk Anda dan berseru “together we can stop disaster”. Serukan “together we can stop disaster” kepada siapa pun yang Anda temui, perkenalkan simbol kebersamaan dengan mengaitkan dua jari telunjuk Anda, agar ini menjadi sebuah gerakan nasional, bahkan mendunia. Together we can stop disaster, Insya Allah, untuk tempat hidup yang lebih baik. (Gaw/ACT) * Sebarkan tulisan ini ke siapa pun sebanyak-banyaknya, berarti Anda sudah membantu mewujudkan masyarakat sadar bencana. Bayu Gawtama Communication Senior Manager ACT www.aksicepattanggap.com 085219068581 Link terkait: [BUKAN SUPERHERO] JADI PENYELAMAT BUMIWARGA BANDUNG "SULAP" SAMPAH JADI BENDA BERHARGAimage: themoneyalert.com 
Posted by Tian on Nov 6, '07 7:19 AM for everyone Redaktur di kantorku suka sekali ngeprint bahan tulisan yang berasal dari internet; diprint dengan tampilan halamannya (plus grafis-grafisnya, bukan hanya teksnya). Lagipula kenapa musti diprint? Bukannya naskah tulisan ditulis di komputer, bukan di mesin tik? Bukankah ngeprint itu musti pake kertas, baru pula? Pantas saja hutan kita lekas gundul... (kertas bahan bakunya dari kayu). :P Tanpa harus jadi "superhero", kita pun bisa jadi "penyelamat bumi", dengan melakukan cara-cara praktis seperti berikut ini (dikutip dari http://satudunia.oneworld.net/article/view/151802/1/):
1. Matikan listrik. Jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger HP dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi. 2. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL (lampu hemat energi), sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. 3. Bersihkan lampu. Debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%. 4. Jika terpaksa memakai AC, tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24 derajat C. 5. Gunakan timer untuk AC, microwave, oven, magic jar, dl). 6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater. 7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda. 8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon. 9. Gunakan kendaraan umum, untuk mengurangi polusi udara. 10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu), dengan memakai dua sisi kertas saat mengkopi atau memprint dokumen. 11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastik menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali. 12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
Posted by Tian on Nov 3, '07 11:35 PM for everyone Beberapa hari lalu, seorang tetangga meninggal di rumah sakit. Kabarnya, akibat sakit maag yang akut. Kurang tau juga persisnya, apa mungkin komplikasi, atau malah terkena infeksi? Yang jelas, Pak M --yang usianya 40-an tahun itu, meninggalkan anak yang masih kecil-kecil. Terbesar kelas 2 SMP, dan terkecil 4 tahunan. Nah, cerita mengharukan pasca-penguburan Pak M, aku dengar dari ibu-ibu tetangga. Sehari setelah penguburan, anak nomor 3-nya ( pangais bungsu), yang baru kelas 2 SD, begitu bagun tidur di pagi hari, langsung lari ke kuburan ayahnya, yang lokasinya tak jauh, tak sampai 100 meter dari rumahnya (dekat gerbang perumahan). Ia telungkup memeluk kayu nisan kuburan yang masih ditutupi tanah merah basah, dengan taburan bunga rampai yang masih segar itu. Ia bilang, "Saya mau menemani Ayah. Kasihan Ayah, tidurnya di dalam tanah." Ibu-ibu yang menyaksikan adegan mengharukan itu, tak kuasa menahan air matanya yang menitik. 
| |