Tian's posts with tag: motor

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag motor
Posted by Tian on Jul 3, '08 1:30 AM for everyone

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) plus SWDKLLJ si Tornie (keluaran 1995) --yang batas akhir masa berlakunya 4 Juli-- ternyata naik, dari total Rp 87 ribuan, jadi Rp 93.500. Kenaikan pajak itu, mungkin karena terdorong kenaikan harga BBM, mungkin juga karena disesuaikan dengan tahun produksinya. Katanya, makin tua, makin naik pajaknya.

Pengurusannya sendiri, Kamis (3/7), tidak ribet-ribet amat. Selama ini, aku mengurusnya sendiri. Hanya butuh waktu sekitar 2 jam! Samsatku kebetulan di Kebon Nanas, Jakarta Timur, sesuai dengan domisili KTP.  

Pertama, mengambil formulir (dengan menunjukkan STNK asli), lalu mengisinya.

Kedua, mengambil nomor urut. Lalu, aku ke Loket 1, memasukkan formulir yang sudah diisi, dilampiri STNK (asli dan fotokopi), KTP (asli dan fotokopi), BPKB (asli dan fotokopi --aslinya cuma ditunjukkin doang).

Ketiga, menunggu panggilan dari Loket 2 untuk penyerahan notice plus KTP asli. Aku kebagian nomor 419. Yang baru dipanggil nomor 200-an. Nggak lama-lama amat, menunggu hampir satu jam.

Keempat, setelah dipanggil Loket 2, notice (atau Surat Setoran Pajak Daerah PKB/BBN-KB) yang berisi perincian berapa pajak yang harus dibayar, aku langsung ke Loket 3 (Kasir). Bayar sesuai angka yang tertera di notice.

Kelima, setelah membayar pajak di kasir, tinggal tunggu panggilan pengambilan STNK asli plus Surat Ketetapan Pajak Daerah PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ dari Loket 5. Saat pengambilan, cukup menyerahkan notice yang berwarna biru (ada dua lembar, satu lagi warna putih).

Semua proses itu bebas biaya, kecuali --tentu saja-- di kasir, tempat kita membayar pajak kendaraan bermotor tersebut.

"Pungli" yang aku alami, "cuma" kembalian di kasir Rp 500. Si kasir mengembat uang gopek itu. Salah aku sendiri sih, nggak menyediakan uang pas.

Cukup simpel kan? Sesuai semboyan Samsat Kebon Nanas sebagaimana tertera di spanduk-spanduk, "Kami memang belum sempurna, tapi akan terus berusaha."  

Itulah pengalaman tadi pagi, selama menjadi "calo untuk diri sendiri" (ups, ini mah bukan calo namanya!).

TIPS:

*Jangan datang terlalu siang (di atas jam 10 pagi), karena kalau terpotong istirahat (12.00-13.00 WIB), waktu pengurusan bertambah panjang.

Foto: Kondisi Si Tornie, 2008 (© tianarief).


Posted by Tian on Jun 17, '08 10:10 PM for everyone

Ini semata-mata kekhawatiran saya, dan juga pelanggan lainnya di pom bensin (SPBU) di Jalan Juanda, Depok.

Saat motorku antri untuk isi bensin, antrian mencapai pintu masuk pom bensin. Seorang perempuan berbadan subur --yang tampaknya sedang menunggu temannya mengisi bensin-- memegang rokok yang sedang menyala.

Dia bukannya menjauh dari lokasi SPBU, malah bergeser ke seberang... ke dekat tangki pendam bensin (sekitar 2 meter dari tutup tangki itu)! Beberapa menit menunggu, menghampirilah seorang lelaki pake motor yang baru isi bensin (sepertinya, suaminya).

Bukannya segera menjauh dari tangki pendam itu, dia malah menstandarkan motornya, memperbaiki sesuatu. Sementara rokok menyala --yang ternyata milik lelaki itu-- masih tetap dipegangnya.

Aku, yang khawatir kalau rokok menyala itu memicu kebakaran karena berada di lokasi bensin berada, terus melirik orang yang tampaknya innocent (seperti orang yang nggak ngerti apa-apa alias bego) itu. Begitu pula para pengantri lainnya, yang gelisah melihat rokok, dan kemungkinan yang bakal terjadi.

Duh, duh, hai perokok, sampe segitunya ya?

Selain "insiden rokok menyala" itu, kebodohan yang rutin dilakukan sebagian pengendara motor pengantri bensin adalah menyalakan mesin, apalagi sambil menggeber-geberkan gasnya, saat mengantri. Selain pemborosan bagi dirinya, juga menyebar polusi karbon monoksida (CO) bagi pengantri di belakangnya. Mikir dong ah!

Kala malam tiba, ketololan lain yang dilakukan pengendara motor yang terus berulang, dan berulang, adalah memodifikasi lampu belakang sedemikian rupa (pake mika bening), sehingga saat rem diinjak, lampu belakangnya seperti lampu sorot (lampu beam) --yang jelas sangat merugikan dan membahayakan pengendara di belakangnya (silau).

