Tian's posts with tag: sepeda

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sepeda
Posted by Tian on Feb 4, '08 11:12 PM for everyone

Membanggakan!

Kampus UI Depok punya jalur khusus sepeda pertama di Indonesia, di lingkungan kampus. Mahasiswa boleh menggunakan sepeda secara gratis.

Bersepeda di lingkungan kampus UI Depok, yang didominasi hutan kota yang asri, nanti tak perlu repot-repot bersaing dengan kendaraan bermotor --yang rata-rata berkecepatan tinggi.

UI kini sudah punya jalur khusus sepeda yang berdekatan dengan pepohonan. Jalur sepeda, yang sudah dikerjakan sekitar 50 persennya ini, akan diresmikan pada Maret 2008.

"Jalur sepeda ini merupakan pertama di Indonesia, khususnya di dalam lingkungan kampus," kata Rektor UI, Prof Gumilar Rusliwa Somantri kepada Antara, di Depok, Selasa (5/2).

Menurut Prof Gumilar, jalur sepeda ini dibuat dengan konsep green campus and world class campus (kampus hijau yang bertaraf internasional), dan berkaitan dengan isu global warming (pemanasan global).

Jalur sepeda itu akan dilengkapi dengan stasiun, pos, tempat parkir, water contain (pengisian air minum), dan sepeda, yang disiapkan sekitar 1.000 unit.

"Sepeda itu free of charge (gratis). Jadi mahasiswa menggunakan sepeda dengan smart card. Dia dapat berhenti di halte tertentu dan bisa ganti sepeda," katanya.

Mantan Dekan Fisip UI ini beralasan, jalur sepeda ini sangat penting untuk menerapkan pola hidup sehat di kalangan mahasiswa dan dosen. "Polusi udara sudah terlalu berbahaya, UI mencoba melakukan pola hidup sehat seperti yang sudah dilakukan beberapa kampus di luar negeri," katanya.

Pemakai sepeda dari luar, boleh kan pake jalur khusus ini?

[berita terkait]

Foto: Hutan Kota UI (inblogs.net)


Posted by Tian on Sep 18, '07 1:43 AM for everyone




Sebuah skutik merah menyala terparkir di halaman depan kantorku, samping pos satpam. Bodi belakang yang menggembung, mengingatkanku pada skuter otomatik Scudetto dari Kanzen. 

Tapi setelah didekati, kok rodanya agak kurus, dan bobot kendaraannya enteng banget. Ternyata, itu bukan skuter otomatik (skutik), melainkan skuter listrik buatan Cina, bermerek Molis (mungkin singkatan dari motor listrik).

Setelah tanya satpam, ternyata skuter listrik itu untuk diujicoba, yang sengaja dititipkan pihak penjualnya pada Koperasi Gatra. Tanpa buang waktu lagi, aku langsung menjajalnya keliling kantor.

Ternyata, mengoperasikan skuter listrik ini gampang sekali. Kunci kontak tinggal di-on-kan, gas dibetot, motorpun jalan, tanpa mengeluarkan bunyi seperti motor pada umumnya. Melainkan bunyi berdengung seperti dinamo yang berputar. Memang, kendaraan ini digerakkan dinamo yang tenaganya disuplai dari baterai.

Mau tau kesan-kesanku (sekaligus kekurangan dan kelebihan) pada skuter listrik ini?

Kelebihan:

+ Tak usah pake STNK seperti sepeda motor, karena sama sekali tak digerakkan mesin ber-BBM, melainkan tenaga listrik

+ Biaya operasionalnya (menurut brosur) jauh lebih murah (dibanding motor), hanya Rp 9 (ya! sembilan rupiah) per kilometer.

+ Cukup colokkan ke listrik, seperti nge-charge HP, "tangki BBM" pun terisi penuh

+ Tak perlu mampir ke SPBU, tak perlu mampir ke bengkel untuk ganti oli dan servis

Kekurangan:

- Bodinya terbuat dari plastik rapuh dan berkualitas murahan (buatan Cina, tau sendiri).

- Harganya kelewat mahal: Rp 6,3 juta (cash)! (bayangkan aja, 3x lipat harga motorku!) Dicicil, lebih mahal lagi!

- Pengendaliannya nggak enak banget; setang terlalu tinggi, roda depan berat banget, seperti kempes, padahal nggak.

- Kecepatannya too slow, maksimal 45 km/jam. Nggak bakal bisa mengikuti irama lalulintas di jalan raya.

- Untuk mengisi penuh baterai, perlu waktu setidaknya 5 jam (dengan mencolokkannya pada listrik PLN).

