Tian's posts with tag: rokok

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag rokok
Posted by Tian on Jun 1, '08 12:42 AM for everyone

Seandainya "kampanye simpatik" ini dilakukan setiap hari di tempat-tempat umum, orang-orang pun akan terbebas dari asap mengandung racun nikotin, tapi gigi berpotensi bolong-bolong, karena sering makan permen.

Kampanye Simpatik
Rokok Diminta, Digantikan Permen

Bogor, 1 Juni 2008 10:32
Para pengunjung pusat perbelanjaan di Kota Bogor yang sedang menghisap rokok, oleh petugas Dinas Kesehatan setempat diminta mematikan rokoknya, dan ditukar dengan permen. Kampanye simpatik yang dilakukan Sabtu itu, untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Aksi kampanye simpatik ini dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Triwanda Elan di tiga pusat perbelanjaan terkenal di Kota Bogor yakni, Bogor Trade Mall (BTM) Jalan Ir. H Juanda, Botani Square Jalan Raya Pajajaran, dan Plaza Eklokasari Jalan Raya Tajur.

Berdasarkan pengamatan, Triwanda bersama timnya kemudian memasukkan puntung yang telah dimatikan tersebut ke dalam kantong plastik, sambil mengingatkan, bahwa hari ini adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Aksi ini mengagetkan warga Kota Bogor yang kedapatan merokok di tempat umum, khususnya di pusat perbelanjaan.

Aksi dimulai dari Kantor Balaikota Bogor di Jalan Juanda, kemudian bergerak ke pusat perbelanjaan BTM di Jalan Juanda. Di BTM petugas mendapati sekelompok remaja sedang asyik mengisap rokok sambil ngobrol. Mereka kemudian diingatkan dan diminta mematikan rokoknya.

"Adik-adik maaf, hari ini adalah Hari Anti-Tembakau Sedunia, saya minta rokok yang sedang dihisap, dimatikan dan tolong puntungnya dimasukan ke kantong plastik ini," kata dr Adelia dari Dinas Kesehatan sambil membagikan permen kepada sekelompok remaja tersebut.

Petugas kemudian menghampiri seorang laki-laki paruh baya sedang asyik mengisap rokok tidak jauh dari sekelompok remaja tadi.

"Pak, rokoknya tolong dimatikan, nanti saya ganti dengan permen. Hari ini adalah Hari Tanpa Tembakau se-Dunia, jadi tidak boleh merokok," kata petugas dari Dinas Kesehatan.

Di dalam mall, petugas juga mendapatkan beberapa orang penjaga counter telepon seluler sedang asyik menghisap rokok, meskipun di ruangan ber-AC. Lagi, petugas meminta mereka mematikan rokok dan menukar dengan permen.

Bahkan, di pusat permainan (game center) petugas menemukan beberapa anak sekolah sedang bermain games sambil menghisap rokok. Lagi-lagi, petugas meminta mereka mematikan rokok dan menukar dengan permen.

Hendra, seorang penjaga counter telepon seluler mengatakan, awalnya ia kaget karena diminta mematikan rokok.

"Tapi setelah diberitahu bahwa ada hari ini adalah hari tanpa tembakau, saya jadi mengerti," katanya.

Dari BTM, tim dari Dinas Kesehatan kemudian bergerak ke Botani Sqiare dan dilanjutkan k Plaza Ekalokasari, untuk melakukan aksi simpatik yang sama.

Triwanda Elan mengatakan, kampanye simpatik ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau se-Dunia. Melalui aksi ini, kata dia, Pemerintah Kota Bogor mengingatkan kepada warganya terhadap bahaya merokok.

"Kampanye ini sekaligus mengecek apakah surat edaran Walikota Bogor tentang larangan merokok yang telah disebarkan, dipatuhi atau tidak," katanya. [TMA, Ant]


Posted by Tian on Apr 16, '08 1:21 AM for everyone
Link: http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/16/12014474/anak.merokok....

Iklan rokok gencar disiarkan di berbagai media, yang bisa menerpa siapa saja yang terkena dampak informasi itu, termasuk anak-anak.

Lebih heboh lagi, iklan rokok itu dikemas sedemikian rupa, sehingga yang dijual itu seolah bukan produk tembakaunya, melainkan citra. Citra yang ditawarkan pun beragam, mulai dari obsesi, selera pria, selera pemberani, sportivitas, kemapanan, percaya diri, dan kata-kata positif lainnya.