Mending kalau motor itu pelan sekalian, atau kencang sekalian. Jadi ketemunya sebentar (cepat disalip atau cepat menyalip, lalu "menghilang"). Eee, ini sama-sama mengantri, dan sering posisinya berada tepat di depanku.

Mudah-mudahan orang semacam ini pada saatnya ada "yang menegur". Teguran kan bisa sopan, lunak, dan keras.


Posted by Tian on May 12, '08 6:22 AM for everyone

"Hop!" Motor yang kami naiki bertiga (bareng Fay dan ibunya) itu rem "ABS" (anti-lock braking system)-nya bekerja. Tapi nggak kok ngeblok-ngeblok alias menggelosor terus.

"Ups!" Batang kunci garpunya motorku sedikit ngait di spakbor belakang motor di depanku.

Saat pengendaranya melirik dengan mata melotot, aku langsung "kasih lima jari" sambil minta maaf berkali-kali.

Orang itu ingin mengecek keadaan motor kinclongnya. Menengok ke bagian belakang, memeriksa dengan seksama. Aku menungguinya.

"Tuh, nggak apa-apa kan Pak?" ujarku. Si pengendara Suzuki Satria F-150 itu cuma diam saja, tapi kegarangannya berkurang.

Aku minta maaf sekali lagi, seraya pergi meninggalkannya.

"Wah, sudah waktunya ganti rem nih!" ujarku pada istriku, yang berarti mau tak mau harus disetujui, mengingat kejadian tadi.

Rem motorku yang "sudah dalem" itu "nggak mau makan" kalau musti berhenti mendadak. Selama ini, aku mengerem tidak frontal, melainkan berhenti secara bertahap, dibantu oper gigi (ke tingkat lebih rendah). Tapi ternyata, di tengah lalulintas Jakarta yang super-macet ini, sekali-kali rem ngeblok alias mendadak, diperlukan juga.

* * *

Tadi siang, setelah dandan di bengkel langganan, akhirnya motorku "mau diatur". Diajak lari mendadak, mau (setelah ganti gir komplit, yang belakang, dari 36 ke 40). Diajak berhenti mendadak juga, mau (setelah ganti kanvas rem depan-belakang).

Makanya tak mengherankan, kalau pertanyaan teka-teki silang di harian Kompas selalu dari itu ke itu. Lima mendatar, "Bagian penting dari kendaraan".

Jawabannya: "Rem".   


Posted by Tian on May 1, '08 10:40 PM for everyone

Brosur itu kudapatkan dari parkiran Plaza Depok, waktu mau mengambil tiket parkir. Di brosur mungil itu tertulis: Paguyuban Pemilik Motor Indonesia (P2MI). Tercantum pula logo berupa lingkaran berlatar bintang lima. Lingkaran berwarna merah-putih, dengan gambar sepeda motor dan tulisan P2MI dan kepanjangannya.

Malah paguyuban yang didirikan pada 17 Desember 2007 ini ada situsnya segala, http://www.p2mi.net. Tapi setelah dicek, ternyata situsnya belum terisi sama sekali alias under construction.

Manfaat yang ditawarkan dengan bergabung dalam paguyuban yang terbuka bagi semua pemilik sepeda motor di seluruh Indonesia (motor sendiri atau milik kantor) itu, berupa santunan Rp 20.000.000 (mungkin maksudnya bagi korban meninggal), dan bantuan pengobatan Rp 500.000.   

Nah, menurut organisasi yang anggota dewan kehormatannya -antara lain- Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno ini (pantes pake lambang bintang segala!), status keanggotaan P2MI ada dua;

Anggota Pasif: setiap pemilik sepeda motor di Indonesia, otomatis menjadi anggota P2MI (aku juga termasuk dong!).

Anggota Aktif: anggota P2MI yang mencatatkan diri dan mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA).

Cara jadi anggota?

Mengisi formulir, menyertakan fotokopi SIM, STNK, dan KTP, serta membayar iuran keanggotaan Rp 50.000 untuk masa keanggotaan dua tahun.

Tempat pendaftaran bisa dilakukan di posko-posko berikut ini:

1. Mal Cijantung

2. Pondok Gede Plaza

3. Kalibata Plaza

4. Slipi Plaza

5. Mangga Dua Square

6. Mal Sunter 

7. Grand Mall Bekasi

8. Ramayana Bekasi

9. Pangrango Plaza Bogor

10. Ramayana Cileungsi

11. Ramayana Cibinong

12. Ramayana Depok

13. Robinson Tangerang

14. Ramayana Cengkareng

Apakah mau menjadi anggota pasif atau aktif, pada akhirnya terserah pada anda sendiri.


Posted by Tian on Apr 10, '08 2:22 AM for everyone

Semalam, dalam perjalanan pulang kantor, lalulintas menuju Tanjung Barat (dari arah Pasar Minggu) mendadak macet. Aku langsung menduga, pasti biang keladinya genangan air alias banjir, karena baru saja turun hujan deras banget.

Dari jalan searah di pinggiran rel KA, aku membelokkan motorku ke jalan yang satunya lagi (arah Pasar Rebo), via pom bensin. Sama. Antrian sama-sama padat, hingga ke putaran Perumahan Rancho Indah. Untunglah tidak banjir di sana.