- Bisa mengundang kecurigaan polisi, karena tak dilengkapi pelat nomor, sedangkan bentuknya terlalu mirip skuter otomatik. (minimal butuh waktu untuk menjelaskan bahwa ini bukanlah motor, seandainya disetop pak pul).

- Hanya cocok untuk wara-wiri di sekitar komplek perumahan (mendingan pake sepeda kayuh aja)

Eh, ternyata banyak kekurangannya ya? Hmm, Rp 6,3 juta... mendingan dibelikan "sepeda biasa", sisanya buat renov rumah!  

Foto-foto: Aryo Donk

Foto selengkapnya tengok http://aryodonk.multiply.com/photos/album/12


Posted by Tian on Aug 7, '07 1:45 AM for everyone
Link: http://sonnysusanto.multiply.com/photos/album/28/Ladies_Bike_To_Work

Anda tentu kenal dengan para ladies di bawah ini...




Mereka adalah sebagian dari ladies bike to work. Makin hari, makin banyak perempuan yang pergi ke kantor pake sepeda.

Foto-foto lainnya, silakan klik di link milik Om Sonny ini.

Posted by Tian on May 9, '07 6:39 AM for everyone

Fay kebetulan libur sekolah (Selasa-Rabu). Jadi, hari ini aku bisa ber-B2S (bike to station) ke Citayam, lalu disambung KRL ke Pasarminggu Baru.

Ternyata aku baru ingat, pedal sepedaku perlu disetel. Maka, pagi-pagi sebelum sarapan aku sudah mengotak-atik sepeda. Ternyata benar, gemuk/stempet/pelumas pelor-pelor (biji-biji) di pedal sepedanya sudah habis/mengering. Aku pun membubuhinya stempet.

Belum selesai di situ, roda belakang sepeda pun kusetel lagi, biar jalannya enak. Soalnya, rantainya kekencangan. Otak-atik merembet ke spion dan bel (kring-kring).

Setelah mengajak Fay jalan-jalan sejenak, hari pun beranjak siang.

Wah, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi! Kalau pakai sepeda, nggak bakal terlalu siang ke kantor. Mana udah kelelahan ngotak-atik sepeda, lagi.

Aku pun memutuskan pakai motor ke kantor, seperti bisa.

Ternyata, bersepeda ke kantor, eh stasiun, belum bisa dijadikan rutinitas. Tetap saja motor yang jadi andalan. Mudah-mudahan besok bisa.

 

 


Posted by Tian on May 2, '07 12:57 AM for everyone

Masih berkaitan dengan postingan B2S dan Mobil, Lebih Mengerikan.

B2S (Bike to Station) kali ini melewati rute Sasakpanjang-Stasiun Citayam. Jaraknya sih lebih dekat, 7 km (dibanding ke Sta Bojonggede yang 10 km), tapi medannya jauh lebih sulit.

Selain jalanan campuran antara yang mulus (aspal hotmix) dan rusak (berbatu-batu dan tanah merah), kemiringan jalan pun lebih ekstrim: tanjakan terjal dan turunan curam. Terhitung ada lima yang harus kulewati.

Alhamdulillah, tak seperti aku duga di replyan postingan ini, aku dan sepeda kunoku berhasil melewati semua tanjakan (dan juga jalan rusak) itu, tanpa harus turun dari sepeda, alias genjot terus!

Dan yang terpenting, di rute ini, potensi bahaya dari kendaraan bermotor (terutama mobil), jauh lebih kecil, karena jalannya relatif sepi.

Meski jarak tempuh lebih pendek, karena beratnya medan, waktu tempuhnya jadi lebih lama 5 menit dibanding ke Bojonggede. Total waktu tempuh 40 menit nonstop.

Perjalanan berikutnya, menuju Kota Depok, sanggupkah?

*Catatan:

~ Tanjakan terjal, ukurannya: saat dilewati motor, memakai gigi 2.

~Aku jadi ingat. Sepeda ontaku ini, dulu (dua dasawarsa lalu) sering aku "ajak" ber-offroad ria di kampung di Bandung selatan. Bahkan pernah mendaki sebuah desa yang lokasinya di lereng gunung --di mana tak ada seorang penduduk pun yang memiliki sepeda. :D


Posted by Tian on Apr 30, '07 11:28 PM for everyone

Sebagaimana dikisahkan di B2S, kemarin adalah hari pertama mengawali perjalanan ke tempat kerja dengan sepeda. Sepeda yang digunakan, sepeda yang ada di rumah, sepeda onta (sepeda kuno yang pernah digunakan ibuku ngantor, di zaman dahulu), yang dikayuh hingga Stasiun Bojonggede. Makanya, namanya B2S (Bike to Station).