Meski di akhir iklan itu disebutkan peringatan pemerintah ("Merokok dapat menyebabkan... bla bla bla"), tapi production house, sebagai pembuat iklan, tampaknya tidak fair, dengan menayangkannya cukup satu detik saja! (alias tidak bisa dibaca!).

Siapa yang rentan terkena iklan yang dikemas dengan sangat cantik itu? Anak-anak!

Kompas Cyber Media melaporkan, penelitian Komnas Perlindungan Anak tahun 2007 menunjukkan bahwa 91,7% remaja berusia 13-15 tahun di DKI Jakarta merokok karena didorong oleh pengaruh iklan.

"Mereka umumnya terdorong untuk merokok melalui iklan, lewat billboard, seni, pendekatan keagamaan, olahraga, orang qasidahan aja ada yang disponsori oleh rokok," ujar Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait di sela-sela Round Table Discussion Perlindungan Anak terhadap Bahaya Rokok di Jakarta, Rabu (16/4).

Aris menyebutkan bahwa Komnas Perlindungan Anak sama sekali tidak melarang keberadaan industri rokok di Indonesia, tapi masalahnya, anak-anak sudah menjadi korban karena iklan rokok. "Jadi nggak ada alasan bahwa iklan itu mau guyon atau mau apa gitu. Yang jelas kita akan melakukan judicial review terhadap PP No.19/2003 tentang perizinan pembatasan iklan rokok yang tidak ada sanksi hukumnya," ujar Aris.

Artikel terkait: Kedaulatan Rokok oleh: Saiful Mahdi

Image: acehinstitute.org


Posted by Tian on Feb 4, '08 4:22 AM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?id=111942

Kami yang tua-tua, mungkin sudah terlanjur teracuni oleh bermacam polutan, terutama polusi udara. Tapi plis, jangan racuni anak-anak. Mereka adalah generasi harapan kita semua.


Hasil Riset
Anak-anak Belum Terbebas dari Asap Rokok


Jakarta, 4 Pebruari 2008 16:16
Hasil riset Koalisi untuk Indonesia Sehat menunjukkan, sebagian besar anak di Indonesia hingga kini masih terpapar asap rokok dan promosi industri rokok.

Fakta itu terungkap dari hasil riset kuantitatif tentang persepsi dan perilaku merokok yang dilakukan Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) terhadap 3.040 responden perempuan berusia 13- 25 tahun di DKI Jakarta dan Bukittinggi, Sumatera Barat pada Oktober-Desember 2007.

Menurut siaran pers dari KuIS, yang diterima di Jakarta, Senin (4/2), hasil riset tersebut menunjukkan, 51,67 persen responden usia 13-15 tahun kadang mendapati orang lain merokok di rumah mereka, saat mereka sedang berada di rumah.

Sebanyak 26,13 persen anak yang menjadi responden, masih menurut hasil riset itu, bahkan sering menjumpai orang lain merokok di rumah mereka saat mereka berada di rumah.

"Yang lebih memprihatinkan lagi perokok biasanya kurang peduli pada dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan anak," kata Ketua Dewan Eksekutif KuIS Firman Lubis.

Padahal, menurut dia, kepedulian orang dewasa terhadap dampak asap rokok pada anak akan membantu menyelamatkan fungsi otak dan kesehatan anak, serta menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosialnya secara utuh.

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa menurut hasil penelitian itu, tidak kurang dari 70 persen responden juga terpapar promosi rokok dalam berbagai kegiatan seperti olah raga, konser musik, maupun acara di sekolahnya.

Ia menambahkan, kurangnya komitmen pemerintah untuk melindungi anak dari asap rokok juga terlihat dari belum dikeluarkannya peraturan khusus yang melarang anak merokok.

"Meskipun Pemerintah telah mengesahkan UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002, tapi sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan yang melarang anak-anak merokok," katanya.

Oleh karena itu, ia melanjutkan, KuIS mengajak semua pihak termasuk pemerintah, akademisi, pihak swasta, praktisi kesehatan dan lembaga swadaya masyarakat dan mencari solusi untuk melindungi anak dari paparan asap rokok dan promosi industri rokok.