Setelah memutar, aku berbelok ke Jalan Nangka, yang tembus ke Jalan Raya Tanjung Barat (Stasiun KRL). Tapi, baru beberapa belas meter berjalan, genangan air sudah menghadang. Mobil-mobil --yang masih sempat berputar-- berbalik arah, dipandu pemuda setempat. Aku terus memasuki genangan lebih jauh, yang ternyata makin dalam. Knalpot sampe terendam.

Dari arah kebalikannya, seorang lelaki, yang menuntun motornya yang mogok, berseru, "jangan lewat terus, dalem banjirnya!"

Aku tak mau ambil resiko, meski si Tornie terbilang "jago berendam" (meski dalam batas tertentu). Langsung berbalik saat itu juga.

Di Jalan TB Simatupang arah Cilandak, aku terus lurus naik ke jembatan layang Tanjung Barat. Dari atas jembatan, tampak arus lalulintas tersendat, karena terhalang kendaraan yang berjalan pelan saat melewati genangan, juga yang mogok karenanya.

"Fiuhh. Alhamdulillah, aku nggak jadi ngambil jalan itu," pikirku, lega.

Aku terus lurus, dan baru belok di Jalan Cilandak Marinir. Meski macet, tapi di sana tak ada genangan air yang bisa mengancam jalannya mesin motorku.

Ternyata, perjalanan bermacet ria itu, memakan waktu lebih dari dua jam (dari biasa sekitar 1,5 jam).

*Menurut orang bengkel tadi siang, sebenarnya motor masih tetap bisa jalan melewati banjir, asal jangan melebihi saluran isap yang terdapat di saringan udara, di atas karburator. Artinya, kalau motor melewati banjir hingga rodanya terendam penuh sekalipun, motor masih bisa jalan. Asal... tetap menjaga putaran mesin, dengan menahan gas, tapi tidak juga menggeber-gebernya. Biar air tak masuk lewat knalpot.


Posted by Tian on Apr 4, '08 3:17 AM for everyone

Suatu hari, aku lagi nongkrong di bengkel motor, sementara si Tornie sedang dirawat seperlunya. Lalu muncul lah satu motor bebek 2 tak (Yamaha Force-One) yang ditunggangi dua pemuda.

Satu di antaranya, yang tampak sudah kenal baik dengan pemilik bengkel, langsung nyelonong meminta oli bekas, yang disimpan di samping luar bengkel.

Tadinya aku kira buat melumasi rantai roda --yang biasa orang lakukan. Ternyata... ya ampun, oli bekas (oli mesin yang sudah menghitam) itu dimasukkan ke tangki oli samping! (Oli samping olinya khusus, lebih encer, dan di kemasannya bertanda "2T"). Ckckck. Rupanya, motor itu kehabisan oli samping.

Entah motor sendiri, entah motor pinjaman. Tapi aku menduga keras, itu motor pinjaman. Mesin motor memang jalan, dengan asap yang baunya bau asap oli mesin. Tapi tunggu beberapa lama, bisa rusak tuh mesin motor.

Seperti pengalaman temanku yang motornya kehabisan oli samping, tapi dipake terus hingga dua bulan kemudian... turun mesin dengan hampir semua komponen bergerak dalam mesinnya harus diganti!

Temanku itu, yang awam banget masalah teknik, dan enggan bertanya, mengaku senang saja tiba-tiba oli samping motornya jadi mendadak irit. Bahkan nggak usah ngisi lagi, karena tak pernah berkurang. Nah loh!

Cerita di atas menjadi pengingat kita, agar kita jangan sembarangan meminjamkan kendaraan kita, kecuali pada orang yang bisa dipercaya atau benar-benar bisa.   

image: contoh oli samping (oli 2T) [motorplus-online.com]


Posted by Tian on Apr 3, '08 7:48 AM for everyone

Baru kemaren Eko Reipras bikin jurnal tentang ban belakang motornya yang tertusuk benda tajam, sore tadi, sehabis pulang meliput, giliran ban belakang motorku yang tertusuk paku super gede: 10 senti --yang ambles semuanya.

Waktu lampu menyala hijau di perempatan Pancoran, aku memacu motorku dari arah Saharjo ke Pasar Minggu. Pas di tengah-tengah, tiba-tiba motor limbung, tapi aku tak segera menghentikan motor, karena kendaraan lagi kenceng-kencengnya. Yang kulakukan, berusaha berjalan di pinggir, hingga ke seberang jalan.

Setelah sampai di seberang, barulah motor kutuntun, dan mengecek ban di depan Pospol Pancoran. Ternyata, kepala paku yang gede nongol dari sela-sela kembangan ban belakang. Aku ambil tang. Dengan susah payah, kucabut, yang ternyata panjaaang sekali.

Seorang pejalan kaki yang lewat sempat-sempatnya nyeletuk, "Wah, itu pakunya gede banget. Amblas semua." Setelah paku dicabut, barulah motor kutuntun ke tukang tambal terdekat, yang ternyata ada di depan dealer mobil KIA.