Nah, usai "jam kantor", aku langsung ke Stasiun Pasarminggu Baru dengan berjalan kaki. KRL tujuan Bogor, yang bertolak pukul 19.00 itu tak penuh sama sekali. Buktinya, aku nggak usah sampai "mandi sauna" dalam gerbong KRL ekonomi yang biasanya dipadati manusia itu.

Di Stasiun Bojonggede, aku turun, lalu menuju tempat penitipan motor/sepeda, persis di seberang pintu stasiun. Sepeda itu kusandarkan dengan empat sepeda lainnya di bawah pohon, tanpa dikunci sama sekali. (Bukan hanya sepeda, bahkan motor pun tak dikunci, agar gampang dipindah-pindah oleh petugas penitipan).  

Begitu meninggalkan penitipan sepeda, kemacetan jalan raya Bojonggede menghadang. Angkot yang menaik-turunkan penumpang cukup menyulitkan pengendalian. Bayangkan, sadel yang tinggi banget, membuatku harus berjinjit dengan ujung sepatu, saat sepeda berhenti.

Memasuki jalan Bojonggede-Sasakpanjang, lalulintas didominasi sepeda motor, truk dan angkot. Jalanan yang gelap, apalagi banyak pepohonan yang rimbun di kiri-kanan jalan, cukup menyulitkanku melihat jalan, saat tak ada lampu kendaraan yang menyorot. Maklum saja, sepedaku belum dilengkapi lampu. Hanya ada reflektor (lampu mata kucing) di depan (putih) dan di belakang (merah).

Jalan Bojonggede yang aku lalui, karakteristiknya jalanan luar kota. Tampak dari banyaknya belokan, tanjakan dan turunan, kiri-kanan jalan didominasi kebun dan tanah kosong. Juga kendaraan-kendaraan yang berjalan dengan kencang.  

Tapi, menjelang kuburan angker dekat perumahan Billabong, dari jauh, di arah berlawanan, tampak sorot lampu truk, yang sedang disalip oleh mobil Daihatsu Taruna. Meski si sopir dipastikan mengetahui keberadaanku, mobil itu tetap memaksakan menyalip truk, di jalan yang hanya muat dua mobil itu.

Aku terpaksa mengerem dan menjaga keseimbangan sepedaku, agar jangan sampai kaki kiri menapak, karena saking mepetnya ke pinggir, kalau menapak, kaki bisa kejeblos selokan.

Mobil itu pun akhirnya berhasil mendahului truk, dan melewatiku, dengan jarak beberapa senti dari setang kananku. Huh! Contoh buruk pengendara yang tak menghargai pengendara lain, meski itu hanya sepeda!

Ternyata, bukan truk-truk tanah, bukan pula motor yang lalu lalang, yang mengancamku, melainkan sebuah mobil pribadi!

Besok-besok aku akan coba jalur ke Stasiun Citayam saja, yang berjarak hanya 7 km (sedangkan Bojonggede 10 km), tapi dengan tanjakan-turunan curam, plus jalan ancur-ancuran. Ketimbang berjalan di jalanan mulus, tapi kendaraannya membahayakan!

 


Posted by Tian on Apr 30, '07 12:01 AM for everyone

Seusai mengantar Fay ke sekolah (dengan sepeda motor), aku tak langsung ke kantor, melainkan kembali ke rumah.

Ku simpan motor di "garasi", ku keluarkan sepeda ontaku, dan segera bertolak menuju Stasiun Bojonggede, Kab. Bogor.

Jarak yang kutempuh sekitar 10 km, yang ternyata didominasi tanjakan, meski tak curam. Juga harus pandai-pandai menjaga keseimbangan di tengah hilir-mudiknya truk-truk yang berlari kencang. 

Wuih, lumayan juga (capenya). Tapi ada gunanya juga aku berlatih kemarin, muter-muter di perumahan mewah Billabong, Parung --yang banyak di antaranya sudah ditinggalkan para penghuninya.

Kira-kira 35 menit, aku sampai di tempat penitipan motor yang berada persis di seberang pintu stasiun. Kusandarkan sepeda ontaku bersama sepeda lainnya.

Dalam keadaan baju basah kena keringat (basahnya bajuku seperti kalau naik motor terjebak kemacetan), aku menaiki KRL ekonomi. Klop. Selagi keringatan, masuk KRL, yang memang jadi ajang "mandi sauna" itu.  

Dari Stasiun Pasarminggu Baru, aku menuju kantor dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Ya, hari ini aku memulai hari pertama B2S (Bike to Station) satu arah. Pulangnya, tunggu ceritaku besok.


Posted by Tian on Mar 22, '07 8:51 AM for everyone
Link: http://gatra.com/artikel.php?id=103269

Usianya mendekati senja, tapi semangat tetap muda, bahkan "gila". Francois Pouliquen, 61 tahun, seorang pensiunan teknisi elektro asal Prancis, melakukan keliling dunia dengan menggunakan sepeda.