Sumber: Gatra.com/Antara

Posted by Tian on Dec 12, '07 11:08 PM for everyone

Teman kantorku, tepatnya salah satu "pejabat", karena golongannya sudah tinggi, meledekku, karena kebiasaanku yang tidak merokok.

"Kasian ya Basuki. Ia meninggal setelah bermain futsal. Padahal dia tak merokok loh!" katanya. Tak lama kemudian, argumennya "merembet" ke arahku. "Tuh Tian, terbukti kan, yang bukan perokok itu pendek umurnya. Jadi, mending kamu juga merokok!"

Aku tak membantah, atau mengiyakan pernyataannya. Melainkan bertanya balik. "Yakin kalau Basuki itu kasian (karena "berpulang"). Apa bukan awal kebahagiaan dia?" Si "pejabat" pun nyengir. "Yah, pake istilah umum aja. Bahwa kematian itu akhir dari segalanya."

Menurutku, soal setelah kematian itu, apakah si mati akan bahagia atau tidak, bergantung pada amalan masing-masing di dunia. Yang jelas tindakan merokok di ruang ber-AC dan diisap secara berjamaah (termasuk oleh yang bukan perokok) --satu kebiasaan yang lazim di kantorku-- tergolong mendzalimi orang lain. Jadi, buat apa panjang umur, kalau... ?


Posted by Tian on Nov 3, '07 4:03 AM for everyone
Link: http://www.gatra.com/artikel.php?id=109225



Kini ada obat untuk mengurangi ketergantungan pada rokok. Dengan vareniklin, efek tidak nyaman itu dapat diatasi. Obat anti-merokok pertama di Indonesia tersebut diluncurkan awal bulan ini di Jakarta. Menurut Dokter Irawan Rustandi, Direktur Medis PT Pfizer Indonesia, vareniklin bekerja pada reseptor nikotin yang terdapat di otak dengan dua cara. Yaitu menstimulasi reseptor untuk melepaskan dopamin secara parsial sehingga menurunkan gejala-gejala berupa pusing kepala, sulit berkonsentrasi, dan perasaan kurang enak yang timbul karena proses berhenti merokok. Selain itu, juga menghalangi nikotin menempel pada reseptor dan mengurangi rasa nikmat yang ditimbulkan dari rokok jika pasien merokok kembali. Efektivitas obat tersebut teruji dalam studi terhadap 2.000 perokok. Terapi berhenti merokok paling efektif adalah motivasi untuk tidak merokok. Selain itu, perlu dukungan keluarga dan orang sekitar. "Dengan motivasi, 50% pasien berhasil berhenti merokok," kata Dokter Tjandra Yoga, ahli paru-paru pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

[Kesehatan , Gatra Nomor 50 Beredar Kamis, 22 Oktober 2007]

image: yahoo!news

Posted by Tian on Jul 10, '07 7:34 AM for everyone

Kami sama sekali tak memusuhi perokok (peace ah! ), melainkan asap rokoknya. Apalagi asap dalam ruang sempit yang banyak orang, seperti di bus. Apa nggak bikin marah?

Itu terjadi waktu perjalanan pulang dari Pelabuhanratu, Minggu malam (8/7). Karena petang, bus MGI (nama perusahaan) ber-AC trayek Plratu-Bogor sudah wassalam, kami memilih bus MGI ekonomi --yang katanya bus terakhir ke Bogor.

Namanya juga bus ekonomi. Di bus berukuran sedang (seukuran Metro Mini di Jakarta), penumpang, meski sudah memenuhi kursi yang tersedia, terus dijejal, berdiri menempati lorong bus. Fay dan ibunya duduk di sisi kiri, dekat pintu belakang. Sedangkan aku di sisi kanan (di seberangnya, agak belakang).

Di tengah perjalanan, saat bus lagi penuh-penuhnya, seorang penumpang yang berdiri, lelaki muda bercelana jeans dan berbaju kaos --berpotongan seperti taruna Akmil-- menyalakan rokok Marlboronya, persis di belakang istriku. Sesekali, tangannya yang mengepit rokok yang terus ngebul itu, berpegangan pada sandaran kursi yang ditempati istriku.

Asap rokok yang menyesakkan itu jelas terisap istriku, yang langsung bereaksi dengan memelototinya. Lalu si pemuda itu memindahkan rokoknya ke tangan kirinya, yang berpegangan ke jendela. Asap rokoknya sekarang berpindah ke Fay, yang duduk di sebelah kiri Ibu.