Seperti sudah diduga, ban dalam tidak bisa diselamatkan lagi karena (pasti) koyak. Dan benar saja. Ketika ban dalam dikeluarkan, tampak robekan ganda sepanjang 40 sentimeter! Robekan itu jadi dobel, kemungkinan karena ban dalam itu tertusuk paku dari bawah ke atas, saat ban masih menggelinding kencang. 

Setelah mengganti ban dalam dengan harga yang "ajaib", aku pun ke bengkel untuk mengganti ban luar --yang memang sudah direncanakan. Ban luar yang diganti bukan yang belakang, melainkan yang depan, yang sudah habis kembangannya. Dan ban belakang (Mizzle ukuran 250-17), pindah ke depan.

Sekarang ban belakang motorku pakai Federal ukuran 80/90. Mantap dikendarainya!   

image: ikman.wordpress.com


Posted by Tian on Feb 21, '08 9:04 PM for everyone

Dua kali berturut-turut, aku diundang ke acara peluncuran produk/konferensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jl Thamrin, Jakarta Pusat. Satu, kemarin, lalu Kamis minggu depan.

Parkir motor, seperti biasa, di tempat parkir Jalan Kebon Kacang. Tapi oo, pengelola gedung rupanya tak berkenan lagi menerima kehadiran si roda dua. Hanya mobil pribadi dan taksi berpenumpang yang boleh masuk halaman, atau parkir di komplek Plaza Indonesia --yang kembar siam sama Hotel Grand Hyatt.

Petugas keamanan mengarahkanku untuk parkir di pinggir jalan, yang dijaga pemuda setempat. Pantas, motor-motor berjejer di Jalan Kebon Kacang yang sempit itu.

Menurut temanku, itu karena pemuda setempat "minta jatah rezeki" dengan mengelola parkir sendiri. Satu motor dipukul rata harus bayar Rp 2.000, tanpa hitungan waktu.

Aku pun merapat ke arah deretan motor itu. Tapi tak ada lagi tempat parkir, karena semua penuh terisi. Seorang tukang parkir berbaju biru memberi kode agar motorku diparkir di belakang motor-motor itu, dalam posisi lurus, searah jalan. Tentu saja, tak boleh dikunci --setang maupun jari-jari, biar si tukang parkir mudah memindahkannya, manakala ada yang mau keluar.  

Jaminan atau asuransi, kalau-kalau terjadi kasus kehilangan? Atau klaim sama tukang parkir? Jangan harap deh.

Aku sih oke saja, dan bersyukur motorku terbilang motor "antik", yang tingkat kewaswasannya (saat meninggalkannya di tempat parkir), tak sebesar motor-motor baru.

*Cara parkir serupa diberlakukan pula di Setiabudhi Building 1 & 2. Motor diparkir di pinggir jalan, tapi "harus bebas" alias tak dikunci.


Posted by Tian on Jan 23, '08 12:20 AM for everyone

Dua malam lalu, saat aku dalam perjalanan ke rumah dengan Si Tornie, aku ditantang seorang pengendara Jupiter MX untuk "bertarung" adu kesaktian mesin masing-masing. Diturutikah tantangan kekanak-kanakkan itu? No way lah!

Suasana malam yang hening dan agak terang karena cahaya bulan yang hampir penuh itu berubah jadi sedikit heboh oleh bunyi motor yang gasnya digeber-geber. Penggeber gas motor itu tiada lain, orang yang menantangku adu tarikan dan kecepatan motor di tengah kampung yang sepi, di Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede, Kab Bogor.

Awalnya, aku melihat ada sebuah truk yang sedang mundur dalam posisi melintang di jalan. Waktu aku mendekati truk itu, ada sebuah motor yang sedang menunggu, dan aku di sebelah kanan motor itu. Begitu kepala truk itu berlalu, aku melaju lebih dulu, dengan kecepatan normal. Entah kenapa, tiba-tiba dari arah belakang, motor itu menyalipku dengan gas yang dibetot kuat-kuat, menyebabkan raungan mesin yang keras.

Dari lampu belakangnya aku bisa mengetahui, motor itu Yamaha Jupiter MX --yang di iklan televisinya digambarkan, bukan saja membuat pakaian komedian Komeng compang-camping, tapi juga tubuhnya melayang seperti Superman, saking cepatnya. Pengendaranya tidak muda-muda amat. Kira-kira seusia lah, hanya saja tampak rambutnya botak, di balik helm topinya.

Aku masih belum mengerti kemauan orang itu, ketika si Jupiter MX melambat tepat di depanku, dan menghalangi laju motorku yang konstan. Tapi... waktu aku mau menyalipnya, motor itu mendadak disentak dan lari kencang-kencang, lalu melambat lagi.

Barulah terbaca, ternyata orang itu menantangku berlaga. Sampai sekitar dua kilometeran, kelakuan motor itu terus begitu, yang sama sekali tak berhasil memancing gairahku untuk balapan. Yang terpikir saat itu bukan membalapinya, tapi segera mengenyahkannya dari jalanan dengan menendangnya ke selokan atau empang --yang banyak terdapat di kiri-kanan jalan itu.