Link terkait: Jakarta di Mata Pengelana Prancis
Cek juga: www.unautretour.com

Foto: Dok PT Datascrip


Posted by Tian on Feb 19, '07 2:06 AM for everyone
Tadi pagi, setelah mengantar Fay ke sekolah, aku balik ke rumah, membawa sepeda ontaku ke bengkel sepeda untuk disetel peleknya yang benjol-benjol --sesuai rekomendasi bengkel langgananku. 

Ternyata, si tukang sepeda tak ada di tempat, sedang belanja ke Parung. Yang ada, tukang motor (montir bengkel motor, di sebelah bengkel sepeda). Dan terjadilah dialog ini:

Aku (A): Mau betulin pelek nih.
TM (tukang motor): tukang sepedanya lagi pergi. Mau ditunggu?
A: Iya. Ditunggu aja, Pak. Lagian masih capek? (sambil menghapus keringat)
TM: Mas, baru ngampung (mungkin maksudnya, datang dari kampung) nih? (mungkin melihat roda sepeda dan sepatu sandalku yang penuh lumpur)
A: Iya, dari kampung. Sasakpanjang. (menjawab apa adanya)
TM: Baru keliling? Dagang, apa tukang kredit?
A: Nggak. Keliling aja. (Dengan lugunya)
TM: Oh, lagi nyantai ya?
A: Iya.
(Nah, itu dia. Dengan melihat penampakan --mengenakan topi pet, tas pinggang, baju kaos, dan celana lapangan yang sudah kucel, plus sepatu sendal juga kucel-- dan tukang bengkel motor itu menilaiku sebagai tukang kredit. Makasih do'anya. Mudah-mudahan jadi tukang kredit selevel IMF atau Bank Dunia, biar zakatnya juga jauh lebih gede)

Mas Tukul "4 Mata" Arwana bilang, jangan liat casingnya, tapi liat sinyalnya dong!

Foto: Mbah Kakung naik sepeda (livefromcern.web)



Posted by Tian on Aug 6, '06 10:57 PM for everyone
Kalau Shanti bakal gantung sepeda (?) --setidaknya untuk sementara-- atas saran dokter demi kandungannya, aku malah mulai mengayuh pedal sepeda, setidaknya di komplek atau kampung sekitar tempat tinggalku di Bogor, di akhir pekan.

Sepeda "Onta" Miyata produksi 1963 itu [maaf, fotonya belum ada] pertama "dilaunching" --setelah dirakit karena dipreteli saat "diimpor" dari Bandung-- Rabu (2/8) sore. Setelah mengalami penyempurnaan sana-sini, sepeda itu pun bisa wara-wiri untuk keperluan jarak dekat, seperti ke warung.

Ternyata, melihat sepeda yang siap jalan, Fay, yang awalnya tak tertarik sama sekali sepeda ingin ikut. Padahal, sepeda itu belum ada boncengannya. Yah, terpaksa digunakan potensi yang ada. Fay pun kududukkan di setang, menghadap ke belakang. Jadi, wajah ketemu wajah, dan pandangan ke depan sedikit terhalang.

Alhasil, kami pun di akhir pekan itu berjalan-jalan keliling kampung. Tak kurang, jarang yang kutempuh pada perjalanan perdana itu sekitar 5 km, di jalanan bervariasi (datar aspal, datar berbatu, menanjak, dan menurun).

Wuih, lumayan juga ternyata, menarik sepeda yang tidak enteng, ditambah beban tambahan Fay (sekitar 26 kg), otot-otot kaki jadi keras lagi, sekeras dulu waktu masih gila ke gunung. Selain itu, otot lengan dan dada pun turut "terlatih", dan... pegal-pegal!

Tapi musti ada beberapa perbaikan, karena sepeda berkelir hitam itu masih belum pas. Seperti penggantian pelek depan-belakang (sudah karatan dan warnanya butek), penggantian karet rem dengan ban luar mobil (pake ban motor pun ternyata bisa) -supaya tahan lama, dan penyetelan sana-sini agar sepeda bertambah enteng dikayuh.

*Oya, berhubung itu sepeda jadul yang ukuran bannya 28 x 11/2, aku bisa belanja suku cadang karet bundar itu di bengkel becak di Depok. Ya, ban sepedaku pake ban becak! (depan: Swallow bertuliskan untuk "Becak Barang", belakang: GT/Gajah Tunggal bertuliskan untuk "Becak Angkutan"). Juga suku cadang lainnya... plek, sama persis dengan becak/gerobak.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help