Si pemuda itu kembali dipelototi. Karena tetap bergeming dengan asap rokoknya, istriku langsung menegurnya, "Kenapa sih, rokoknya tidak dimatiin aja!" Karena mungkin merasa tak enak ditegur ibu-ibu, si pemuda tadi, tanpa "melawan" atau berargumen, langsung membuang rokok menyala yang masih panjang itu. Lalu kembali berdiri dengan manis.

* * *

Beberapa jam kemudian, kernet bus kembali memasukkan penumpang, kali ini wanita yang menggendong bayi. Aku, yang duduk persis dekat pintu, langsung berdiri dan memberikannya pada ibu dan bayinya.

Ternyata, selagi berdiri, aku mencium bau asap rokok (maklum, hidungku cukup sensitif) dari jok belakang. Ternyata seorang lelaki muda dan seorang lelaki tua berkopiah haji, secara bersamaan merokok!

Padahal, bukan hanya satu bayi di bus itu. Di sebelah lelaki haji itu, duduk seorang wanita dengan bayinya! Tapi dengan tenangnya si pak haji menikmati asap rokoknya, sementara ibu si bayi merasa terganggu dengan asap rokok (mungkin khawatir meracuni bayinya yang baru berusia beberapa bulan itu).

Aku pun mendekati Fay dan ibunya. Ibu bilang, seperti mencium bau asap rokok di belakang. "Ada yang merokok, dua di belakang. Mana ada bayi, lagi. Benar-benar nggak punya pikiran!!!" ujarku dengan suara cukup keras.

Tak seorang pun menyangkal, atau berargumen. Penumpang lainnya terdiam. Termasuk yang merokok. Merasa bersalah kah?

image: google


Posted by Tian on Jun 26, '07 3:53 AM for everyone

Aku tinggal di ruangan "berjamaah" di lantai 2 yang tak bisa dibilang kecil: 15 x 15 meter! Menghuni sebuah kubikal yang tak pernah rapi dari tumpukan kertas, majalah, dan buku-buku.

Aku bersyukur bisa berada di ruangan besar ini. Sebelumnya, aku terpenjara dalam sebuah ruang kecil yang dibatasi dinding tembok dan kaca, ukuran 5 x 3 meter. Bayangkan saja, saat orang-orang merokok dalam ruang ber-AC di ruangan sekecil itu, "terbunuhlah" aku.

Kini, di ruangan besar (dan ber-AC sentral dan split) itu, asap rokok bisa sedikit ditangkal, dengan mengipas-ngipaskan kipas yang sudah kusediakan. Aku tak terlalu "terbunuh" di sana.

Ternyata, "kenyamanan" hanyalah semu, karena hanya berlaku kalau kondisi tubuh betul-betul fit. Kalau tidak, tetap saja, "terbunuh"!

Seperti kemarin. Sudah makan siang agak telat, tidur semalam pun larut, karena harus mengerjakan transkripan wawancara di rumah. Aku pun masuk angin, perut terasa mual, kepala pusing. Dibawa tidur pun, tak mau. Pokoknya serba-tidak nyaman.

Begitu aku pindah ke Perpustakaan di lantai 1 --yang steril dari segala asap rokok, untuk melindungi bahan pustaka-- udara terasa plong, segar. Beda sekali dengan udara di lantai 2 (redaksi), yang dipenuhi orang-orang stres dikejar deadline, dan diperbudak kebiasaan merokok.

Ternyata baru kusadari, kalau ruangan besar tempat kerja sehari-hari, sudah tak sehat lagi. AC pun sudah tak mampu menyaring udara yang tercemar asap rokok.

Maka, mulai sekarang, kondisi tubuh harus tetap terjaga, dengan berolahraga teratur, makan cukup, dan tidur cukup. Soalnya, "variabel asap rokok" ini masih belum bisa diperangi di tempatku. Maklumlah, big boss-nya lah yang memberi contoh; merokok di ruang ber-AC.

* Ada sedikit titik terang. Seorang redaktur ("pejabat" level menengah), ada yang tak merokok dan anti-rokok. Setiap anak buahnya merokok di depannya, dia berseru, "kamu membunuh orang lagi (dan diri sendiri) ya?".