Untunglah, kejadian yang buruk bagi dia tak terjadi, setelah dia (mungkin) merasa bosan melayani motor tua yang tak ada reaksi sama sekali menanggapi tantangan gilanya.

Kalau merasa berani, kenapa si botak itu bukan menantang motor yang CC-nya sama (Yamaha RX King, misalnya. Sama-sama Ber-CC 135), malah menantang motor tua yang CC-nya jauh di bawahnya (99 CC)? Ah, orang itu salah minum obat kali.  

 


Posted by Tian on Jan 8, '08 9:54 PM for everyone

"Nggak kekencengan, Pak?" tanya Pengendara Jupiter MX, melihat aku mengisi angin ban belakang dengan tekanan 34 psi. (Sedangkan ban depan 28 psi).

"Nggak. Malah biasanya 40, karena biasa boncengan bertiga." Jawabku dengan cueknya.
Pengendara Jupiter MX: "Buseeet deh!"

Ternyata, aku liat sekilas, si pengendara Jupiter MX itu mengisi angin ban motornya, depan 28, belakang 33. Ya, sarua wae atuh!  

Itulah cuplikan dialog sewaktu mampir di SPBU Petronas Lenteng Agung, Jakarta, tadi pagi, untuk sekadar mengisi angin ban dengan pompa angin digital (gratis).

Motorku memang perlu dikeraskan (tekanan angin) bannya, karena kadang-kadang seperti truk kecil. Segala barang diangkut.

Juga perlu ditambah sepasang lagi pijakan penumpangnya (dipasang di baut shock breaker), karena kadang-kadang seperti bus mini, dimuati sekeluarga (keluargaku beranggotakan tiga jiwa).

Juga perlu diservis secara rutin mesinnya, dan knalpotnya sering dibersihkan, karena kadang-kadang seperti sedan, dibawa lari kencang-kencang.

Juga perlu pake ban yang bisa "menggigit" tanah, karena kadang-kadang seperti jip, suka dipake off road.

Juga harus seringkas mungkin. Tak perlu dipasangi bagasi belakang, atau samping kiri-kanan (seperti “anak-anak club”, yang tampak ribet banget), karena kadang-kadang seperti sepeda, dibawa selap-selip di parkiran sempit, jalanan yang sempit, atau di antara kendaraan yang saling rapat satu sama lain.



Posted by Tian on Nov 22, '07 3:11 AM for everyone

Melihat kelakuan pengendara sepeda motor (biker) yang menyebalkan, selain membuat panas hati juga membuat pusing kepala.

Biker tergolong menyebalkan, menurutku, biker yang lampu rem motornya diganti dengan mika transparan. Akibatnya, mataku dan (pasti) mata pengendara motor lainnya --bahkan pengendara mobil-- menjadi silau dan sakit, dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. 

Kedua, biker yang suka main klakson tidak pada tempatnya. Apalagi klaksonnya diganti dengan klakson yang keras, yang memekakkan telinga. Jangan harap aku memberinya jalan.

Tapi, selain yang menyebalkan, banyak pula biker yang memiliki solidaritas tinggi. Mulai dari yang suka memperingatkan standar samping motor yang lupa dilipat sampai memperingatkan barang bawaan biker lainnya yang hampir terjatuh, tanpa diketahui si biker ybs.

Dua kali aku diperingatkan sesama biker, waktu tali pengikat yang terbuat dari karet ban dalam, yang ditaruh di bawah jok motor, terjuntai ke luar, dan hampir terbelit jari-jari roda belakang. Dua kali pula aku berterima kasih sama mereka, karena kalau itu sampai terjadi, bisa bahaya!

Setelah urusan tali selesai, karena celah di bagasi bawah jok motorku sudah kututup dengan isolasi yang lebar, ternyata masih ada biker yang memperingatkanku.    

Sewaktu meluncur di jalan Ir H Juanda Depok, yang mulus dan lengang itu, dengan kecepatan antara 40-60 km/jam, seorang pengendara RX King menjajariku dari sebelah kiri sambil menunjuk-nunjuk ke motorku. Setelah aku memberi kode tanda terima kasih, dia pun berlalu.

Sewaktu aku menghentikan motorku di dekat kantor pemasaran Pesona Khayangan, aku memeriksa sekeliling motor. Ternyata tak ada yang janggal. Cover bodi motor, yang oblak karena plastiknya sudah pecah-pecah tapi disangga karet pengikat yang ujungnya berkait, tidak apa-apa. Tali karet masih tergulung rapi di bawah jok. Atau motorku yang masih kotor di sana-sini oleh oli, setelah ditangani bengkel kemarin? Ah masa sih motor kotor disoal orang? Iseng amat!

Begitu melirik ke arah kaki kiri... tali sepatu kets -yang kubeli 10 tahun lalu- ternyata terlepas! Memang sih, bisa membahayakan, kalau saat di kemacetan terinjak orang lain, atau terinjak motor sendiri. Oh, terima kasih teman-teman biker. Memang, sesama pengendara roda dua, solidarity forever lah! (maaf, minjem jargonnya anak Mesin ITB).   

image: solidarity forever (jupiterimages.com)


Posted by Tian on Nov 5, '07 9:28 PM for everyone

Sejak ada pom bensin Petronas di Lenteng Agung, Jakarta, aku jadi rajin mengecek tekanan ban motorku. Beli atau tak beli bensinnya tak masalah, karena aku bisa langsung nyelonong ke mesin pengisi angin ban yang digital dan dioperasikan sendiri (tanpa bantuan petugas) itu. Gratis!

Biasanya aku cek tekanan ban si Tornie itu dua hari sekali --ban depan 26 psi, dan ban belakang 32 psi. Dalam dua hari, tekanan anginnya bisa turun beberapa psi (satuan tekanan angin). Padahal bannya tak mengalami kebocoran (halus sekalipun). Mungkin berkurang secara alami.

Ternyata setelah mengisi dan menyetel tekanan ban sesuai angka di atas, Senin (5/11), satu hari kemudian (tadi pagi), tekanan kedua ban Tornieku itu turun masing-masing 5 psi! Ban depan, dari 26 turun jadi 21. Ban belakang, dari 32 turun jadi 27.

Padahal, kedua ban dalamnya relatif baru. Yang depan baru diganti dua bulan lalu, belum ada tambalan. Sedangkan yang belakang, baru satu tambalan.

Mungkin memang sudah demikian lazimnya ban kendaraan, dari hari ke hari, tekanannya berkurang. Sudahkah anda mengecek tekanan ban kendaraan anda hari ini?

* Tekanan ban yang pas (sesuai standar pabrik) bakal menghemat penggunaan bahan bakar, betapa pun kecilnya.

* Tekanan ban yang pas juga memudahkan pengendalian kendaraan. Tips untuk musim hujan: agar ban lebih mencengkeram di jalan basah, disarankan tekanannya diturunkan dari biasanya, sebanyak beberapa psi.

* Foto: ban belakang Tornie (tipe kembang trail) waktu masih baru (sekarang sudah hampir gundul, dan tampaknya sebentar lagi minta ganti).  [foto: aryo

 

 


Posted by Tian on Oct 26, '07 5:31 AM for everyone

Apakah Geng Motor sama dengan Klub Motor –yang belakangan marak berkembang di perkotaan? Jelas tidak. Berikut ini perbedaan karakteristik Klub Motor dengan Geng Motor (versi Warta Kota)


Klub Motor

  • Kendaraan lengkap, bahkan keren

  • Dilengkapi berbagai aksesoris

  • Punya identitas (nama klub) dan stiker yang biasa dipasang di emblem atau jaket

  • Keluar pada event khusus atau saat turing

  • Kalau mejeng, di tempat terang. Paling malam hingga pukul 22.00

  • Dandanan pengendaranya rapi, dan punya perencanaan

  • Punya susunan organisasi yang terdaftar di ikatan motor


Geng Motor

  • Kendaraannya tak lengkap, bahkan terkesan tak terawat

  • Seringkali tanpa dilengkapi spion dan lampu

  • Biasa keluar pada malam hari/dinihari, antara pukul 23.00 sampai 03.00

  • Cenderung berkeliaran di tempat gelap dan kerap bikin onar

  • Dandanan pengendaranya nge-punk, bahkan urakan

  • Keanggotaan tidak terdapat di ikatan motor setempat


Posted by Tian on Sep 18, '07 1:43 AM for everyone




Sebuah skutik merah menyala terparkir di halaman depan kantorku, samping pos satpam. Bodi belakang yang menggembung, mengingatkanku pada skuter otomatik Scudetto dari Kanzen. 

Tapi setelah didekati, kok rodanya agak kurus, dan bobot kendaraannya enteng banget. Ternyata, itu bukan skuter otomatik (skutik), melainkan skuter listrik buatan Cina, bermerek Molis (mungkin singkatan dari motor listrik).

Setelah tanya satpam, ternyata skuter listrik itu untuk diujicoba, yang sengaja dititipkan pihak penjualnya pada Koperasi Gatra. Tanpa buang waktu lagi, aku langsung menjajalnya keliling kantor.

Ternyata, mengoperasikan skuter listrik ini gampang sekali. Kunci kontak tinggal di-on-kan, gas dibetot, motorpun jalan, tanpa mengeluarkan bunyi seperti motor pada umumnya. Melainkan bunyi berdengung seperti dinamo yang berputar. Memang, kendaraan ini digerakkan dinamo yang tenaganya disuplai dari baterai.

Mau tau kesan-kesanku (sekaligus kekurangan dan kelebihan) pada skuter listrik ini?

Kelebihan:

+ Tak usah pake STNK seperti sepeda motor, karena sama sekali tak digerakkan mesin ber-BBM, melainkan tenaga listrik

+ Biaya operasionalnya (menurut brosur) jauh lebih murah (dibanding motor), hanya Rp 9 (ya! sembilan rupiah) per kilometer.

+ Cukup colokkan ke listrik, seperti nge-charge HP, "tangki BBM" pun terisi penuh

+ Tak perlu mampir ke SPBU, tak perlu mampir ke bengkel untuk ganti oli dan servis

Kekurangan:

- Bodinya terbuat dari plastik rapuh dan berkualitas murahan (buatan Cina, tau sendiri).