Posted by Tian on Apr 10, '07 3:45 AM for everyone
Link: http://gatra.com/artikel.php?id=103680

Hati-hati bagi perokok sembarangan di tempat umum. Di bulan April ini, sebanyak 300 ibu-ibu anggota WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau) akan melakukan sweeping terhadap perokok di pusat perbelanjaan (mal) dan angkutan umum.

Menurut Ketua WITT Nita Yudi, seusai bertemu Ibu Ani Yudhoyono, di Jakarta, Selasa (10/4), sejak 3 Febuari 2006, WITT telah "dilantik" sebagai mitra pemda sehingga memiliki kewajiban membantu pemerintah.

Untuk melancarkan aksinya, WITT telah dibekali kartu Mitra Pemda sehingga berhak melarang orang untuk merokok tidak pada tempatnya.

"Kami lihat pemerintah masih adem ayem sehingga kami merasa harus bergerak," ujarnya.

Nita menjelaskan bahwa aksi WITT itu dilakukan karena peraturan-peraturan pemerintah tidak menjangkau hingga ke masyarakat dibawah atau "akar rumput".

Salut buat ibu-ibu, selamat beraksi! :D

Posted by Tian on Feb 21, '07 3:37 AM for everyone

Oleh Arwah Setiawan*

Asap bagi manusia, seperti juga api dan air, dapat menjadi kawan dan dapat menjadi lawan. Kalau asap itu dari jenis yang keluar dari dapur, ia menjadi sahabat yang senantiasa didambakan manusia.

"Asap dapur tetap mengepul", adalah prinsip dasar yang dipegang hampir semua manusia dalam melakukan suatu kegiatan.

Tetapi begitu asap itu mengepul cukup besar dari suatu rumah, atau suatu kampung, atau suatu hutan, asap itu menjadi lawan yang dibenci manusia. Mengapa yang pertama tadi jadi kawan dan kedua menjadi lawan? Tentu karena asap jenis pertama itu menguntungkan, bahkan mutlak dibutuhkan, sedang yang kedua ini merugikan, maka diusahakan untuk dicegah.

Namun, ada jenis asap lain yang sebetulnya merugikan, tapi toh tidak diusahakan dicegah --malah dibutuhkan, bahkan didambakan. Meskipun ada sekelompok manusia yang sudah berusaha mencegahnya, tapi di pihak lain banyak sekali manusia yang tidak menggubris langkah pencegahan itu, bahkan dengan tak acuh maupun angkut tetap berlalu sambil berkepul-kepul. Asap jenis ini tak lain adalah asap rokok.

Dan bagaikan perang Iran-Irak, "perang" antara pihak pro dan kontra makin lama makin panas, mendekati panasnya api yang jadi sumber asap itu.

Sebetulnya pihak yang anti-asap itu, atau lebih tepatnya anti-rokok, terasa mempunyai bala tentara yang makin lama makin besar, dan persenjataan yang makin lama makin canggih.

Kelompok-kelompok pejuang lingkungan hidup dan kesehatan, ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan penelitian yang makin maju, sudah menampilkan jurus-jurus yang tampak impresif dan meyakinkan.

Berbagai amunisi yang sudah mereka pakai untuk menyerang para pemuja rokok, sebagian besar amunisi kesehatan. Bahaya kanker paru-paru sudah sangat lantang dicanangkan. Sebagian lainnya menggunakan senjata ekonomi mikro.

Seandainya tidak dipakai buat membeli rokok, berapa banyak uang yang bisa dihemat untuk dipakai keperluan-keperluan lain yang lebih berfaedah?

Lalu, ada yang menggunakan alasan keamanan. Sudah berapa kali terjadi kebakaran akibat orang lalai membuang puntung yang masih menyala di tempat-tempat berbahaya. Dan kesopanan. Bagaimanapun, berbicara dengan mengembuskan asap ke wajah orang yang diajak bicara adalah memperkosa orang untuk membau abab kita.

Tapi kaum penganut rokok tetap bergeming. Umpama pun ada satu-dua orang yang takluk kepada pihak lawannya dan berhenti merokok --biasanya karena sudah kritis keadaannya menurut dokter-- jauh lebih banyak lagi bermunculan generasi "usia rokok" yang masih begitu terpesona dengan citra tokoh-tokoh ngetop yang menyengkelit rokok dengan keren di sudut bibirnya.