- Harganya kelewat mahal: Rp 6,3 juta (cash)! (bayangkan aja, 3x lipat harga motorku!) Dicicil, lebih mahal lagi!

- Pengendaliannya nggak enak banget; setang terlalu tinggi, roda depan berat banget, seperti kempes, padahal nggak.

- Kecepatannya too slow, maksimal 45 km/jam. Nggak bakal bisa mengikuti irama lalulintas di jalan raya.

- Untuk mengisi penuh baterai, perlu waktu setidaknya 5 jam (dengan mencolokkannya pada listrik PLN).

- Bisa mengundang kecurigaan polisi, karena tak dilengkapi pelat nomor, sedangkan bentuknya terlalu mirip skuter otomatik. (minimal butuh waktu untuk menjelaskan bahwa ini bukanlah motor, seandainya disetop pak pul).

- Hanya cocok untuk wara-wiri di sekitar komplek perumahan (mendingan pake sepeda kayuh aja)

Eh, ternyata banyak kekurangannya ya? Hmm, Rp 6,3 juta... mendingan dibelikan "sepeda biasa", sisanya buat renov rumah!  

Foto-foto: Aryo Donk

Foto selengkapnya tengok http://aryodonk.multiply.com/photos/album/12


Posted by Tian on Jul 5, '07 5:39 AM for everyone


Dua teman kantor, kehilangan "kaki" hanya selisih semalam! "Kaki" yang kumaksud adalah "perpanjangan kaki" alias tunggangan alias sepeda motor buat ke kantor.

Honda Karisma 2005 milik J, teman di bagian Sekretariat Redaksi, diembat maling dari dalam rumahnya, Jum'at malam (29/6). Padahal motornya itu sudah diparkir di dapur dalam keadaan terkunci.

Sedangkan Yamaha RX King 1996 milik A, bagian Dokumentasi, disabet maling saat diparkir di depan rumahnya, Sabtu malam (30/6). Menurut A, motornya, selain dikunci setang, juga kepala (tutup) businya sengaja dicopot, agar mesinnya susah dihidupkan. Tapi maling, tetap bisa melarikan motor itu.

Sekarang, kedua teman yang memang mengandalkan sepeda motor sebagai alat transportasi ke tempat kerja, masih bisa pakai motor pinjaman dari saudaranya.

Semoga musibah yang menimpa kalian tak menyurutkan semangat untuk berjuang menjalani hari-hari yang keras di Ibukota. Juga tak menyurutkan semangat dalam mencari nafkah. Semoga kalian mendapat gantinya yang lebih baik lagi!

Gambar (contoh):

Atas: Honda Karisma, Bawah: Yamaha RX King


Posted by Tian on Jul 3, '07 7:43 AM for everyone


Tadi siang, aku mengurus perpanjangan masa berlaku STNK motor, alias membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) ke kantor Dispenda Jakarta Timur (Kebon Nanas).

Ternyata, saat mengantri bayar pajak di loket khusus roda dua, kok cuma aku yang memegang uang kurang dari Rp 100.000. Sedangkan wajib pajak lainnya, ada yang membawa Rp 150.000, ada pula yang Rp 200.000.

Ya, pajak motor Tornadoku (produksi 1995 --udah terbilang tua) memang hanya Rp 80.500 (dibayar setahun sekali).

Setelah dibanding-banding dengan motor milik teman kantor, ternyata pajak motorku tetap termurah. Motor mereka ada yang pajaknya Rp 90-an ribu, ada yang Rp 120.000, bahkan ada yang Rp 150.000.

Ini dimungkinkan karena rata-rata motor mereka tahunnya lebih muda (2000-an). Lazimnya di pajak kendaraan bermotor, makin muda, makin mahal pajaknya.

Tapi tunggu dulu. Motor adikku, Honda Grand 1991 (lebih tua dari si Tornie), pajaknya malah lebih mahal; Rp 92.500! Padahal, selain tahunnya lebih tua, CC-nya juga sama-sama 100, dan jenisnya pun sama; cub (alias bebek).

Adakah di antara anda yang pajak motornya di bawah Rp 80 ribu?

image: aryo


Posted by Tian on Jun 28, '07 2:40 AM for everyone


Semalam waktu pulang kantor, tanpa kusangka, hujan lebat sejak dari Lenteng Agung. Saking lebatnya, sampai banjir menggenang di Pancoranmas, Depok.

Tadinya kukira banjir biasa, karena belokan yang tak jauh dari kantor Kelurahan Pancoranmas itu sering jadi kubangan gara-gara jalan tak punya saluran pembuangan.

Ternyata, malam itu, genangan air benar-benar dalam (untuk ukuran kendaraan). Sambil mengikuti angkot, aku jalankan motor secara konstan, dan ternyata... begitu roda memasuki lubang yang dalam, air meredam melebihi tinggi knalpot. Terdengar dari suaranya yang seperti dibekap (air).

Alhamdulillah, motorku selamat menerjang banjir, tanpa mesin mati. Meski hati waswas juga, karena takut air masuk mesin, dan bercampur dengan oli mesin. Tapi setelah oli diganti di bengkel, tadi pagi, ternyata oli bersih, tak tercampur air sama sekali.

* * *

Dari segi ketangguhan, motor Tornado-ku sekarang berbeda dengan Honda Impressa-ku dulu (sebelum 2005). Si Impressa, setiap kena air hujan, langsung jalannya mesin tersendat-sendat (batuk-batuk), lalu mati. Rupanya, air merembes ke saringan udara, lalu masuk ke karburator, bercampur dengan bensin. Selain itu, Impressa, setiap menerjang genangan air, cipratannya sampai ke bagian paha/pantat, sampai membikin basah celana panjangku.

Sekarang, si Tornado, meski diguyur hujan teramat lebat, motor tetap jalan konstan. Termasuk saat menerjang genangan, cipratan air tak sampai ke atas, melainkan ke samping.

Foto: atas: si tornie, bawah: si impressa (skr udah dijual)


Posted by Tian on May 24, '07 10:59 PM for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ada beragam pertimbangan dalam memilih ban kendaraan. Kalau aku gampang aja. Ban yang harganya "miring", tapi jarang sekali bocor. Emang ada? Ya ada dong! *Masalah keandalan di jalan aspal maupun jalan off-road, nomor 2, karena aku nggak kenceng-kenceng bawa motor*

Seperti ban motorku sekarang ini. Depan, pakai ban Aspira. Harganya terbilang paling murah (dibanding Federal, apalagi IRC). Tapi jarang bocor. Selama pake lebih setahun, dua-tiga kali lah bocornya. Ban dalamnya pake Swallow.

Belakang, pake Mizzle tipe ban pacul alias ban trail (kembang bergerigi). Selama pake beberapa bulan ini, nggak pernah bocor (mudah-mudahan gak bocor sampe gundul). Ban dalamnya pake Federal.

Oya, merek ban motor yang pernah aku pake (selama 23 tahun punya SIM C; IRC, Federal, Mizzle, dan Aspira).

*Kenapa bocor yang jadi "kata kunci"? Iya dong! Wong aku sering pulang malem, tengah malem, malah. Bocor di tengah malem, susah cari tukang tambal ban yang masih buka. Pernah sih, jam 12 malem nuntun motor sampe berkilo-kilo meter. :P

Foto-foto: Aryo

Posted by Tian on Apr 6, '07 4:12 AM for everyone

Hati-hati bagi pengendara motor (termasuk saya sendiri). Terpaan angin pada wajah saat motor berjalan kencang, bisa menimbulkan penyakit bell's plasy --yang berakibat saraf wajah lumpuh.

Gejalanya antara lain, wajah menjadi kaku, tak bisa menelan air minum, tak bisa memejamkan mata.

Penyakit ini jarang disadari para pengendara motor. Padahal, penyakit ini terbilang berbahaya. Aliran angin yang menerpa wajah, bisa mengakibatkan wajah sembab, bahkan bengkak, karena aliran darah terhambat.

Tips:

Jika mengendarai motor, gunakan helm full face (helm tertutup yang berkaca). Helm jenis ini, selain meredam benturan di bagian kepala saat kecelakaan, juga penyangga dan menghangatkan wajah.

Helm half face bisa saja dikenakan, asal dilengkapi kaca yang menutupi seluruh wajah. "Helm jangan asal pakai, meski full face, tapi harus sesuai dengan ukuran kepala. Jangan terlalu longgar, dan jangan terlalu kencang," pesan dr Enrico Rinaldi, Kepala Klinik Ristra Indolab, Jakarta, sebagaimana dilaporkan majalah Gatra.

Sumber: Majalah Gatra nomor 21/Tahun XII

*Catatan: penyakit ini bisa pula menyerang mereka yang mengendarai mobil terbuka (tanpa kaca depan), dan yang terkena tiupan AC secara langsung.


Posted by Tian on Dec 29, '06 3:42 AM for everyone

Menyalakan lampu motor di siang hari, sebagaimana imbauan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya untuk daerah Jabodetabek, sudah hampir sebulan diberlakukan.  

Ternyata, makin lama lampu menyala, air aki lebih cepat habis. Pengalamanku, lima hari lalu, aku baru ganti aki baru. Tentu saja, air akinya sudah terisi penuh.

Tadi pagi, ketika aku cek, air aki sudah menyusut. Lalu kutambah lagi. Benar juga kata tukang aki di Shop & Drive Depok, sejak kebijakan lampu motor menyala di siang hari, air aki lebih boros.

Jadi, buat Anda yang mengendarai sepeda motor (juga mobil), sering-seringlah cek air akinya. Siapa tau lebih cepat menyusut. Sebab kalau air akinya sudah di bawah sel aki, bisa dipastikan, akinya akan cepat rusak.

Mengisi air aki, cukup sampai garis batas atas, jangan lebih dari itu. Air pengisinya, air aki botol biru, jangan yang merah (seperti di foto).

Apakah lampu menyala di siang hari mengakibatkan bensin lebih boros? Kalau menurut pengalaman sih, nggak. Tapi menurut Motor Plus, iya.

Foto: mengisi air aki (motor plus)


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help