Anak-anak muda ini, mana peduli dengan segala rambu kesehatan "dilarang merokok" --bukankah mereka masih hidup seribu tahun lagi? Apalagi, tokoh-tokoh tersebut sudah lanjut usia dengan bangga mengatakan bahwa mereka merokok terus tapi toh berumur panjang.

Alasan ekonomis mikro ditimpanya dengan alasan ekonomis makro, seperti soal pendapatan nasional, soal pemanfaatan sumber alam, soal penciptaan lapangan kerja.

Masalah keamanan, ditepisnya dengan kontra-argumentasi bahwa berapa kali lebih banyak kebakaran yang ditimbulkan sebab-sebab non-rokok, seperti listrik korslet atau kompor meledak. Dan apa itu kesopanan? Orang kalau diajak omong-omong itu kan selalu menjalani resiko terbaui hawa mulut lawan bicaranya? Hanya saja "tidak kelihatan" seperti ada asapnya.

Dan argumen balik seperti gengsi "tampak jantan", atau "modern" dilambai-lambaikanlah, seolah-olah kejantanan tergantung pada rokok serta kesadaran ekologis --anti-rokok-- adalah kuno. Atau argumen bahwa tanpa merokok, orang tidak bisa tenang, dan sebangsanya lagi.

Maka, tetap berkepul-kepullah asap di seantero jagat ini --di ruang-ruang ber-AC, di dalam bioskop, di dalam bus kota. Budaya nikotin tampaknya tetap jaya. Tapi "sepupu" rokok yang bernama ganja, harus tegas dan drastis dibasmi selama-lamanya! Lho, kan berbeda? Lho, apanya sih, yang berbeda?

(Dikutip dari buku "Humor Zaman Edan", Arwah Setiawan, Grasindo, 1997 --halaman 392-395).

*Arwah Setiawan (1935-1995) adalah pendiri Lembaga Humor Indonesia (LHI), kolumnis di berbagai surat kabar dan majalah yang bersifat karikatural, sentilan sosial, dan parodi politik. Motto yang dipopulerkannya adalah "Humor Itu Serius".

image: ekuator.web.id

 

 


Posted by Tian on Sep 14, '06 2:45 AM for everyone

Penelitian selama tiga tahun di Shanghai Cina, menunjukkan, perilaku suami yang perokok, berdampak tak elok bagi para istrinya; berakibat stroke. Penelitian itu dilakukan pada wanita dengan melihat status merokok sang suami.

Hasilnya: sebanyak 526 kasus stroke menimpa sampel 60.377 wanita berusia antara 40-70 tahun, dengan 22.982 suami tidak merokok, 5.108 mantan perokok,  dan 32.287 perokok.  

Wanita bersuami perokok berat (lebih 20 batang per hari). 62% lebih besar dibanding wanita bersuami bukan perokok. Sedangkan yang suaminya merokok 10-19 batang per hari, 29% lebih beresiko stroke. Dan yang suaminya merokok di bawah 10 batang, 24,5% lebih beresiko stroke.

Padahal, di Cina ada 300.000.000 lelaki perokok. Untuk suami yang merokok lebih 17 tahun, terdapat 214 kasus. Sedangkan di bawah 17 tahun, "hanya" 25 kasus.

Sumber: Majalah Gatra nomor 44/XII


Posted by Tian on May 31, '06 2:31 AM for everyone

dari detik.com, menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2006

SURVEI Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik mengungkapkan, jumlah perokok di Indonesia mencapai 65,2% dari populasi penduduk. Itu sensus pada 2004. Kemungkinan besar, tahun ini bertambah lagi.
 
Menurut survei itu, jumlah perokok "rutin" dan perokok "kadang-kadang", pada 2001 mencapai 62,29%. Lalu naik lagi pada 2003 jadi 62,7%, dan pada 2004, naik kembali jadi 65,2%.

Demikian keterangan Dr Tjandra Yoga Aditama dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI kepada detikcom, Jumat (26/5). Data itu dirilis Dr Tjandra menyusul akan datangnya Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2006.

Berdasarkan data dari buku Fakta Tembakau yang dirilis WHO dan Depkes, jumlah perokok sebanyak 31,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Sebanyak 62,2% di antaranya kaum pria.* nurul hidayati

info terkait



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help